Oleh : Oleh: Puji Hastuti1  dan Nurida Maulidia2

Layaknya supermarket bencana, berbagai bencana terjadi di Indonesia, baik yang sifatnya geologi maupun hidrometeorologi. Posisi tepat berada pada patahan tiga lempeng tektonik sekaligus kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), menyebabkan Indonesia rentan terpapar gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, dan berbagai jenis bencana geologi lainnya. Namun, dibalik banyaknya bahaya yang mengancam, Indonesia memiliki pesona alam dan budaya yang tak tertandingi.

Hal ini tentunya mampu menarik hati wisatawan lokal maupun mancanegara, walaupun seringkali berlangsungnya aktivitas wisata masih mengabaikan risiko bencana. Wisatawan perlu sadar terhadap potensi bencana di daerah wisata yang akan dikunjungi, agar apa yang baru saja terjadi di Pandeglang-Banten pada akhir Desember 2018 lalu tidak terjadi lagi.

Pada bencana yang terjadi di Pandeglang-Banten, Badan Penanggulangan Nasional Bencana (BPNB) mencatat terdapat 437 korban tewas, 1.495 orang luka-luka, 159 orang hilang, dan 21.991 orang yang mengungsi di berbagai daerah. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, bahwa kebanyakan korban tewas adalah wisatawan. Hal ini mengingat bencana terjadi pada tanggal 22 Desember 2018, yang mana masuk dalam suasana libur panjang akhir pekan, cuti bersama, dan libur Natal.

Ditambah lagi, di Kabupaten Pandeglang terdapat kawasan wisata Tanjung Lesung yang menjadi tujuan wisata sebab menyimpan potensi keindahan pantai dan alam bawah laut yang beraneka ragam.

Berkaca dari kejadian tersebut, khususnya untuk daerah wisata, maka kita perlu memberi perhatian lebih kepada dua bencana biasanya terjadi secara tiba-tiba (disastrous surprises) (Marten 2001 dalam Abdoellah (2017: 220), yaitu gempa bumi dan tsunami. Kedatangan kedua bencana tersebut menjadi ancaman yang mengerikan sebab ketiadaan gejala yang pasti. Terlebih lagi, gempa bumi dan tsunami sendiri mengancam daerah wisata yang wilayahnya berdekatan dengan pesisir. Secara tidak langsung kedua bencana ini merupakan hambatan dan masalah dalam dunia pariwisata bahari Indonesia.

Menurut CIA World Factbook, Indonesia memiliki total garis pantai nomor dua terpanjang setelah Kanada, mencapai 80.000 km dan luas laut yang mencapai sekitar 3,1 juta km2. Namun penggunaan teknologi deteksi dini gempa dan tsunami masih sangat jauh tertinggal. Padahal, berdasarkan Kajian Data Pasar Wisatawan Nusantara oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pariwisata, tujuh dari sepuluh destinasi wisata prioritas Indonesia mengunggulkan ragam potensi bahari.

Jaminan terhadap keselamatan wisatawan di destinasi-destinasi tersebut tentunya harus menjadi yang utama. Oleh karena itu, membangun wisata bahari yang aman bagi wisatawan perlu didukung dengan tata kelola risiko bencana berfokus pada masyarakat (people-centered) yang melibatkan semua pihak, seperti wisatawan, masyarakat lokal, Organisasi Perangkat Daerah (OPD), pelaku usaha wisata, dan pemerintah di tingkat lokal.

Tata kelola risiko bencana dapat dilakukan dengan menyasar kepada wisatawan dan pelaku bisnis wisata. Untuk wisatawan dapat diberikan pembinaan atau pendidikan tanggap bencana, sedangkan kepada pelaku bisnis perlu ditunjang dengan adanya kebijakan dari pemerintah untuk mengatur ketersediaan fasilitas wisata (baik dalam bentuk layanan maupun infrastruktur) yang tersertifikasi siaga terhadap bencana.

Persiapan Sebelum Berwisata

Selain mempersiapkan bekal dalam berwisata, wisatawan juga perlu untuk membekali diri dengan pengetahuan mengenai bencana yang dapat terjadi di wisata pesisir pantai, yaitu gempa bumi dan tsunami. Kenali apa dan bagaimana gempa bumi dan tsunami dapat terjadi, dan pahami bahwa korban umumnya disebabkan karena tertimpa reruntuhan bangunan, perabotan, kebakaran, longsor, likuefaksi, dan kepanikan.

