BARITO SELATAN, Jelajah.co – Sekelompok massa yang tergabung dalam Masyarakat Adat Desa Kalahien, Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan, menggelar aksi pernyataan sikap tepat di atas Jembatan Kalahien, Senin (19/01/2026).
Dengan membawa bendera Merah Putih dan senjata tradisional, mereka menyuarakan penolakan keras terhadap rencana pengelolaan alur sungai dan jembatan oleh Badan Usaha Pelabuhan (BUP) yang berasal dari luar wilayah Kalimantan Tengah.
Dalam orasi yang dibacakan oleh koordinator aksi, masyarakat adat menegaskan posisi mereka sebagai garda terdepan yang selama ini menjaga keamanan dan aset Jembatan Kalahien yang membentang di atas Sungai Barito.
”Kami Masyarakat Adat Dayak Desa Kalahien menyatakan menolak pengelolaan oleh BUP dari luar daerah Kalimantan Tengah,” tegas perwakilan warga dalam video pernyataan yang diterima redaksi Jelajah.co.
Surati Presiden Prabowo
Aksi ini juga ditujukan langsung kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Dalam tuntutannya, warga meminta Presiden untuk melihat kondisi di lapangan dan memastikan kedaulatan masyarakat lokal dalam mengelola wilayahnya sendiri.
”Kepada yang terhormat Bapak Presiden Prabowo Subianto, kami yakin Bapak seorang patriot sejati. Tidak mungkin membiarkan kami di sini dijajah oleh bangsa sendiri,” ujar sang orator dengan lantang.
Warga merasa bahwa masuknya pihak luar untuk mengambil alih pengelolaan sektor vital di wilayah adat mereka merupakan bentuk ketidakadilan. Mereka menekankan bahwa selama ini masyarakat lokal telah diberdayakan dan mampu menjaga kondusivitas wilayah aliran sungai (DAS) Barito.
Ancam Lakukan Perlawanan
Suasana aksi sempat memanas ketika massa menyuarakan kesiapan mereka untuk mempertahankan hak-hak adat. Teriakan semangat dan seruan perang khas Dayak terdengar menggema di akhir pernyataan sikap.
”Ingat, jangan lagi kami dijajah oleh bangsa sendiri. Kami siap untuk melawan!” seru massa serempak sambil menghunuskan mandau ke udara sebagai simbol keberanian menjaga tanah leluhur.
Aksi damai ini ditutup dengan seruan Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata, yang merupakan salam persatuan masyarakat Dayak, serta pekik “Lawan!” yang diteriakkan berulang kali.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pemerintah daerah maupun instansi terkait mengenai tuntutan warga Desa Kalahien tersebut.(*)








