Izal : (Penggiat Media Sosial)
Kerajaan Nusantara bukanlah sekadar wilayah ; ia adalah mosaik raksasa yang membentang dari tanah Sumatera, Jawa, hingga Sulawesi. Di bawah kepemimpinan Raja TYARD, kerajaan ini lahir dari penyatuan entitas-entitas kecil yang membawa beban sejarah dan kearifan lokal masing-masing. Di atas ribuan hektar lahan yang menghampar hijau dengan komoditas karet, teh, dan kopi, TYARD mencoba merajut mimpi besar tentang sebuah persatuan.
Sebagai pemimpin, TYARD memilih jalan kebijaksanaan. Ia tak menghapus eksistensi penguasa lama; ia justru merangkul para raja kecil itu sebagai pemimpin di wilayah asalnya. Baginya, tak boleh ada hak rakyat yang hilang hanya karena sebuah integrasi.
Namun, memimpin kerajaan seluas ini bukanlah perkara mudah. Efisiensi, perpindahan rakyat, hingga ego sektoral antarwilayah menjadi duri dalam daging yang memperlambat derap kemajuan.
Namun, ancaman sesungguhnya bukan datang dari luar, melainkan dari dalam lingkaran terdekat Sang Ratu.
Di lingkungan istana, Ratu sebenarnya adalah sebutan bagi patih perempuan yang dipercaya membantu Raja berdampingan dengan empat patih lainnya. Namun, seiring berjalannya waktu, loyalitas yang terlihat di permukaan rupanya menyimpan bara ambisi. Sang Ratu mulai menenun jaring kekuasaan demi satu tujuan: Menjadi Raja.
Langkah-langkah strategis dilakukan dengan sangat halus. Satu per satu orang-orang kepercayaan Ratu ditempatkan pada posisi vital di setiap sendi kerajaan. Para patih lain menyadari pergerakan ini, namun mereka lumpuh. Desas-desus berhembus bahwa sebagian patih yang berasal dari luar lingkaran inti kerajaan tidak hanya buta terhadap tugas yang diemban, tetapi juga tersandera oleh dosa masa lalu. Inilah “kartu truf” Sang Ratu memanfaatkan kelemahan kolega untuk mengamankan ambisinya sendiri.
Puncak dari manuver ini terjadi ketika tiga kerajaan kecil di Jawa dipersatukan menjadi satu entitas. Di sinilah “eksperimen” Ratu dimulai. Ia menyingkirkan siapa pun yang tak sehaluan, menggantinya dengan “orang-orangnya sendiri” hingga posisi strategis di tanah Jawa sepenuhnya berada dalam genggamannya.
Sebuah peristiwa di pintu gerbang kerajaan Jawa menjadi saksi bisu penaklukan ini. Raja TYARD, yang semula berniat menghadiri pertemuan penting lainnya, justru terjebak dalam skenario matang yang disusun Sang Ratu. Ia seolah dipaksa hadir untuk memberikan legitimasi pada pelantikan raja kecil pilihan Ratu.
“Selamat datang, TYARD. Terima kasih atas restunya,” sambut Sang Ratu dengan senyum kemenangan di tengah riuh tepuk tangan rakyat bentukan yang telah disiapkan. Di hadapan sebuah tumpeng besar, Sang Ratu atau kini lebih dikenal sebagai Raialyahtu meminta Sang Raja untuk memotong dan menyerahkan simbol kekuasaan itu kepada pilihannya.
TYARD hanya bisa melebarkan senyum getir.
Sebuah senyum yang menyembunyikan keterkejutan dan kekecewaan mendalam. Di sampingnya, para patih hanya tertunduk, tak mampu memberikan jawaban atas tanya yang tersirat di mata sang Raja: Bagaimana semua ini bisa terjadi?
Jawa hanyalah babak pertama dari sebuah lakon perebutan tahta. Sang Ratu kini tengah mengumpulkan kekuatan yang lebih besar untuk mengguncang fondasi Kerajaan Nusantara. Di lorong-lorong istana, bisikan itu kian kencang terdengar, sebuah peringatan atau mungkin ramalan yang meresahkan: “Tak lama lagi, Sang Ratu akan menjadi Raja.”