Selain itu, bekali diri dengan perilaku tanggap bencana dengan belajar melakukan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K), belajar menggunakan alat pemadam kebakaran, dan mencatat nomor telepon penting kedaruratan yang dapat dihubungi pada saat terjadi bencana. Perlu diketahui bahwa alat yang harus ada di setiap tempat antara lain adalah kotak P3K, senter atau lampu baterai, makanan suplemen, dan air minum.

Selain yang telah disebutkan di atas, terdapat pula beberapa kemungkinan kondisi dan posisi ketika terjadi bencana gempa bumi dan tsunami, yaitu:

  1. Jika berada di luar bangunan atau area terbuka, hindari bangunan dengan konstruksi yang mudah runtuh. Perhatikan tempat Anda berpijak dan hindari apabila terjadi rekahan tanah.
  2. Apabila sedang mengendarai mobil segera keluar, turun dan menjauh dari mobil. Segera menjauh ke tempat kosong atau lapang. Hindari apabila terjadi rekahan tanah dan kebakaran.
  3. Jika berada di pantai, jauhi pantai menuju ke tempat yang lebih tinggi untuk menghindari gelombang tsunami.
  4. Jika berada di daerah pegunungan, hindari daerah yang mungkin terjadi longsoran.
  5. Apabila wisatawan sedang berada di lautan, pergerakan yang aman ialah menuju lautan yang lebih dalam sebab tinggi gelombang tsunami di lautan dalam hanya setinggi sepuluh sentimeter dengan kecepatan rambat gelombangnya mencapai ratusan km/jam.

Berdasarkan gambaran situasi dan kondisi yang memungkinkan terjadinya bencana seperti yang dijelaskan di atas, maka wisatawan juga perlu mengenali jalur evakuasi bencana.

Kenali Jalur Evakuasi Bencana

Wisatawan harus menyadari tanggung jawab atas keselamatan diri di tempat asing melalui kesiapsiagaan diri, dalam hal ini akibat timbulnya bencana di pesisir pantai. Sesampainya di destinasi wisata, selain membuat daftar tempat-tempat instagramable untuk berfoto, seyogianya wisatawan harus memetakan titik-titik rawan bencana gempa dan tsunami di pesisir pantai.

Hal ini penting untuk dilakukan agar wisatawan mampu mengidentifikasi tempat aman dan jalur evakuasi saat terjadinya bencana, baik ketika di luar maupun dalam gedung. Pada saat di dalam gedung perhatikan letak pintu, lift, serta tangga darurat. Hal ini menjadi penting karena apabila terjadi gempa bumi, kita sebaiknya sudah mengetahui tempat paling aman untuk berlindung.

Pahami bahwa penyebab celaka yang paling banyak pada saat gempa bumi adalah akibat tertimpa reruntuhan benda material. Dengan pengetahuan yang baik mengenai hal ini, diharapkan dapat mengurangi kondisi panik pada wisatawan saat terjadinya bencana.

Perilaku Saat Terjadi Bencana

Penting untuk diingat, bahwa mayoritas bencana tsunami biasanya akan diawali dengan bencana gempa bumi. Apabila wisatawan merasakan guncangan gempa, diharapkan dapat langsung tanggap untuk menuju jalur evakuasi yang mengarah pada dataran tinggi. Bersumber dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terdapat tiga langkah tanggap gempa, atau yang biasa disebut dengan 3B, apabila posisi masih berada di dalam gedung, antara lain:

  1. Berlutut agar tubuh seimbang, sehingga tidak terjatuh akibat getaran gempa.
  2. Berlindung agar kepala aman dari bahaya benturan.

Lindungi kepala dan badan Anda dari reruntuhan bangunan dengan benda sekitar (misal bantal, buku tebal, dan lain lain). Usahakan mencari tempat yang aman dari reruntuhan (misal bersembunyi di bawah meja, berlindung di samping kasur tinggi, mesin cuci, atau benda kuat lainnya yang bisa memantulkan benda jatuh agar tidak mengenai Anda).

  1. Bertahan dan berpegangan hingga gempa berhenti.

Lari keluar apabila masih dapat dilakukan.

Apabila bukit dan dataran tinggi sulit dijangkau, wisatawan dapat pula berlindung pada bangunan tinggi berlantai dua sebagai alternatif evakuasi penyelamatan diri dari terjangan gelombang tsunami. Namun, perlu dipastikan bahwa bangunan tersebut dapat berdiri kokoh. Inilah arti penting dari sertifikasi bangunan tahan bencana yang menjadi program yang diusung oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Namun sayangnya, program ini belum memiliki fokus kepada sertifikasi bangunan di sektor wisata.

