Wisatawan Tanggap Bencana, Ini Mesti Dipersiapkan

Oleh : Oleh: Puji Hastuti1  dan Nurida Maulidia2

Layaknya supermarket bencana, berbagai bencana terjadi di Indonesia, baik yang sifatnya geologi maupun hidrometeorologi. Posisi tepat berada pada patahan tiga lempeng tektonik sekaligus kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), menyebabkan Indonesia rentan terpapar gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, dan berbagai jenis bencana geologi lainnya. Namun, dibalik banyaknya bahaya yang mengancam, Indonesia memiliki pesona alam dan budaya yang tak tertandingi.

Hal ini tentunya mampu menarik hati wisatawan lokal maupun mancanegara, walaupun seringkali berlangsungnya aktivitas wisata masih mengabaikan risiko bencana. Wisatawan perlu sadar terhadap potensi bencana di daerah wisata yang akan dikunjungi, agar apa yang baru saja terjadi di Pandeglang-Banten pada akhir Desember 2018 lalu tidak terjadi lagi.

Pada bencana yang terjadi di Pandeglang-Banten, Badan Penanggulangan Nasional Bencana (BPNB) mencatat terdapat 437 korban tewas, 1.495 orang luka-luka, 159 orang hilang, dan 21.991 orang yang mengungsi di berbagai daerah. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, bahwa kebanyakan korban tewas adalah wisatawan. Hal ini mengingat bencana terjadi pada tanggal 22 Desember 2018, yang mana masuk dalam suasana libur panjang akhir pekan, cuti bersama, dan libur Natal.

Ditambah lagi, di Kabupaten Pandeglang terdapat kawasan wisata Tanjung Lesung yang menjadi tujuan wisata sebab menyimpan potensi keindahan pantai dan alam bawah laut yang beraneka ragam.

Berkaca dari kejadian tersebut, khususnya untuk daerah wisata, maka kita perlu memberi perhatian lebih kepada dua bencana biasanya terjadi secara tiba-tiba (disastrous surprises) (Marten 2001 dalam Abdoellah (2017: 220), yaitu gempa bumi dan tsunami. Kedatangan kedua bencana tersebut menjadi ancaman yang mengerikan sebab ketiadaan gejala yang pasti. Terlebih lagi, gempa bumi dan tsunami sendiri mengancam daerah wisata yang wilayahnya berdekatan dengan pesisir. Secara tidak langsung kedua bencana ini merupakan hambatan dan masalah dalam dunia pariwisata bahari Indonesia.

Menurut CIA World Factbook, Indonesia memiliki total garis pantai nomor dua terpanjang setelah Kanada, mencapai 80.000 km dan luas laut yang mencapai sekitar 3,1 juta km2. Namun penggunaan teknologi deteksi dini gempa dan tsunami masih sangat jauh tertinggal. Padahal, berdasarkan Kajian Data Pasar Wisatawan Nusantara oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pariwisata, tujuh dari sepuluh destinasi wisata prioritas Indonesia mengunggulkan ragam potensi bahari.

Jaminan terhadap keselamatan wisatawan di destinasi-destinasi tersebut tentunya harus menjadi yang utama. Oleh karena itu, membangun wisata bahari yang aman bagi wisatawan perlu didukung dengan tata kelola risiko bencana berfokus pada masyarakat (people-centered) yang melibatkan semua pihak, seperti wisatawan, masyarakat lokal, Organisasi Perangkat Daerah (OPD), pelaku usaha wisata, dan pemerintah di tingkat lokal.

Tata kelola risiko bencana dapat dilakukan dengan menyasar kepada wisatawan dan pelaku bisnis wisata. Untuk wisatawan dapat diberikan pembinaan atau pendidikan tanggap bencana, sedangkan kepada pelaku bisnis perlu ditunjang dengan adanya kebijakan dari pemerintah untuk mengatur ketersediaan fasilitas wisata (baik dalam bentuk layanan maupun infrastruktur) yang tersertifikasi siaga terhadap bencana.

