Tangerang Selatan, Jelajah.co – Warga dan pedagang di sepanjang Jalan Otista Raya, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, mengeluhkan praktik pungutan biaya pembuangan sampah yang dinilai tidak transparan dan tidak diiringi pengelolaan yang baik. Pungutan tersebut berkisar antara Rp3.000 hingga Rp10.000 setiap kali membuang sampah.
Ironisnya, meski telah membayar, tumpukan sampah di kawasan depan Pasar Jombang justru terus menggunung dan meluber hingga ke badan jalan. Kondisi ini mengganggu arus lalu lintas serta aktivitas warga dan pedagang, dan disebut telah berlangsung cukup lama tanpa penanganan yang jelas.
Budiman, salah seorang warga setempat, mengungkapkan bahwa tarif pungutan sampah tidak seragam antara warga dan pedagang. Menurutnya, pedagang kios di Pasar Jombang dikenai iuran harian sebesar Rp8.000. Namun hingga kini, tidak ada kejelasan terkait pengelolaan dana pungutan tersebut.
“Kami mempertanyakan ke mana uang itu dikelola. Katanya untuk kebersihan, tapi kenyataannya sampah tetap menumpuk,” ujar Budiman, Jumat (9/1/2026).
Keluhan serupa disampaikan Doni Putra (31), pedagang kelapa parut di Pasar Jombang. Ia menegaskan bahwa sebagian besar sampah berasal dari aktivitas pasar dan warga sekitar. Meski rutin membayar iuran, sampah kerap tidak segera diangkut.
“Baunya menyengat dan sangat mengganggu. Kami sudah bayar, tapi tidak ada tanggung jawab lanjutan. Jangan-jangan uangnya justru masuk ke kantong pribadi oknum pemungut,” kata Doni.
Dugaan praktik pungutan liar (pungli) ini muncul di tengah kondisi darurat sampah yang tengah melanda Kota Tangerang Selatan.
Pemerintah Kota Tangsel diketahui sedang berupaya mengalihkan sebagian sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA) lain. Namun demikian, penanganan di tingkat lokal dinilai masih jauh dari optimal.
Warga pun mendesak aparat kelurahan hingga instansi terkait untuk segera turun tangan menertibkan dugaan pungli tersebut dan memberikan solusi nyata. Selain mencemari lingkungan, sampah yang meluber hingga memakan hampir setengah badan jalan dinilai membahayakan keselamatan pengguna jalan.
“Jangan cuma pungut uang, tapi tidak ada tanggung jawab. Kami minta ada tindakan tegas dan solusi konkret,” tegas salah seorang warga lainnya.(Red)








