• Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy
Rabu, 4 Februari 2026
Kirimi Artikel Yukk  
www.jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
No Result
View All Result
Jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
Home Nusantara Lampung

Singkong di Tepi Revolusi Digital: Petani Berteriak, Harga Berbisik

Redaksi by Redaksi
9 Desember 2024
in Lampung, Pemerintahan
A A
Share on FacebookShare on Twitter

TULANG BAWANG BARAT – Dalam era digital serba cepat, di mana transaksi miliaran bisa terjadi dalam satu klik, para petani singkong di Tulang Bawang Tengah justru menghadapi kenyataan pahit yang terasa seperti layar ponsel yang retak—mereka tetap terjebak di pusaran masalah klasik: harga jual rendah dan permainan angka pada kadar air.

Senin (09/12/2024), di bawah langit mendung, puluhan petani singkong berkumpul di depan PT. Budi Starch & Sweetener Tbk. Penumangan. Tuntutan mereka sederhana, tetapi menyimpan ironi besar: menaikkan harga singkong, memperbaiki timbangan, dan mengurangi potongan kadar air. Seolah-olah, petani-petani ini adalah pemain game tanpa cheat code, terjebak dalam level yang tak kunjung selesai.

Harga singkong di Tulang Bawang Barat saat ini sedang mengalami penurunan yang signifikan. Berdasarkan laporan, perusahaan membeli singkong dengan harga sekitar Rp1.200 per kilogram. Namun, dengan potongan kadar air (rafaksi) yang mencapai 26-28 persen, petani hanya menerima sekitar Rp840 per kilogram. Setelah dipotong biaya tambahan seperti ongkos cabut dan transportasi, pendapatan bersih petani bahkan lebih rendah, yaitu sekitar Rp670 per kilogram.

BACA JUGA

Bersinergi dengan Honda, Karang Taruna Way Urang Gelar Servis Motor Gratis

2 Februari 2026

Triga Lampung Kembali Turun ke Jakarta, Bidik SGC

1 Februari 2026

Kondisi ini menjadi beban berat bagi petani, terutama karena biaya produksi singkong, termasuk pupuk non-subsidi, cukup tinggi. Misalnya, pupuk Mutiara mencapai Rp900 ribu per sak (50 kg) dan Phonska sekitar Rp600 ribu per sak. Untuk satu hektar, petani memerlukan 3-5 kuintal pupuk, yang semakin memperberat modal tanam mereka.

“Dengan harga seperti ini, jangankan untung, untuk balik modal saja sulit,” ujar Naswan, salah satu petani. Harga ideal yang diharapkan petani adalah Rp1.500 per kilogram, agar setidaknya mereka bisa mendapatkan pendapatan bersih sekitar Rp1.000 per kilogram. Dengan kondisi harga seperti saat ini, banyak petani merasa tidak mampu menutup biaya produksi, sehingga mereka mendesak pemerintah untuk mencari solusi.

**Timbangan Analog di Era Digital**
Di masa ketika e-wallet bisa menghitung hingga pecahan terkecil tanpa cela, para petani justru berhadapan dengan timbangan yang terasa seperti mesin arcade usang. “Kami butuh timbangan digital yang adil, bukan permainan angka yang merugikan kami,” keluh seorang petani.

**Pertarungan Mikro dan Makro**
Bayangkan dunia di mana startup unicorn bisa memutar ekonomi dengan ide sederhana, tetapi petani singkong harus berteriak keras hanya untuk kenaikan beberapa rupiah per kilogram. Di sinilah keadilan ekonomi terasa timpang, ibarat sinyal Wi-Fi yang penuh di kota, tetapi lemah di pedesaan.

**Mimpi Singkong di Masa Depan**
Di tengah kemelut, aksi ini memberi harapan bahwa perubahan itu mungkin. Jika perusahaan bersedia mendengar, mungkin singkong bisa menjadi produk lokal yang tak hanya “manis di industri,” tetapi juga menguntungkan petaninya.

Seperti halnya transformasi digital, perubahan dalam dunia pertanian juga memerlukan sinergi semua pihak. Petani, perusahaan, dan pemerintah harus menyalakan visi bersama, menjadikan singkong lebih dari sekadar komoditas—melainkan simbol kebangkitan ekonomi yang adil. (Aby)

 

Previous Post

KPK Selidiki Dugaan KKN Pergub Tebu, AKAR Lampung Siap Kawal Proses Hukum

Next Post

FKWKP Pringsewu Apresiasi Kerjasama Media dengan Pemerintahan Pekon

Redaksi

Redaksi

Redaksi www.jelajah.co

BERITA POPULER

Parkiran Apartemen Tokyo PIK 2 Terendam Banjir, Klaim ‘Anti Banjir’ Jebol Bikin Saham PANI Anjlok Hampir 6 Persen

13 Januari 2026

Serukan Penolakan BUP Luar, Warga Adat Kalahien Gelar Aksi di Jembatan Barito: “Kami Siap Melawan”

19 Januari 2026

Dinda Ghania Selebritas Cantik Putri Senator Senior Punya Segudang Prestasi

30 November 2025

‎Lebih dari 980 Eks Karyawan KB Bank Protes Hak PHK yang Belum Tuntas ‎ ‎

24 Desember 2025

Hampir Setahun Memimpin, Aktivis Nilai Kinerja Bupati Lampung Utara Jauh dari Janji Kampanye

12 Januari 2026

Bersinergi dengan Honda, Karang Taruna Way Urang Gelar Servis Motor Gratis

2 Februari 2026
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.