Persiapan Sebelum Berwisata

Selain mempersiapkan bekal dalam berwisata, wisatawan juga perlu untuk membekali diri dengan pengetahuan mengenai bencana yang dapat terjadi di wisata pesisir pantai, yaitu gempa bumi dan tsunami. Kenali apa dan bagaimana gempa bumi dan tsunami dapat terjadi, dan pahami bahwa korban umumnya disebabkan karena tertimpa reruntuhan bangunan, perabotan, kebakaran, longsor, likuefaksi, dan kepanikan.

Selain itu, bekali diri dengan perilaku tanggap bencana dengan belajar melakukan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K), belajar menggunakan alat pemadam kebakaran, dan mencatat nomor telepon penting kedaruratan yang dapat dihubungi pada saat terjadi bencana. Perlu diketahui bahwa alat yang harus ada di setiap tempat antara lain adalah kotak P3K, senter atau lampu baterai, makanan suplemen, dan air minum.

Selain yang telah disebutkan di atas, terdapat pula beberapa kemungkinan kondisi dan posisi ketika terjadi bencana gempa bumi dan tsunami, yaitu:

  1. Jika berada di luar bangunan atau area terbuka, hindari bangunan dengan konstruksi yang mudah runtuh. Perhatikan tempat Anda berpijak dan hindari apabila terjadi rekahan tanah.
  2. Apabila sedang mengendarai mobil segera keluar, turun dan menjauh dari mobil. Segera menjauh ke tempat kosong atau lapang. Hindari apabila terjadi rekahan tanah dan kebakaran.
  3. Jika berada di pantai, jauhi pantai menuju ke tempat yang lebih tinggi untuk menghindari gelombang tsunami.
  4. Jika berada di daerah pegunungan, hindari daerah yang mungkin terjadi longsoran.
  5. Apabila wisatawan sedang berada di lautan, pergerakan yang aman ialah menuju lautan yang lebih dalam sebab tinggi gelombang tsunami di lautan dalam hanya setinggi sepuluh sentimeter dengan kecepatan rambat gelombangnya mencapai ratusan km/jam.

Berdasarkan gambaran situasi dan kondisi yang memungkinkan terjadinya bencana seperti yang dijelaskan di atas, maka wisatawan juga perlu mengenali jalur evakuasi bencana.

Kenali Jalur Evakuasi Bencana

Wisatawan harus menyadari tanggung jawab atas keselamatan diri di tempat asing melalui kesiapsiagaan diri, dalam hal ini akibat timbulnya bencana di pesisir pantai. Sesampainya di destinasi wisata, selain membuat daftar tempat-tempat instagramable untuk berfoto, seyogianya wisatawan harus memetakan titik-titik rawan bencana gempa dan tsunami di pesisir pantai.

Hal ini penting untuk dilakukan agar wisatawan mampu mengidentifikasi tempat aman dan jalur evakuasi saat terjadinya bencana, baik ketika di luar maupun dalam gedung. Pada saat di dalam gedung perhatikan letak pintu, lift, serta tangga darurat. Hal ini menjadi penting karena apabila terjadi gempa bumi, kita sebaiknya sudah mengetahui tempat paling aman untuk berlindung.

Pahami bahwa penyebab celaka yang paling banyak pada saat gempa bumi adalah akibat tertimpa reruntuhan benda material. Dengan pengetahuan yang baik mengenai hal ini, diharapkan dapat mengurangi kondisi panik pada wisatawan saat terjadinya bencana.

