• Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy
Minggu, 22 Maret 2026
Kirimi Artikel Yukk  
www.jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
No Result
View All Result
Jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
Home Lainnya

Ketika Jalan Tol Dianggap Panggung, dan Nyawa Hanya Properti Konten

Redaksi by Redaksi
15 Juli 2025
in Lainnya, Lampung
A A
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: (Cut Habibi)

“Aura farming” bukan sekadar tren dadakan di media sosial. Ia berakar dari sebuah tradisi budaya yang sangat dihormati: Pacu Jalur, perlombaan mendayung perahu panjang di atas Sungai Kuantan yang sudah ada sejak abad ke-17 di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau.

Dalam ajang Pacu Jalur, terdapat satu sosok penting di ujung perahu, seorang anak atau remaja yang menari-nari penuh semangat sambil memainkan gerakan tubuh untuk menyemangati para pendayung. Sosok ini dikenal sebagai “pembangkit aura.” Gerakannya khas, penuh energi, dan memiliki makna: membakar semangat tim, bukan mempertontonkan keberanian tanpa arah.

BACA JUGA

UIN Raden Intan Dirikan Posko Ramah Pemudik di Masjid Raya Airan

19 Maret 2026

Aktivis KontraS Disiram Air Keras, Triga Lampung Sebut Teror Demokrasi

18 Maret 2026

Tren ini lalu viral, diikuti selebriti, pesohor, hingga pesepakbola internasional. Namun, inilah titik kritisnya, ketika tren budaya luhur kehilangan konteks dan disalahartikan demi eksistensi digital. Bukannya membangkitkan semangat, malah membahayakan keselamatan.

Kasus yang terjadi di Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) KM 58 Jalur B adalah contoh telanjang dari penyimpangan tersebut. Remaja duduk di atas kap mobil yang melaju, bergaya bak penari aura farming di tengah jalan tol, tanpa pengaman. Viral? Ya. Membanggakan? Jelas tidak. Apalagi jalan tol bukan ruang pertunjukan. Ini adalah zona kecepatan tinggi yang rentan bahaya, bukan panggung seni.

Beruntung, Ditlantas Polda Lampung bergerak cepat. Tak hanya menjatuhkan sanksi maksimal berupa tilang dan ancaman pidana, mereka juga menghadirkan pendekatan edukatif. Para pelanggar dipanggil, diminta membuat permintaan maaf dan diberi pemahaman tentang keselamatan berkendara. Langkah ini layak diapresiasi bukan semata menghukum, tapi juga memulihkan.

Namun, langkah seperti ini seharusnya tidak bersifat reaktif saja. Pendidikan lalu lintas perlu menyasar ekosistem digital, tempat tren-tren ini lahir dan menyebar. Kampanye keselamatan tak cukup di ruang formal, harus pula masuk ke ruang-ruang komunitas, kanal YouTube otomotif, hingga TikTok edukatif.

Kita pun tidak bisa hanya menyalahkan pelaku. Komunitas otomotif, kreator konten, hingga penonton punya tanggung jawab moral untuk tidak mengglorifikasi aksi sembrono. Jika budaya bisa diangkat oleh viralitas, maka edukasi dan etika pun seharusnya bisa ditanamkan melalui jalur yang sama.

Pada akhirnya, tren positif akan tetap positif jika dipahami secara utuh dan digunakan pada tempatnya. Sayangnya, ketika gengsi di jalan tol dibayar dengan nyawa, nilai budaya pun ikut tercoreng. Ini saatnya kita bertanya ulang: lebih penting mana, viralitas atau keselamatan?

 

Previous Post

Raih 10 Medali di IPSI Championship II, Pagar Nusa Madarijul Ulum Ukir Prestasi Gemilang

Next Post

RDPU Memanas!!! DPR-RI Perintahkan Ukur Ulang Lahan PT SGC 

Redaksi

Redaksi

Redaksi www.jelajah.co

BERITA POPULER

Berkah Ramadan, HKSL Lampung Perkuat Kepedulian Sosial Lewat Santunan dan Buka Puasa Bersama

8 Maret 2026

ALAK Soroti Dugaan Manipulasi Anggaran dan Mark Up Pengadaan di Puskesmas Pringsewu

6 Maret 2026

Mengenal Fathan Subchi, Dari Anggota DPR RI Hingga BPK RI

24 Februari 2025

Lebaran: Antara Iklan Sirup dan Realita yang ‘Pixelated’

13 Maret 2026

Dinda Ghania Selebritas Cantik Putri Senator Senior Punya Segudang Prestasi

30 November 2025

Parkiran Apartemen Tokyo PIK 2 Terendam Banjir, Klaim ‘Anti Banjir’ Jebol Bikin Saham PANI Anjlok Hampir 6 Persen

13 Januari 2026
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.