Alternatif penyelamatan lain adalah dengan memanjat pohon agar setidaknya tubuh mampu berpegangan kokoh sehingga tidak terombang-ambing oleh tsunami, mengingat tsunami biasanya terjadi lebih dari satu kali sapuan gelombang. Namun apabila tubuh terbawa sapuan gelombang tsunami, usahakan untuk segera mencari benda hanyut yang dapat dijadikan tumpuan untuk mengapung seperti kayu, batang pisang, jerigen, botol air mineral, ban mobil, maupun barang-barang lainnya yang dapat mengambang.

Pembelajaran dari tsunami Aceh (Yulianto, dkk. hlm.5), pengetahuan lokal smong menjadi penyelamat warga di Simeulue. Pengetahuan lokal tersebut merupakan pesan leluhur yang berisi petunjuk apabila terjadi gempa bumi kuat diikuti oleh surutnya air laut maka harus segera lari ke bukit atau tempat yang lebih tinggi.

Sebab, waktu tempuh getaran gempa hingga dapat memicu gelombang tsunami sampai pada tepian pantai rata-rata hanya butuh waktu 30 menit. Lain halnya apabila wisatawan sedang berada di lautan, justru pergerakan yang aman ialah menuju lautan yang lebih dalam sebab tinggi gelombang tsunami di lautan dalam hanya setinggi sepuluh sentimeter dengan kecepatan rambat gelombang mencapai ratusan km/jam.

Pergerakan ke arah perairan dangkal sampai pantai justru seperti berkejaran dengan gelombang tsunami yang besar akibat kecepatan rambat gelombangnya berkurang membuat gelombang tsunami bertambah besar.

Tata Kelola Risiko Bencana

Apabila keselamatan wisatawan menjadi sebuah prioritas bersama, maka pengelolaan risiko bencana harus dilakukan secara optimal dan terencana. Pengingkaran keselamatan hanya demi meraup untung dari kuantitas kunjungan wisatawan tak ubahnya menjadi retorika semu dunia pariwisata. Tindakan ini mempertaruhkan petaka duka atas bencana yang mengancam keselamatan jiwa.

Semestinya, pembelajaran dari bencana tsunami di pesisir Kabupaten Pandeglang mengingatkan kita bahwa pengingkaran risiko bencana untuk menjaga kestabilan kunjungan wisatawan berdampak pada tingginya jumlah korban jiwa yang berasal dari pengunjung wisata. Risiko bencana sebenarnya bisa dikelola dengan baik jika terbangun sinergi dari pelaku wisata, baik pemangku kepentingan dari sektor kebencanaan maupun pariwisata dari setiap kementerian, badan, dan lembaga, di tingkat pusat maupun daerah.

Setiap pelaku dan pemangku kepentingan pariwisata hendaknya mewajibkan pengetahuan kesiapsiagaan bencana, baik dalam segi pelayanan maupun infrastruktur dalam bentuk lisensi prosedur operasi standar. Lisensi ini akan membangun budaya tanggap bencana bagi kelompok pendukung pariwisata.

Pembelajaran dari Bali, sejak tahun 2013 Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali bersama 26 instansi lain, termasuk BMKG dan Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), melakukan sertifikasi kesiapsiagaan bencana kepada pelaku wisata dan usaha komersial.

Pelaku wisata mendapat sertifikat siaga bencana jika seluruh karyawannya telah mengikuti pelatihan. Dengan begitu, selain karyawan dapat menyelamatkan diri, mereka juga dilatih untuk mengevakuasi tamu.

Selain itu, para tamu dapat dengan mudah melakukan evakuasi mandiri sebab telah terpasang peta evakuasi dalam membantu mengetahui jalur penyelamatan diri. Dari sisi pemasaran, hotel bersertifikat siaga bencana sebenarnya juga dapat menambah nilai komersial yang dapat ditawarkan pada tamu.

Jadi apa yang kita tunggu? Marilah pemerintah dan masyarakat bersatu-padu membangun budaya tamasya yang tanggap bencana. Liburan yang aman pasti akan lebih menyenangkan.

