• Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy
Rabu, 15 April 2026
Kirimi Artikel Yukk  
www.jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
No Result
View All Result
Jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
Home Sudut Pandang

Aktivisme Tanpa Presisi, Kekerasan Tanpa Solusi

Redaksi by Redaksi
28 Februari 2026
in Sudut Pandang
A A
Cut habibi (Sekretaris DPD AWPI Provinsi Lampung)

Cut habibi (Sekretaris DPD AWPI Provinsi Lampung)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Cut Habibi (Sekretaris DPD AWPI Lampung)

Tragedi pembunuhan terhadap seorang mahasiswi di UIN Sultan Syarif Kasim Riau yang dilakukan oleh rekan sesama mahasiswa kembali mengguncang ruang publik. Duka bercampur amarah, empati bercampur ketakutan. Namun, di tengah gelombang respons tersebut, muncul satu persoalan serius yang luput dibahas: cara kita membaca kekerasan itu sendiri.

Sebagian respons aktivisme perempuan di media sosial justru terjebak pada narasi yang simplistis dan emosional. Kalimat seperti “cuma karena sering ngingetin makan” atau “serba salah jadi perempuan” beredar luas dan diterima tanpa jarak kritis. Niatnya mungkin empati, tetapi dampaknya justru problematik.

BACA JUGA

Oplus_16908288

Emas Kotor dari Way Kanan: Jejak Sunyi yang Berujung di Etalase Kota

12 April 2026

Negara Restui Petani Way Kanan Jadi Tumbal

4 April 2026

Perhatian dasar mengingatkan seseorang untuk makan bukanlah undangan cinta, apalagi pembenar kekerasan. Ketika tragedi pembunuhan direduksi menjadi akibat dari perhatian yang “disalahartikan”, maka yang terjadi adalah pergeseran logika berbahaya: seolah-olah sikap korban ikut berkontribusi pada kekerasan yang menimpanya. Ini bukan pembelaan korban, melainkan pembingkaian yang keliru.

Kesalahan berikutnya adalah kecenderungan menjadikan kekerasan ekstrem sebagai semata-mata produk relasi gender. Pembunuhan dengan kapak bukanlah “drama penolakan cinta”, melainkan kejahatan berat yang melibatkan kegagalan kontrol emosi, kemungkinan gangguan psikologis, dan tanggung jawab individual pelaku. Ketika semua itu disapu bersih oleh slogan patriarki, maka kejahatan justru kehilangan bobot seriusnya.

Ironisnya, aktivisme semacam ini juga berpotensi menciptakan ketakutan baru bagi perempuan itu sendiri. Pesan implisit yang sampai ke publik adalah: perempuan harus berhati-hati untuk bersikap baik. Empati menjadi sesuatu yang mencurigakan, perhatian menjadi risiko. Padahal, masyarakat yang sehat justru dibangun dari relasi manusiawi yang wajar bukan dari rasa takut yang dipelihara.

Yang lebih mengkhawatirkan, korban perlahan berubah dari manusia konkret menjadi simbol ideologis. Namanya hilang, kisah hidupnya mengabur, digantikan narasi besar yang ingin dibenarkan. Dalam situasi seperti ini, penderitaan korban tidak lagi diperlakukan sebagai tragedi yang harus dipahami secara utuh, melainkan sebagai alat untuk menguatkan posisi moral tertentu.

Aktivisme sejatinya bertujuan mencari solusi, bukan sekadar melampiaskan kemarahan. Tanpa presisi analisis, aktivisme kehilangan arah dan berisiko memperpanjang kebingungan publik. Kekerasan tidak akan berkurang hanya dengan slogan; ia menuntut pemahaman yang jujur, pendidikan emosi, penegakan hukum yang tegas, dan keberanian untuk menyebut pelaku sebagai pelaku tanpa mencari-cari justifikasi simbolik.

Membela korban tidak berarti menanggalkan akal sehat. Justru dengan nalar yang jernih, empati bisa bekerja lebih adil. Sebab, kekerasan yang dibaca secara keliru hanya akan melahirkan ketakutan baru, bukan solusi. Dan aktivisme yang kehilangan presisi, pada akhirnya, hanya akan meninggalkan luka yang sama tanpa pernah benar-benar menyembuhkannya.

Previous Post

Bukber Pemkab Barsel Pererat Silaturahmi Ramadan

Next Post

Santunan dan Buka Bersama di Kwitang, Brimob PMJ Hadirkan Kepedulian Nyata untuk Anak Yatim

Redaksi

Redaksi

Redaksi www.jelajah.co

BERITA POPULER

Negara Restui Petani Way Kanan Jadi Tumbal

4 April 2026

Dinda Ghania Selebritas Cantik Putri Senator Senior Punya Segudang Prestasi

30 November 2025

Mengenal Fathan Subchi, Dari Anggota DPR RI Hingga BPK RI

24 Februari 2025

‎Lebih dari 980 Eks Karyawan KB Bank Protes Hak PHK yang Belum Tuntas ‎ ‎

24 Desember 2025

Parkiran Apartemen Tokyo PIK 2 Terendam Banjir, Klaim ‘Anti Banjir’ Jebol Bikin Saham PANI Anjlok Hampir 6 Persen

13 Januari 2026

SOKSI Kota Bekasi Deklarasi Dukungan Mutlak untuk Ranny Fahd Arafiq di Musda Golkar

11 April 2026
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.