Danau Matano adalah sebuah danau tektonik dengan ukuran panjang 28 kilometer dan lebar 8 kilometer di Sulawesi Selatan, tepatnya berada di ujung timur provinsi Sulawesi Selatan, berbatasan dengan Sulawesi Tengah. Danau ini berada sekitar 50 km dari kota Malili (Ibukota Kabupaten Luwu Timur).

Memiliki kedalaman sejauh 590 meter (1.969 kaki). Permukaan air danau berada pada ketinggian 382 meter di atas permukaan laut sehingga kedalaman air danau dari permukaan laut adalah 208 meter (cryptodepression).

Menurut WWF, danau ini adalah danau terdalam di Asia Tenggara serta terdalam kedelapan di dunia. Danau Matano terbentuk dari patahan (strike-slip fault) akibat aktivitas tektonik yang terjadi pada masa Pleosen.  Umur danau diperkirakan berkisar antara 1-4 juta tahun yang lalu.  Berdasarkan analisa karakteristik endapan, Danau Matano merupakan danau tertua di antara empat danau lainnya yang membentuk sistem danau Malili (Towuti, Mahalona, Masapi, Lontoa).

Dengan umur mencapai jutaan tahun, Danau Matano merupakan salah satu danau purba di dunia. Sampai saat ini para ilmuwan telah mengidentifikasi setidaknya 10 danau purba di dunia antara lain, Danau Matano, Danau Poso, Danau Biwa, Danau Baikal, Danau Kaspia, Danau Tanganyika, Danau Victoria, Danau Malawi, Danau Ohrid dan Danau Titicaca.

Danau Matano adalah danau yang unik karena kondisi  ekosistem dan keragaman hayati yang sangat endemis membuat Danau Matano dimasukkan dalam kategori Global Ecoregions oleh World Wide Fund for Nature.  Dari catatan Jurnal ilmiah Kelautan dan Perikanan, ada beberapa jenis hewan dan tumbuhan endemik yang hany ada di Danau Matano.

Tidak hanya itu, Danau Matano yang hangat merupakan danau yang minum oksigen tetapi  banyak mengandunf zat besi, sehingga kondisi ini merupakan para peneliti merupakan kondisi danau pada 2,5 jut atahun lampau atau pada masa Arhean Eon.

Jejak Peradaban Kuno

 

Beberapa hasil penelitian menemukan jejak peradaban kuno di Kawasan Danau Matano, salah satunya yang dilakukan oleh PPAN (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional) pada tahun 2016, temuan tembikar yang ada di dasar Danau matano, telah membuka sedikit tabir, diduga benda tersebut dari era Neolitikum (Zaman batu Muda sekitar 1.500-2.000 Sebelum masehi).

Kemudian desa Matano, yang terletak di kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur, diduga merupakan pusat kerajaan kuno Rahampu’u,   yang sudah dikenal sejak dulu sebagai pusat penghasil nickel dan bahan baku besi, kemudian oleh raja Luwu, bahan besi tersebut diolah dan di ekspor ke kerajaan Majapahit. Hal ini tertulis dalam kitab Negarakertagama.

Di Nusantara besi itu disebut Pamoro Luwu. Namun karena Matano tak memiliki teknologi, mereka hanya menyediakan bahan baku. Bahan-bahan itu dibawa ke Ussu, ibukota kerajaan Luwu, dan ditukarkan dengan kain dan barang kebutuhan lainnya. Orang-orang Ussu-lah yang menempa ulang besi itu menjadi parang, pedang, hingga badik dan keris. Kelak dalam sejarah panjang kerajaan Luwu hingga dalam teks I La Galigo, dikenallah istilah Bessi to Ussu –besi orang Ussu atau juga bessi Luwu.

Hal ini diperkuat dengan hasil awal penelitian pada tahun 1998-1999 yang dilakukan oleh beberapa arkelog yang tergabung dalam proyek penelitian The Origin of Complex Society in South Sulawesi (OXIS) kerjasama Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dengan Australian National University melakukan penggalian di perbukitan sekitar Desa Matano.

Di Desa Matano juga terdapat makam raja La Makandiu, menurut keterangan  penduduk asli terdiri dari 14 lapisan yang masing2nya dipisahkan dengan kulit sapi. Benda2 peninggalan di lapisan teratas sudah di jarah orang2 tidak bertanggungjawab tanpa diketahui pada sekitar tahun 1970an. Belum lagi paranormal2 pencari pusaka, logam mulia dan permata2 kuno.