Daftar Referensi

Abdoellah, Oekan S. 2017. Ekologi Manusia dan Pembangunan Berkelanjutan. Jakarta: Penerbit GPU

Ananta, Yanurisa. 2018.      BNPB: Banyak Wisatawan Jadi Korban Tsunami Selat Sunda. CNBC Indonesia (26 Desember 2018). https://www.cnbcindonesia.com/news/2018122614 2618-4-48010/bnpb-banyak-wisatawan-jadi-korban-tsunami-selat-sunda

Arif, Ahmad. 2019. Keindahan nan Berbahaya. Kompas Cetak (edisi Kamis, 3 Januari 2019).

CNN Indonesia. 2018. Korban Tewas Tsunami Selat Sunda Mayoritas Wisatawan. CNN Indonesia (31 Desember 2018) https://www.cnnindonesia.com/nasional/20181231145505-20-357548/korban-tewas-tsunami-selat-sunda-mayoritas-wisatawan

BPS, Kementerian Pariwisata. 2017. Kajian Data Pasar Wisatawan Nusantarahttp://www.kemenpar.go.id/userfiles/Publikasi%20Kajian%20Data%20Pasar%20Wisnus%202017.pdf

Kemenpar.go.id. 2014. Siaran Pers Seminar Nasional Pariwisata Bahari Indonesia: Harmonisasi Pertumbuhan Ekonomi, Kesejahteraan dan Pelestarian Lingkungan

Yulianto, Eko, dkk. (Tanpa Tahun) Selamat dari Bencana Tsunami, Pembelajaran dari Tsunami Aceh dan Pangandaran. Jakarta Tsunami Information Centre (JTIC) UNESCO House.

Gempa bumi dan Tsunami [Leaflet]. (n.d) Jakarta: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geografi.

Apa yang harus anda lakukan sebelum, saat, dan sesudah gempa bumi terjadi? [Leaflet] . (n.d) Jakarta: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geografi.

3 langkah Tanggap Tsunami [Leaflet]. (n.d) Jakarta: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geografi.

1 Penulis adalah Peneliti Ekologi Manusia Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

2.Penulis adalah Relawan Edukasi Bencana Komunitas StarSide

Sumber : indonesianyouthondrrblog

Danau Matano adalah sebuah danau tektonik dengan ukuran panjang 28 kilometer dan lebar 8 kilometer di Sulawesi Selatan, tepatnya berada di ujung timur provinsi Sulawesi Selatan, berbatasan dengan Sulawesi Tengah. Danau ini berada sekitar 50 km dari kota Malili (Ibukota Kabupaten Luwu Timur).

Memiliki kedalaman sejauh 590 meter (1.969 kaki). Permukaan air danau berada pada ketinggian 382 meter di atas permukaan laut sehingga kedalaman air danau dari permukaan laut adalah 208 meter (cryptodepression).

Menurut WWF, danau ini adalah danau terdalam di Asia Tenggara serta terdalam kedelapan di dunia. Danau Matano terbentuk dari patahan (strike-slip fault) akibat aktivitas tektonik yang terjadi pada masa Pleosen.  Umur danau diperkirakan berkisar antara 1-4 juta tahun yang lalu.  Berdasarkan analisa karakteristik endapan, Danau Matano merupakan danau tertua di antara empat danau lainnya yang membentuk sistem danau Malili (Towuti, Mahalona, Masapi, Lontoa).

Dengan umur mencapai jutaan tahun, Danau Matano merupakan salah satu danau purba di dunia. Sampai saat ini para ilmuwan telah mengidentifikasi setidaknya 10 danau purba di dunia antara lain, Danau Matano, Danau Poso, Danau Biwa, Danau Baikal, Danau Kaspia, Danau Tanganyika, Danau Victoria, Danau Malawi, Danau Ohrid dan Danau Titicaca.

Danau Matano adalah danau yang unik karena kondisi  ekosistem dan keragaman hayati yang sangat endemis membuat Danau Matano dimasukkan dalam kategori Global Ecoregions oleh World Wide Fund for Nature.  Dari catatan Jurnal ilmiah Kelautan dan Perikanan, ada beberapa jenis hewan dan tumbuhan endemik yang hany ada di Danau Matano.

Tidak hanya itu, Danau Matano yang hangat merupakan danau yang minum oksigen tetapi  banyak mengandunf zat besi, sehingga kondisi ini merupakan para peneliti merupakan kondisi danau pada 2,5 jut atahun lampau atau pada masa Arhean Eon.

