Bandar Lampung, Jelajah.co – Strategi peningkatan pendapatan Badan Layanan Umum (BLU) melalui sektor haji dan umroh menjadi salah satu fokus pembahasan dalam Rapat Kerja (Raker) 2026 Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL), Sabtu (18/04/2026), di Lamban Raden Intan.
Dalam forum tersebut, hadir Direktur Pelaksana LSP Pariwisata Syariah Indonesia, Wardi Taufik, sebagai narasumber yang menekankan pentingnya peran kampus dalam memberikan layanan keumatan secara luas.
Ia menyampaikan bahwa layanan yang dibangun harus berorientasi pada kebutuhan umat, tidak hanya sebatas penguatan akademik.
“Kalau ini dilahirkan oleh UIN, yang memberikan kontribusi keumatan, ini menjadi daya tarik. UIN tidak sekadar kampus akademik, tapi juga dipercaya sebagai praktisi,” ujarnya.
Wardi menilai, kampus harus mampu menjadi pusat keilmuan sekaligus penggerak ekonomi umat dengan terjun langsung ke lapangan dan memberikan dampak nyata.
Ia juga mengingatkan pentingnya perencanaan matang dalam pengembangan layanan tersebut, mulai dari kesiapan sumber daya manusia, proses bisnis, hingga segmentasi pasar.
“Kalau tidak ada pemetaan yang tepat, nanti malah merugikan kampus,” katanya.
Selain sektor haji dan umroh, ia turut mendorong pengembangan layanan filantropi umat seperti zakat, wakaf produktif, hingga pengelolaan sampah bernilai ekonomi, yang harus dikelola secara transparan dan akuntabel.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti pentingnya sertifikasi kompetensi di bidang manasik haji dan umroh. Menurutnya, pengakuan keahlian harus didukung sertifikat resmi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
“Meskipun punya keahlian, tapi kalau belum punya sertifikat dari BNSP, itu negara tidak mengakui,” tegasnya.
Sementara itu, Rektor UIN RIL Prof. H. Wan Jamaluddin Z, M.Ag., Ph.D., menyampaikan bahwa arah pengembangan tersebut sejalan dengan kebutuhan kampus dalam menjawab tantangan kekurangan tenaga profesional di sektor keumatan.
“PTKIN harus bergegas mengisi kekosongan tenaga profesional, khususnya di bidang haji dan umroh,” ujarnya.
Ia menilai potensi pengelolaan dana umat, termasuk zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ziswaf), membutuhkan SDM yang kompeten dan terstruktur.
Rektor juga mendorong seluruh unit untuk merancang program studi yang relevan dan memiliki daya saing.
“Saya minta ini menjadi prioritas utama, terutama membuka prodi yang benar-benar marketable dan applicable,” tegasnya.
Ia menambahkan, pengembangan kelembagaan harus dilakukan secara terintegrasi lintas bidang, baik akademik, keuangan, hingga pembinaan mahasiswa dan alumni.
Di akhir arahannya, Rektor mengingatkan agar capaian yang telah diraih tidak membuat sivitas akademika berpuas diri.
“Kalau kita cepat puas, kita tidak akan maju,” pungkasnya. (*)