Perilaku Saat Terjadi Bencana

Penting untuk diingat, bahwa mayoritas bencana tsunami biasanya akan diawali dengan bencana gempa bumi. Apabila wisatawan merasakan guncangan gempa, diharapkan dapat langsung tanggap untuk menuju jalur evakuasi yang mengarah pada dataran tinggi. Bersumber dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terdapat tiga langkah tanggap gempa, atau yang biasa disebut dengan 3B, apabila posisi masih berada di dalam gedung, antara lain:

  1. Berlutut agar tubuh seimbang, sehingga tidak terjatuh akibat getaran gempa.
  2. Berlindung agar kepala aman dari bahaya benturan.

Lindungi kepala dan badan Anda dari reruntuhan bangunan dengan benda sekitar (misal bantal, buku tebal, dan lain lain). Usahakan mencari tempat yang aman dari reruntuhan (misal bersembunyi di bawah meja, berlindung di samping kasur tinggi, mesin cuci, atau benda kuat lainnya yang bisa memantulkan benda jatuh agar tidak mengenai Anda).

  1. Bertahan dan berpegangan hingga gempa berhenti.

Lari keluar apabila masih dapat dilakukan.

Apabila bukit dan dataran tinggi sulit dijangkau, wisatawan dapat pula berlindung pada bangunan tinggi berlantai dua sebagai alternatif evakuasi penyelamatan diri dari terjangan gelombang tsunami. Namun, perlu dipastikan bahwa bangunan tersebut dapat berdiri kokoh. Inilah arti penting dari sertifikasi bangunan tahan bencana yang menjadi program yang diusung oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Namun sayangnya, program ini belum memiliki fokus kepada sertifikasi bangunan di sektor wisata.

Alternatif penyelamatan lain adalah dengan memanjat pohon agar setidaknya tubuh mampu berpegangan kokoh sehingga tidak terombang-ambing oleh tsunami, mengingat tsunami biasanya terjadi lebih dari satu kali sapuan gelombang. Namun apabila tubuh terbawa sapuan gelombang tsunami, usahakan untuk segera mencari benda hanyut yang dapat dijadikan tumpuan untuk mengapung seperti kayu, batang pisang, jerigen, botol air mineral, ban mobil, maupun barang-barang lainnya yang dapat mengambang.

Pembelajaran dari tsunami Aceh (Yulianto, dkk. hlm.5), pengetahuan lokal smong menjadi penyelamat warga di Simeulue. Pengetahuan lokal tersebut merupakan pesan leluhur yang berisi petunjuk apabila terjadi gempa bumi kuat diikuti oleh surutnya air laut maka harus segera lari ke bukit atau tempat yang lebih tinggi.

Sebab, waktu tempuh getaran gempa hingga dapat memicu gelombang tsunami sampai pada tepian pantai rata-rata hanya butuh waktu 30 menit. Lain halnya apabila wisatawan sedang berada di lautan, justru pergerakan yang aman ialah menuju lautan yang lebih dalam sebab tinggi gelombang tsunami di lautan dalam hanya setinggi sepuluh sentimeter dengan kecepatan rambat gelombang mencapai ratusan km/jam.

Pergerakan ke arah perairan dangkal sampai pantai justru seperti berkejaran dengan gelombang tsunami yang besar akibat kecepatan rambat gelombangnya berkurang membuat gelombang tsunami bertambah besar.

Tata Kelola Risiko Bencana

Apabila keselamatan wisatawan menjadi sebuah prioritas bersama, maka pengelolaan risiko bencana harus dilakukan secara optimal dan terencana. Pengingkaran keselamatan hanya demi meraup untung dari kuantitas kunjungan wisatawan tak ubahnya menjadi retorika semu dunia pariwisata. Tindakan ini mempertaruhkan petaka duka atas bencana yang mengancam keselamatan jiwa.

Semestinya, pembelajaran dari bencana tsunami di pesisir Kabupaten Pandeglang mengingatkan kita bahwa pengingkaran risiko bencana untuk menjaga kestabilan kunjungan wisatawan berdampak pada tingginya jumlah korban jiwa yang berasal dari pengunjung wisata. Risiko bencana sebenarnya bisa dikelola dengan baik jika terbangun sinergi dari pelaku wisata, baik pemangku kepentingan dari sektor kebencanaan maupun pariwisata dari setiap kementerian, badan, dan lembaga, di tingkat pusat maupun daerah.

