• Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy
Rabu, 4 Februari 2026
Kirimi Artikel Yukk  
www.jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
No Result
View All Result
Jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
Home Sudut Pandang

Dari Panas Membara ke Banjir Bandang: Lampung di Persimpangan Krisis Iklim

Redaksi by Redaksi
17 September 2025
in Sudut Pandang
A A
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Cut Habibi (Pemred Jelajah.co)

Bandar Lampung sempat masuk daftar kota terpanas keempat di Asia Tenggara, dengan suhu ekstrem mencapai 37°C. Hanya berselang beberapa pekan, hujan deras mengguyur sebagian besar wilayah Lampung, memicu banjir dan longsor di Tanggamus, Lampung Barat, Pesisir Barat, Mesuji, hingga Pesawaran. Dua ekstrem cuaca dalam satu bulan ini menjadi tanda jelas: iklim di Lampung sedang berubah drastis.

Warga Mengungsi, Rumah Terendam

Di Tanggamus, banjir pada 6–13 September lalu merendam ratusan rumah dan memaksa sedikitnya 200 jiwa mengungsi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 166 rumah terdampak, dengan Kecamatan Cukuh Balak sebagai salah satu titik terparah.

BACA JUGA

Cut habibi (Sekretaris DPD AWPI Provinsi Lampung)

Makan Gratis dan Tanggung Jawab yang Selalu Menguap

3 Februari 2026
Cut habibi (Sekretaris DPD AWPI Provinsi Lampung)

Ketika Ela “Mengelak”

1 Februari 2026

“Air masuk cepat sekali, kami tidak sempat menyelamatkan barang-barang. Malam itu kami hanya lari ke tempat yang lebih tinggi,” ujar seorang warga yang rumahnya terendam.

Di lokasi lain, longsor menutup jalan utama dan memutus akses antar pekon. Saluran air yang terlalu sempit menjadi penyebab utama banjir meluap ke pemukiman.

Bukan Sekadar Cuaca

Banjir bandang dan panas ekstrem sering dianggap sebagai gejala alam biasa. Namun, jika ditelusuri lebih jauh, ada faktor struktural yang memperparah bencana. Pembukaan lahan tanpa kendali, drainase buruk, hingga lemahnya sistem peringatan dini menjadikan masyarakat korban berulang.

Pemerintah daerah memang turun ke lapangan setelah bencana: memberikan bantuan logistik, meninjau lokasi, bahkan berjanji memperbaiki fasilitas. Namun langkah pencegahan nyaris tak terlihat. Tidak ada sistem pemetaan daerah rawan yang dijadikan panduan pembangunan, tidak ada edukasi berkelanjutan bagi masyarakat, dan tidak ada transparansi dalam tata kelola ruang.

Lampung di Persimpangan Iklim

Kini, Lampung berada di persimpangan. Apakah kita akan terus membiarkan bencana silih berganti tanpa mitigasi? Atau berani menempatkan isu lingkungan sebagai prioritas utama?

Restorasi hutan di daerah hulu, normalisasi sungai, perbaikan saluran air di pekon, hingga penguatan desa tangguh bencana harus segera diwujudkan. Kebijakan pembangunan yang hanya berorientasi pada ekspansi ekonomi, tanpa memperhitungkan daya dukung lingkungan, hanya akan mempercepat siklus bencana.

Refleksi

Fenomena panas membara yang berubah menjadi banjir bandang hanya dalam hitungan pekan adalah alarm keras bagi masyarakat Lampung. Krisis iklim tidak lagi abstrak atau jauh di belahan dunia lain. Ia nyata, ada di halaman rumah warga, dan merenggut rasa aman kita.

Saat langit Lampung kadang menyengat, kadang menumpahkan air tanpa ampun, satu pertanyaan harus kita gaungkan: apakah kita mau terus menyalahkan alam, atau berani bercermin bahwa kelalaian kita sendiri yang memperbesar bencana?

Previous Post

Triga Lampung Siap Geruduk Bank Lampung, Desak Reformasi Total dan Bongkar Dugaan Fraud

Next Post

Triga Lampung Geruduk Bank Lampung, Desak Reformasi Total dan Ungkap 7 Skandal

Redaksi

Redaksi

Redaksi www.jelajah.co

BERITA POPULER

Parkiran Apartemen Tokyo PIK 2 Terendam Banjir, Klaim ‘Anti Banjir’ Jebol Bikin Saham PANI Anjlok Hampir 6 Persen

13 Januari 2026

Serukan Penolakan BUP Luar, Warga Adat Kalahien Gelar Aksi di Jembatan Barito: “Kami Siap Melawan”

19 Januari 2026

Dinda Ghania Selebritas Cantik Putri Senator Senior Punya Segudang Prestasi

30 November 2025

Hampir Setahun Memimpin, Aktivis Nilai Kinerja Bupati Lampung Utara Jauh dari Janji Kampanye

12 Januari 2026

‎Lebih dari 980 Eks Karyawan KB Bank Protes Hak PHK yang Belum Tuntas ‎ ‎

24 Desember 2025

Bersinergi dengan Honda, Karang Taruna Way Urang Gelar Servis Motor Gratis

2 Februari 2026
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.