PIDIE JAYA, Jelajah.co – Sebuah video memilukan yang memperlihatkan seorang guru menangis histeris saat menemukan laptop kerjanya di dalam tumpukan lumpur yang mengeras viral di media sosial. Momen tersebut menjadi potret nyata duka yang masih tersisa pascabanjir bandang yang menerjang Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, pada akhir November 2025 lalu.
Video yang diunggah oleh akun TikTok @mra_210624 pada Selasa (13/1/2026) ini telah menarik simpati ribuan warganet. Dalam rekaman tersebut, terlihat seorang guru wanita berseragam dinas (khaki) berusaha menggali gundukan lumpur yang telah mengeras menjadi tanah di area sekolah.
Dengan berurai air mata, sang guru akhirnya berhasil menarik keluar sebuah tas hitam yang sudah kaku terbalut lumpur kering. Tangisnya semakin pecah saat ia membuka tas tersebut dan mendapati laptop yang biasa ia gunakan untuk bekerja setiap hari dalam kondisi rusak parah, terbungkus kain yang juga penuh lumpur.
Dalam keterangan videonya, pengunggah mengungkapkan kesedihan mendalam bukan hanya karena rusaknya barang elektronik tersebut, melainkan karena nilai data dan fungsinya sebagai alat kerja utama.
“Sekolah terendam banjir, lumpur yang berubah jadi tanah yang keras, semua yang ada di sekolah tidak bisa digunakan. Dari sekian banyak barang yang rusak, ada satu benda yang buat aku tidak bisa berkata-kata. Laptop yang tiap hari dipakai untuk kerja tergeletak di dalam tumpukan lumpur yang sudah mengeras,” tulis akun @mra_210624 dalam takarirnya.
Dampak Panjang Banjir Bandang
Peristiwa ini membuka kembali mata publik tentang kondisi pemulihan pascabencana di Pidie Jaya yang masih berjalan lambat. Banjir bandang yang terjadi pada akhir tahun 2025 tersebut memang meninggalkan kerusakan masif, terutama pada fasilitas pendidikan.
Hingga Januari 2026, dilaporkan masih banyak sekolah yang tertimbun lumpur setinggi hingga dua meter. Beberapa sekolah, seperti SMAN 2 Meureudu, bahkan terpaksa menggelar kegiatan belajar mengajar (KBM) di tenda-tenda darurat karena ruang kelas belum layak digunakan.
Para tenaga pengajar dan siswa harus berjibaku dengan sisa-sisa lumpur yang kini telah mengeras, membuat proses pembersihan menjadi sangat sulit dan memakan waktu. Video viral ini menjadi pengingat bahwa di balik angka-angka kerugian materiil, ada beban psikologis dan kendala operasional berat yang harus ditanggung para pendidik di wilayah terdampak.
Warganet pun membanjiri kolom komentar dengan doa dan dukungan, berharap adanya bantuan lebih lanjut untuk pemulihan fasilitas sekolah dan penggantian alat kerja bagi para guru yang terdampak.