Setiap pelaku dan pemangku kepentingan pariwisata hendaknya mewajibkan pengetahuan kesiapsiagaan bencana, baik dalam segi pelayanan maupun infrastruktur dalam bentuk lisensi prosedur operasi standar. Lisensi ini akan membangun budaya tanggap bencana bagi kelompok pendukung pariwisata.

Pembelajaran dari Bali, sejak tahun 2013 Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali bersama 26 instansi lain, termasuk BMKG dan Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), melakukan sertifikasi kesiapsiagaan bencana kepada pelaku wisata dan usaha komersial.

Pelaku wisata mendapat sertifikat siaga bencana jika seluruh karyawannya telah mengikuti pelatihan. Dengan begitu, selain karyawan dapat menyelamatkan diri, mereka juga dilatih untuk mengevakuasi tamu.

Selain itu, para tamu dapat dengan mudah melakukan evakuasi mandiri sebab telah terpasang peta evakuasi dalam membantu mengetahui jalur penyelamatan diri. Dari sisi pemasaran, hotel bersertifikat siaga bencana sebenarnya juga dapat menambah nilai komersial yang dapat ditawarkan pada tamu.

Jadi apa yang kita tunggu? Marilah pemerintah dan masyarakat bersatu-padu membangun budaya tamasya yang tanggap bencana. Liburan yang aman pasti akan lebih menyenangkan.

Daftar Referensi

Abdoellah, Oekan S. 2017. Ekologi Manusia dan Pembangunan Berkelanjutan. Jakarta: Penerbit GPU

Ananta, Yanurisa. 2018.      BNPB: Banyak Wisatawan Jadi Korban Tsunami Selat Sunda. CNBC Indonesia (26 Desember 2018). https://www.cnbcindonesia.com/news/2018122614 2618-4-48010/bnpb-banyak-wisatawan-jadi-korban-tsunami-selat-sunda

Arif, Ahmad. 2019. Keindahan nan Berbahaya. Kompas Cetak (edisi Kamis, 3 Januari 2019).

CNN Indonesia. 2018. Korban Tewas Tsunami Selat Sunda Mayoritas Wisatawan. CNN Indonesia (31 Desember 2018) https://www.cnnindonesia.com/nasional/20181231145505-20-357548/korban-tewas-tsunami-selat-sunda-mayoritas-wisatawan

BPS, Kementerian Pariwisata. 2017. Kajian Data Pasar Wisatawan Nusantarahttp://www.kemenpar.go.id/userfiles/Publikasi%20Kajian%20Data%20Pasar%20Wisnus%202017.pdf

Kemenpar.go.id. 2014. Siaran Pers Seminar Nasional Pariwisata Bahari Indonesia: Harmonisasi Pertumbuhan Ekonomi, Kesejahteraan dan Pelestarian Lingkungan

Yulianto, Eko, dkk. (Tanpa Tahun) Selamat dari Bencana Tsunami, Pembelajaran dari Tsunami Aceh dan Pangandaran. Jakarta Tsunami Information Centre (JTIC) UNESCO House.

Gempa bumi dan Tsunami [Leaflet]. (n.d) Jakarta: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geografi.

Apa yang harus anda lakukan sebelum, saat, dan sesudah gempa bumi terjadi? [Leaflet] . (n.d) Jakarta: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geografi.

3 langkah Tanggap Tsunami [Leaflet]. (n.d) Jakarta: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geografi.

1 Penulis adalah Peneliti Ekologi Manusia Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

2.Penulis adalah Relawan Edukasi Bencana Komunitas StarSide

Sumber : indonesianyouthondrrblog

Comments

Tinggalkan Balasan