• Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy
Rabu, 4 Februari 2026
Kirimi Artikel Yukk  
www.jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
No Result
View All Result
Jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
Home Sudut Pandang

Candu Proyek Negara di Tengah Badai Anggaran

Redaksi by Redaksi
2 Januari 2026
in Sudut Pandang
A A
Share on FacebookShare on Twitter

Di balik narasi efisiensi dan pengetatan fiskal yang kerap digaungkan pemerintah, badai anggaran negara justru membuka satu penyakit lama yang tak pernah benar-benar sembuh: kecanduan proyek. Ini bukan candu dalam makna kimiawi, melainkan ketergantungan sistemik para ASN dan pejabat terhadap aliran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai sumber kenyamanan, kuasa, dan keuntungan kelompok.

Setiap tahun anggaran, proyek pemerintah menjelma seperti musim panen. Perencanaan, penganggaran, hingga pelaksanaan tak lagi sepenuhnya bertumpu pada kebutuhan publik, melainkan bergeser menjadi ruang tawar-menawar kepentingan. Program diciptakan agar anggaran tetap mengalir, bukan agar persoalan rakyat benar-benar selesai. Dalam kondisi fiskal normal, praktik ini kerap tersembunyi rapi. Namun ketika badai anggaran datang, defisit membesar, belanja ditekan, dan prioritas dipangkas, ketergantungan itu menjadi telanjang.

Tak sedikit proyek lahir bukan karena urgensi, melainkan karena keberadaan anggaran itu sendiri. Saat dana tersedia, kegiatan diciptakan. Ketika dana menyusut, resistensi muncul. ASN dan pejabat yang terlalu lama hidup dalam ekosistem proyek menunjukkan gejala sakau anggaran: gelisah, defensif, bahkan agresif mempertahankan pos belanja, meski manfaatnya nyaris tak dirasakan publik.

BACA JUGA

Cut habibi (Sekretaris DPD AWPI Provinsi Lampung)

Makan Gratis dan Tanggung Jawab yang Selalu Menguap

3 Februari 2026
Cut habibi (Sekretaris DPD AWPI Provinsi Lampung)

Ketika Ela “Mengelak”

1 Februari 2026

Fenomena ini tercermin dari proyek-proyek berulang yang nyaris tak pernah dievaluasi secara serius. Jalan diperbaiki berkali-kali di titik yang sama, pelatihan digelar tanpa indikator dampak, studi dan kajian diproduksi tanpa pernah benar-benar menjadi kebijakan. APBN pun bergeser fungsi: dari instrumen kesejahteraan publik menjadi alat distribusi rente yang sah secara administratif, namun rapuh secara etika.

Masalahnya bukan semata korupsi dalam arti pidana, melainkan pembajakan tujuan anggaran. Ketika proyek menjadi candu, logika pelayanan publik runtuh. ASN dan pejabat tak lagi berlomba menghasilkan kinerja terbaik, tetapi sibuk mengamankan mata anggaran. Kepentingan pribadi dan kelompok menyusup halus melalui mekanisme yang tampak legal, namun cacat secara moral dan substantif.

Di tengah tekanan fiskal global, pemerintah pusat berulang kali menyerukan efisiensi dan penghematan. Namun tanpa keberanian memutus rantai kecanduan proyek, seruan itu hanya akan berakhir sebagai jargon. Pemangkasan anggaran kerap justru menekan sektor yang bersentuhan langsung dengan rakyat, sementara proyek-proyek elitis tetap dipertahankan dengan dalih strategis.

Jika APBN terus diperlakukan sebagai narkotika birokrasi, negara akan selalu rapuh menghadapi krisis. Ketergantungan ini bukan hanya menguras keuangan negara, tetapi juga merusak etos ASN, menumpulkan nurani pejabat, dan menjauhkan negara dari tujuan konstitusionalnya.

Di titik inilah peran jiwa-jiwa muda menjadi penentu. Kampus dan ruang pemuda tak boleh hanya menjadi penonton dari pesta anggaran yang rakus. Mahasiswa dan generasi muda harus menempatkan diri sebagai mata publik: melihat, menilai, mengawasi, dan melaporkan. Bukan sekadar turun ke jalan saat isu viral, tetapi konsisten menguliti proyek-proyek yang menggerus anggaran, merusak lingkungan, dan mengkhianati kepentingan rakyat.

Kabupaten, kota, hingga provinsi adalah ladang paling subur bagi candu proyek. Di sanalah tikus-tikus anggaran bergerak lincah, bersembunyi di balik prosedur, regulasi, dan stempel legalitas. Jika generasi muda memilih diam, kecanduan itu akan diwariskan. Jika pemuda berani bersuara dan bertindak, rantai candu bisa diputus.

Badai anggaran seharusnya menjadi momentum detoksifikasi. Negara mesti keluar dari kecanduan proyek dan mengembalikan APBN ke khitahnya sebagai alat keadilan sosial, bukan ladang kenyamanan segelintir elite birokrasi. Saatnya anak kampus dan pemuda mengambil tanggung jawab sejarah: menghentikan pejabat yang kecanduan anggaran, menolak proyek yang merusak alam, dan mengawal anggaran publik agar kembali berpihak pada rakyat. Tanpa itu, setiap krisis hanya akan melahirkan candu baru dengan kemasan program yang berbeda.

Previous Post

E-Paper Jelajah, Edisi Rabu 31 Desember 2025

Next Post

Motor Diduga Potong Jalur, Truk Sampah DLH Kota Bekasi Terguling

Redaksi

Redaksi

Redaksi www.jelajah.co

BERITA POPULER

Parkiran Apartemen Tokyo PIK 2 Terendam Banjir, Klaim ‘Anti Banjir’ Jebol Bikin Saham PANI Anjlok Hampir 6 Persen

13 Januari 2026

Serukan Penolakan BUP Luar, Warga Adat Kalahien Gelar Aksi di Jembatan Barito: “Kami Siap Melawan”

19 Januari 2026

Dinda Ghania Selebritas Cantik Putri Senator Senior Punya Segudang Prestasi

30 November 2025

Hampir Setahun Memimpin, Aktivis Nilai Kinerja Bupati Lampung Utara Jauh dari Janji Kampanye

12 Januari 2026

‎Lebih dari 980 Eks Karyawan KB Bank Protes Hak PHK yang Belum Tuntas ‎ ‎

24 Desember 2025

Bersinergi dengan Honda, Karang Taruna Way Urang Gelar Servis Motor Gratis

2 Februari 2026
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.