Masih menurut keterangan orang2 tua penduduk asli desa Matano, sebelum tahun 1970 di bukit dimana lokasi makam tersebut berada juga ada 40 patung2 prajurit dengan ketinggian antara 1.8 – 2 meter sebagai penjaga. Kemudian di bukit yang nampak lebih tinggi dari bukit makam raja La Makandiu masih ada lagi kompleks makam yang lebih kuno lagi dari raja2 sebelumnya.

Kekayaan sumber daya alam yang ada, bukan hanya menghadirkan berkah bagi masyarakat di sekitar Danau Matano, tetapi juga melahirkan konflik berkepanjangan yang sudah terjadi sejak tahun 2000, konflik saling klaim lahan ini terjadi antara masyarajat di Nuha dan PT. Vale, yang dulu dikenal dengan PT.INCO.

Gempa dan Mitigasi Bencana

Pantai Salonso, Danau Matano. Foto : dok Wikipedia.

Sesar (patahan) Matano merupakan salah satu sesar yang aktif di daratan Sulawesi yang memanjang dengan arah barat laut – tenggara. Di daratan Sulawesi, sesar ini terukur sepanjang 170 km mulai dari daerah pantai Bahodopi di Teluk Tolo, ke arah barat laut melewati sepanjang lembah Sungai Larongsangi ke area di sebelah utara Desa Lampesue, Petea, sepanjang pantai Danau Matano, Desa Matano dan menyambung di barat laut dengan lembah Sungai Kalaena.

Meski masih menjadi perdebatan, beberapa ahli seperti Tjia dan Hamilton mempercayai bahwa sesar ini menyambung jauh ke timur dengan Sesar Sorong yang ada di Papua.  Sesar ini adalah sesar geser kiri dengan pergseran relative 5 mm/tahun.

 

Berdasarkan catatan gempa yang terjadi karena bergeraknya sesar Matano sebagai berikut :

 

NO TIME KEDALAM MAGNITUDE
1 DESEMBER 2014 10 KM 5.5
2 MAY 2012 10 5.1
3 NOVEMBER 2001 33 5.3
4 NOVEMBER 1980 46 5.6
5 MAY 2000 33 5.2
6 APRIL 2012 13 5.8
7 APRIL 2012 10 5.3
8 FEBRUARY 2011 16.2 6.1
9 JUNE 1995 63.7 5.3

 

Tentu pergerakan sesar ini perlu diwaspadai,  berdasarkan peristiwa sebelumnya, gempa-gempa yang pernah terjadi telah menelan korban jiwa dan juga harta benda. Untuk itu perlu dikembangkan strategi mistigasi bencana di wilayah-wilayah yang dilalui oleh sesar tersebut.

Tidak hanya itu kekayaan berupa situs dan juga peradaban kuno yang masih menjadi penelitian para Arkeolog, dapat menjadi sumber pengetahuan bagaimana masyarakat hidup kemudian tinggal dan bagaimana mereka merespon kejadian-kejadian bencana yang pernah terjadi, selain itu tentu ArkenAs juga akan menemukan strategi untuk menyelamatkan benda-benda berharga, sebelum terjadi gempa. (Trinirmalaningrum)

TENTENA, JELAJAH.CO- Setelah sukses melakukan Ekspedisi Sesar Palu Koro, Perkumpulan Skala bersama sejumlah lembaga kembali akan mengadakan Ekspedisi Poso, dimana Jelajah.co juga menjadi salah satu media partner yang ikut mensupport ekspedisi tersebut.

Trinirmalaningrum, dari Perkumpulan Skala sekaligus ketua Ekspedisi Palu Koro menjelaskan, ekspedisi Poso dilatar belakangi oleh peristiwa bencana di Pasigala (Palu-Donggala-Sigi) yang telah menelan korban lebih dari 4.000  dan kerugian lebih dari Rp 17 Triliun memberikan pelajaran berharga bagi masyarakat di sekitarnya, salah satunya di Poso.

Poso adalah alah satu wilayah yang kerap mengalami guncangan gumpa, menurut Reza Permadi, anggota Ikatan Ahli Geologi Indoneia, Poso dilalui oleh tiga sesar aktif, yaitu Sesar Poso Barat, Sesar Tokararu dan Sesar Poso Timur. Tiga sesar inilah yang di tengarai oleh Reza telah mengakibatkan guncangan beberapa lalu di wilayah Poso. Sehingga kesiapsiagaan memang perlu dibangun sejak dini, ungkapnya.

Trinirmalaningrum yang biasa dipanggil Rini ini menekankan pentingnya kesiap siagaan dibangun sejak dini.”Kita harus belajar dari pengalaman menanggani bencana dari wilayah lain. Untuk itulah Ekspedisi Poso yang segera akan dilaksanakan, menjadi salah satu bagian yangsangat penting,”jelasnya.

