MOROWALI – Konflik agraria di wilayah Kecamatan Bungku Pesisir, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, kembali memanas hingga berujung pada aksi anarkis. Kantor milik perusahaan tambang PT Roda Cakra Buana (RCP) dilaporkan hangus dibakar oleh sekelompok massa pada Minggu (4/1/2026). Insiden ini dipicu oleh kemarahan warga atas penangkapan paksa seorang aktivis lingkungan setempat, Arlan Dahrin.
Kericuhan bermula ketika aparat kepolisian menjemput paksa Arlan Dahrin, yang selama ini mendampingi warga dalam sengketa lahan dengan perusahaan. Massa yang tidak terima kemudian mendatangi lokasi perusahaan untuk menuntut pembebasan rekan mereka. Situasi memanas ketika tuntutan tersebut tidak mendapat jawaban pasti, hingga akhirnya massa melampiaskan emosi dengan membakar fasilitas kantor.
Salah seorang warga Desa Torete yang ikut dalam aksi tersebut menegaskan bahwa tindakan warga adalah bentuk akumulasi kekecewaan terhadap aparat yang dinilai tebang pilih.
“Tujuan kami datang ke sini hanya satu, meminta agar Arlan Dahrin dibebaskan. Dia bukan koruptor, dia bukan teroris. Kenapa sampai ditangkap seperti penjahat besar? Sementara para mafia tanah yang jelas-jelas merugikan kami justru dibiarkan berkeliaran,” ujar salah seorang perwakilan warga yang enggan disebutkan namanya di lokasi kejadian, Minggu (4/1/2026).
Menanggapi insiden pembakaran tersebut, pihak kepolisian segera melakukan pengamanan ketat di sekitar lokasi. Polres Morowali membenarkan adanya aksi perusakan dan pembakaran aset perusahaan tersebut. Polisi menyatakan telah mengambil langkah tegas dengan mengamankan sejumlah orang yang diduga sebagai provokator aksi.
“Benar telah terjadi pembakaran fasilitas kantor di area PT RCP. Saat ini situasi sudah bisa kami kendalikan. Kami juga sudah mengamankan tiga orang terduga pelaku untuk dimintai keterangan lebih lanjut terkait peran mereka dalam pembakaran ini,” ungkap Kasi Humas Polres Morowali dalam keterangan persnya kepada awak media.
Polisi menyayangkan aksi penyampaian aspirasi yang berujung pada tindak pidana perusakan. Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk menahan diri dan tidak terprovokasi oleh isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, serta menyerahkan sepenuhnya proses hukum Arlan Dahrin kepada penyidik. Hingga berita ini diturunkan, ratusan personel gabungan masih disiagakan di lokasi untuk mengantisipasi aksi susulan. (Red)