Jejak Peradaban Kuno

 

Beberapa hasil penelitian menemukan jejak peradaban kuno di Kawasan Danau Matano, salah satunya yang dilakukan oleh PPAN (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional) pada tahun 2016, temuan tembikar yang ada di dasar Danau matano, telah membuka sedikit tabir, diduga benda tersebut dari era Neolitikum (Zaman batu Muda sekitar 1.500-2.000 Sebelum masehi).

Kemudian desa Matano, yang terletak di kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur, diduga merupakan pusat kerajaan kuno Rahampu’u,   yang sudah dikenal sejak dulu sebagai pusat penghasil nickel dan bahan baku besi, kemudian oleh raja Luwu, bahan besi tersebut diolah dan di ekspor ke kerajaan Majapahit. Hal ini tertulis dalam kitab Negarakertagama.

Di Nusantara besi itu disebut Pamoro Luwu. Namun karena Matano tak memiliki teknologi, mereka hanya menyediakan bahan baku. Bahan-bahan itu dibawa ke Ussu, ibukota kerajaan Luwu, dan ditukarkan dengan kain dan barang kebutuhan lainnya. Orang-orang Ussu-lah yang menempa ulang besi itu menjadi parang, pedang, hingga badik dan keris. Kelak dalam sejarah panjang kerajaan Luwu hingga dalam teks I La Galigo, dikenallah istilah Bessi to Ussu –besi orang Ussu atau juga bessi Luwu.

Hal ini diperkuat dengan hasil awal penelitian pada tahun 1998-1999 yang dilakukan oleh beberapa arkelog yang tergabung dalam proyek penelitian The Origin of Complex Society in South Sulawesi (OXIS) kerjasama Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dengan Australian National University melakukan penggalian di perbukitan sekitar Desa Matano.

Di Desa Matano juga terdapat makam raja La Makandiu, menurut keterangan  penduduk asli terdiri dari 14 lapisan yang masing2nya dipisahkan dengan kulit sapi. Benda2 peninggalan di lapisan teratas sudah di jarah orang2 tidak bertanggungjawab tanpa diketahui pada sekitar tahun 1970an. Belum lagi paranormal2 pencari pusaka, logam mulia dan permata2 kuno.

Masih menurut keterangan orang2 tua penduduk asli desa Matano, sebelum tahun 1970 di bukit dimana lokasi makam tersebut berada juga ada 40 patung2 prajurit dengan ketinggian antara 1.8 – 2 meter sebagai penjaga. Kemudian di bukit yang nampak lebih tinggi dari bukit makam raja La Makandiu masih ada lagi kompleks makam yang lebih kuno lagi dari raja2 sebelumnya.

Kekayaan sumber daya alam yang ada, bukan hanya menghadirkan berkah bagi masyarakat di sekitar Danau Matano, tetapi juga melahirkan konflik berkepanjangan yang sudah terjadi sejak tahun 2000, konflik saling klaim lahan ini terjadi antara masyarajat di Nuha dan PT. Vale, yang dulu dikenal dengan PT.INCO.

Gempa dan Mitigasi Bencana

Pantai Salonso, Danau Matano. Foto : dok Wikipedia.

Sesar (patahan) Matano merupakan salah satu sesar yang aktif di daratan Sulawesi yang memanjang dengan arah barat laut – tenggara. Di daratan Sulawesi, sesar ini terukur sepanjang 170 km mulai dari daerah pantai Bahodopi di Teluk Tolo, ke arah barat laut melewati sepanjang lembah Sungai Larongsangi ke area di sebelah utara Desa Lampesue, Petea, sepanjang pantai Danau Matano, Desa Matano dan menyambung di barat laut dengan lembah Sungai Kalaena.

Meski masih menjadi perdebatan, beberapa ahli seperti Tjia dan Hamilton mempercayai bahwa sesar ini menyambung jauh ke timur dengan Sesar Sorong yang ada di Papua.  Sesar ini adalah sesar geser kiri dengan pergseran relative 5 mm/tahun.

 

Berdasarkan catatan gempa yang terjadi karena bergeraknya sesar Matano sebagai berikut :

 

NO TIME KEDALAM MAGNITUDE
1 DESEMBER 2014 10 KM 5.5
2 MAY 2012 10 5.1
3 NOVEMBER 2001 33 5.3
4 NOVEMBER 1980 46 5.6
5 MAY 2000 33 5.2
6 APRIL 2012 13 5.8
7 APRIL 2012 10 5.3
8 FEBRUARY 2011 16.2 6.1
9 JUNE 1995 63.7 5.3

 

Tentu pergerakan sesar ini perlu diwaspadai,  berdasarkan peristiwa sebelumnya, gempa-gempa yang pernah terjadi telah menelan korban jiwa dan juga harta benda. Untuk itu perlu dikembangkan strategi mistigasi bencana di wilayah-wilayah yang dilalui oleh sesar tersebut.