Ditemui di tengah persiapan Ekspedisi Poso, Reza dan Rini sepakat agar hasil-hasil temuan nantinya dari  ekspedisi Poso, dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin, untuk merancang kesiap siagaan di tingkat masyarakat.

Ekspedisi Poso,  kegiatan menyusuri wilayah-wilayah yang diperkirakan dilalui oleh sesar aktif di Poso, selain menyusuri wilayah, tim juga akan merekam jejak sejarah gempa di Poso, serta berbagai kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat terkait dengan upaya mitigasi bencana.

Uniknya ekspedisi Poso ini dengan dilibatkannya masyarakat sebagai anggota dari tim, sehingga memudahkan tim untuk mengidentifikasi berbagai model-model mitigasi dan juga upaya yang sudah dilakukan leh masyarakat dalam merespon bancana-bencana yang pernah terjadi.

“Ekspedisi Poso, rencananya, akan dilaksanakan Juni – November 2019, diharapkan pada saat Festival Mosintuwu, hasil-hasil temuan tim ekspedisi sudah bisa di luncurkan,”Ungkap Lian Gagoli dari Institut Mosintuwu.

Sementara Faunder Jelajah.co, Marwan Azis, sangat menyambut baik rencana Ekspedisi Poso dan siap menjadi salah satu support media  partner yang ikut mensupport ekspedisi tersebut.

“Jelajah.co sebagai startup yang fokus bergerak di aktivitas perjalanan wisata di Indonesia dan juga memiliki komitmen terhadap pelestarian lingkungan dan kepedulian terhadap isu pengurangan resiko bencana, tentu siap menjadi salah satu pihak yang support ekspedisi tersebut dari sisi publikasinya. Semoga persiapan ekspedisi Poso dan perjalanannya bisa berjalan lancar sesuai direncananya,” tandasnya.(RN/JC)

Keindahan alam Nusantara bagai surga di Bumi. Keindahan itu bahkan juga bisa disaksikan di bagian ujungnya, termasuk di Pulau Weh.

Pulau Weh yang juga dikenal dengan Sabang merupakan titik nol kilometer di Indonesia bagian barat. Sabang sendiri merupakan sebuah pulau vulkanik aktif di bagian barat laut Pulau Sumatra.

Sedangkan Kota Sabang merupakan pos terdepan di ujung utara Indonesia. Bagi wisatawan Indonesia, Sabang memang belum sepopuler Bali, Lombok, atau Yogyakarta.

Tapi ini tak jadi halangan buat traveler untuk menyambangi Pulau Weh. Banyak spot seru yang bisa kamu kunjungi di Sabang, Pulau Weh.

Apalagi ujung barat Indonesia ini juga memiliki banyak spot menyelam dan berselancar.

Dikutip dari TribunTravel, titik nol kilometer bagian Indonesia memiliki deretan spot wisata yang bisa kamu kunjungi di Pulau Weh.

1. Ujung Seuke, Sabang.

instagram.com/explore.sabang

2. Pantai Iboih, Sabang.

instagram.com/explore.sabang

3. Pantai Pasir Putih, Sabang.

instagram.com/explore.sabang

4. Pantai Sumur Tiga, Sabang.

instagram.com/explore.sabang

5. Benteng Jepang, Sabang.

instagram.com/explore.sabang

6. Goa Sarang, Sabang.

instagram.com/explore.sabang

7. Pantai Anoi Itam, Sabang.

instagram.com/explore.sabang

8. Tugu Nol Kilometer, Sabang.

instagram.com/hendigraphic

9. Bukit Klah, Sabang.

instagram.com/indahagness

10. Pantai Kasih, Sabang.

instagram.com/rubenmnk

11. Pantai Tapak Gajah

instagram.com/surga.nusantara

12. Pulau Rubiah

instagram.com/galingprima45

 

 

Peristiwa tsunami Aceh yang terjadi Minggu, 26 Desember 2004 itu menelan korban lebih dari 500 ribu nyawa. Selain itu, ribuan banguan hancur lebur. Benar-benar bencana yang menyedihkan, dan patut mengheningkan cipta sejenak untuk mendoakan korban tsunami tersebut.

Namun setelah bencana besar tersebut, pemerintah dan masyarakat tak berputus asa. Mereka bahu-membahu membangun kembali Aceh.

