• Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy
Sabtu, 20 Juni 2026
Kirimi Artikel Yukk  
www.jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
No Result
View All Result
Jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
Home Sudut Pandang

Makan Gratis dan Tanggung Jawab yang Selalu Menguap

Redaksi by Redaksi
3 Februari 2026
in Sudut Pandang
A A
Cut habibi (Sekretaris DPD AWPI Provinsi Lampung)

Cut habibi (Sekretaris DPD AWPI Provinsi Lampung)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Cut Habibi (Sekretaris DPD AWPI Provinsi Lampung)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) lahir dari niat baik: memastikan anak-anak Indonesia tumbuh sehat dan tercukupi gizinya. Di atas kertas, gagasan ini terdengar mulia dan tak terbantahkan. Namun di lapangan, niat baik itu mulai berhadapan dengan realitas yang jauh lebih rumit terutama ketika kasus keracunan makanan berulang kali terjadi.

Setiap kali peristiwa keracunan mencuat, pola responsnya hampir selalu sama. Ada penanganan medis, ada pernyataan keprihatinan, lalu disusul kalimat normatif: sedang dievaluasi. Setelah itu, isu perlahan menghilang dari ruang publik, tanpa penjelasan yang benar-benar menuntaskan satu pertanyaan mendasar siapa yang bertanggung jawab?

BACA JUGA

Andan Jejama: Spirit Kepemudaan dalam Membangun Pesawaran

19 Juni 2026
Oplus_16908288

Di Antara Teriakan Demo dan Piring Anak Sekolah

17 Juni 2026

Di sinilah masalah utama MBG muncul. Program berskala nasional ini dijalankan secara masif, cepat, dan menyentuh kelompok paling rentan: anak-anak sekolah. Namun rantai tanggung jawabnya justru terasa kabur. Ketika terjadi keracunan, publik disuguhi saling tunjuk antara pengelola dapur, pihak sekolah, pemerintah daerah, hingga pusat. Tanggung jawab seolah larut di antara banyak tangan.

MBG bukan sekadar soal distribusi makanan, tetapi soal keselamatan. Makanan bukan bantuan simbolik, melainkan sesuatu yang langsung masuk ke tubuh anak. Kesalahan kecil dalam pengolahan, penyimpanan, atau distribusi dapat berakibat besar. Dalam konteks ini, tidak ada ruang untuk pendekatan trial and error.

Masalahnya, sistem pengawasan sering kali lebih kuat di dokumen ketimbang di dapur. Standar operasional prosedur terdengar meyakinkan, tetapi pengawasan lapangan kerap minim. Di banyak daerah, kesiapan infrastruktur, kualitas bahan baku, hingga kapasitas sumber daya manusia masih jauh dari ideal. Program berjalan, sementara kesiapan tertinggal.

Yang lebih mengkhawatirkan, setiap insiden keracunan cenderung diperlakukan sebagai kasus terpisah, bukan sebagai alarm sistemik. Padahal, perulangan kejadian semestinya menjadi tanda bahwa ada yang salah dalam desain dan pengawasan program. Jika pola ini terus dibiarkan, maka evaluasi hanya akan menjadi ritual tanpa perbaikan nyata.

Program sebesar MBG membutuhkan satu hal yang sering terlupakan: kejelasan akuntabilitas. Publik berhak tahu siapa penanggung jawab akhir ketika sesuatu berjalan salah. Tanpa kejelasan itu, kepercayaan akan terus terkikis, dan program yang sejatinya baik justru berpotensi kehilangan legitimasi.

Memberi makan gratis kepada anak-anak adalah tanggung jawab besar negara. Bukan hanya memberi, tetapi memastikan aman, layak, dan bermutu. Selama tanggung jawab terus menguap setiap kali masalah muncul, yang dipertaruhkan bukan sekadar citra kebijakan, melainkan keselamatan generasi yang sedang dibangun.

Previous Post

Triga Lampung Tagih Kejagung Usut Dugaan Gurita Kejahatan Terstruktur PT SGC

Next Post

E-Paper Jelajah, Edisi 4 Februari 2026

Redaksi

Redaksi

Redaksi www.jelajah.co

BERITA POPULER

Dinda Ghania Selebritas Cantik Putri Senator Senior Punya Segudang Prestasi

30 November 2025

DPP GASAK Desak Kejati dan BPK Audit Pengadaan Dinas Kominfo Pesisir Barat

16 Juni 2026

PS 98 Provinsi Lampung Dukung Ade Jona Menjadi Ketua Umum HIPMI 2026–2029

5 Juni 2026

‎Lebih dari 980 Eks Karyawan KB Bank Protes Hak PHK yang Belum Tuntas ‎ ‎

24 Desember 2025

AWPI Kabupaten Malang Gelar Penyembelihan Hewan Kurban Iduladha 1447 H

27 Mei 2026

Genangan Air Akibat Kolam Ikan, Warga Kenangan Jaya 3 Desak Satpol PP Tanjungpinang Bertindak

17 Juni 2026
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.