Tidak hanya itu kekayaan berupa situs dan juga peradaban kuno yang masih menjadi penelitian para Arkeolog, dapat menjadi sumber pengetahuan bagaimana masyarakat hidup kemudian tinggal dan bagaimana mereka merespon kejadian-kejadian bencana yang pernah terjadi, selain itu tentu ArkenAs juga akan menemukan strategi untuk menyelamatkan benda-benda berharga, sebelum terjadi gempa. (Trinirmalaningrum)

TENTENA, JELAJAH.CO- Setelah sukses melakukan Ekspedisi Sesar Palu Koro, Perkumpulan Skala bersama sejumlah lembaga kembali akan mengadakan Ekspedisi Poso, dimana Jelajah.co juga menjadi salah satu media partner yang ikut mensupport ekspedisi tersebut.

Trinirmalaningrum, dari Perkumpulan Skala sekaligus ketua Ekspedisi Palu Koro menjelaskan, ekspedisi Poso dilatar belakangi oleh peristiwa bencana di Pasigala (Palu-Donggala-Sigi) yang telah menelan korban lebih dari 4.000  dan kerugian lebih dari Rp 17 Triliun memberikan pelajaran berharga bagi masyarakat di sekitarnya, salah satunya di Poso.

Poso adalah alah satu wilayah yang kerap mengalami guncangan gumpa, menurut Reza Permadi, anggota Ikatan Ahli Geologi Indoneia, Poso dilalui oleh tiga sesar aktif, yaitu Sesar Poso Barat, Sesar Tokararu dan Sesar Poso Timur. Tiga sesar inilah yang di tengarai oleh Reza telah mengakibatkan guncangan beberapa lalu di wilayah Poso. Sehingga kesiapsiagaan memang perlu dibangun sejak dini, ungkapnya.

Trinirmalaningrum yang biasa dipanggil Rini ini menekankan pentingnya kesiap siagaan dibangun sejak dini.”Kita harus belajar dari pengalaman menanggani bencana dari wilayah lain. Untuk itulah Ekspedisi Poso yang segera akan dilaksanakan, menjadi salah satu bagian yangsangat penting,”jelasnya.

Ditemui di tengah persiapan Ekspedisi Poso, Reza dan Rini sepakat agar hasil-hasil temuan nantinya dari  ekspedisi Poso, dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin, untuk merancang kesiap siagaan di tingkat masyarakat.

Ekspedisi Poso,  kegiatan menyusuri wilayah-wilayah yang diperkirakan dilalui oleh sesar aktif di Poso, selain menyusuri wilayah, tim juga akan merekam jejak sejarah gempa di Poso, serta berbagai kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat terkait dengan upaya mitigasi bencana.

Uniknya ekspedisi Poso ini dengan dilibatkannya masyarakat sebagai anggota dari tim, sehingga memudahkan tim untuk mengidentifikasi berbagai model-model mitigasi dan juga upaya yang sudah dilakukan leh masyarakat dalam merespon bancana-bencana yang pernah terjadi.

“Ekspedisi Poso, rencananya, akan dilaksanakan Juni – November 2019, diharapkan pada saat Festival Mosintuwu, hasil-hasil temuan tim ekspedisi sudah bisa di luncurkan,”Ungkap Lian Gagoli dari Institut Mosintuwu.

Sementara Faunder Jelajah.co, Marwan Azis, sangat menyambut baik rencana Ekspedisi Poso dan siap menjadi salah satu support media  partner yang ikut mensupport ekspedisi tersebut.

“Jelajah.co sebagai startup yang fokus bergerak di aktivitas perjalanan wisata di Indonesia dan juga memiliki komitmen terhadap pelestarian lingkungan dan kepedulian terhadap isu pengurangan resiko bencana, tentu siap menjadi salah satu pihak yang support ekspedisi tersebut dari sisi publikasinya. Semoga persiapan ekspedisi Poso dan perjalanannya bisa berjalan lancar sesuai direncananya,” tandasnya.(RN/JC)