1. Monumen Aceh Thanks to the World di Lapangan Blang Padang

Foto : Disbudpar Aceh

Di sekeliling lapangan, didirikan monumen yang bertuliskan kata ‘Terima Kasih’ dan ‘Damai’ yang diterjemahkan ke dalam bahasa puluhan negara yang telah membantu Aceh. Sebagai tempat rekreasi, pengunjung biasanya berlari mengelilingi lapangan sambil menengok satu per satu monumen dengan tulisan kata tersebut. Di tempat ini juga banyak pedagang makanan yang menjajakan kuliner khas Aceh.

2. Kapal di Atas Rumah (Boat on the Roof)

Terletak di Lampulo, Banda Aceh. Ini merupakan situs peristiwa tsunami, yakni sebuah kapal feri yang berlabuh di atas atap rumah penduduk. Di dalam situs ini terdapat informasi detail tentang apa yang dialami kapal tersebut sewaktu peristiwa tsunami.

Kapal ini telah menyelamatkan 59 awak yang hendak bepergian ke Lhoksumawe pada pagi hari sesaat sebelum tsunami. Setelah diterpa badai tsunami, mereka berhasil selamat dengan berlabuh di atap rumah pasangan Misbah dan Abasiah. Konon sewaktu surut, salah satu awak kapal melihat seekor buaya besar berada di daratan bawah kapal.

3. Kapal PLTD Apung I

Foto : Serambi Indonesia

Letaknya di Desa Punge, Blang Cut, Jaya Baru, Banda Aceh. Sama seperti kapal sebelumnya, ini merupakan kapal yang terdampar ke tengah daratan. Bedanya, Kapal PLTD Apung I ini ukurannya lebih besar. Di sekitar pintu masuk situs ini terdapat monumen tsunami. Pengunjung dapat naik langsung ke bangkai kapal ini untuk melihat pemandangan kota dari atas kapal.

4. Taman Edukasi Tsunami

foto: nelva-amelia.blogspot.co.id

Taman Edukasi Tsunami berlokasi dekat dengan kapal PLTD Apung I. Memiliki luas 4500 meter kubik dan berlokasi di Desa Punge, Blang Cut, Jaya Baru, Banda Aceh. Taman ini menyediakan informasi tentang tsunami, kesaksian sejarah, serta foto-foto tsunami di Aceh. Selain itu, taman ini juga dilengkapi dengan fasilitas rekreasi, termasuk taman bermain, teater, dan fasilitas publik seperti rest area dan sebagainya.

5. Museum Tsunami

6. Masjid Baiturrahman, Banda Aceh

Foto: Steemit.com

Pada tahun 1612, masjid ini pertama kali dibangun pada masa Sultan Iskandar Muda, Kesultanan Aceh. Masjid ini merupakan salah satu masjid terbesar di Aceh. Ketika diterpa tsunami, bangunan masjid ini selamat dan hanya terdapat kerusakan kecil saja. Bahkan, ketika itu, masjid ini dijadikan tempat perlindungan masyarakat Aceh dari serbuan gelombang tsunami. Masjid ini berada di Jalan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.

7. Masjid Rahmatullah

Foto : IndonesiaKaya.com

Terletak di Pantai Lampuuk, Lhoknga, Aceh Besar, masjid ini juga selamat dari serangan badai tsunami. Pantai Lampuuk sendiri terkenal dengan pasir putihnya, dan mulai digunakan sebagai tempat selancar internasional. Saat tsunami, masjid Rahmatullah merupakan satu-satunya bangunan yang masih berdiri kokoh diantara puing-puing kehancuran bangunan lainnya, padahal jaraknya dengan bibir pantai hanya 500 meter. Fotonya pasca kejadian tsunami sangat epic, dan tersebar viral ke masyarakat dunia. Kini masjid ini dianggap sebagai saksi bisu paling dekat dengan peristiwa tsunami Aceh.

8. Kubah Masjid Al-Tsunami

Wisatasabang.com

Kubah masjid dengan berat 80 ton ini berada di Desa Gurah, Peukan Bada, Aceh Besar. Kini kubah tersebut dikenal dengan sebutan Kubah Masjid Al-Tsunami. Sebelumnya kubah ini merupakan kubah masjid jami’ di Desa Lamteungoh, Peukan Bada, Aceh Besar. Seluruh bangunan masjid jami rusak dan hanya menyisakan kubah berdiameter 4×4 meter ini. Dengan kekuatan gelombang tsunami, kubah itu terseret arus sejauh 2,5 kilometer dan beberapa orang dikabarkan selamat berada di dalamnya. Sekarang situs ini juga ramai dikunjungi sebagai tempat rekreasi.

Sumber : Brilio.