PALANGKA RAYA, Jelajah.co – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-1 Kodam XXII/Tambun Bungai menjadi momentum penting dalam mempertegas komitmen kolaborasi antara TNI, Pemerintah Provinsi, Kepolisian, dan unsur terkait lainnya. Sinergitas ini dinilai krusial untuk menjaga stabilitas keamanan, mendukung pembangunan, serta menangani isu tahunan seperti Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah Kalimantan Tengah.
Kemeriahan acara puncak HUT perdana ini diwarnai dengan unjuk kebolehan prajurit yang mengundang decak kagum tamu undangan. Salah satu atraksi yang mencuri perhatian adalah simulasi operasi pembebasan sandera kepala daerah yang dilakukan oleh Tim Penanggulangan Teror (Gultor) dari Batalyon Infanteri (Yonif) 631/Antang. Aksi heroik tersebut melibatkan pengejaran menegangkan menggunakan kendaraan taktis (rantis) dan evakuasi dramatis, yang menunjukkan tingkat kesiapsiagaan penuh dari pasukan tempur dalam menghadapi situasi darurat.
Selain itu, para prajurit juga memamerkan ketangguhan fisik dan kemampuan bela diri melalui pertunjukan Pencak Silat Kliterr dan senam Sparko. Demonstrasi ini melambangkan daya tahan, keseimbangan, serta ketangkasan prajurit dalam menghadapi berbagai ancaman.
Puncak ketegangan di lapangan upacara berubah menjadi gemuruh tepuk tangan saat tujuh penerjun payung gabungan dari Divisi Infanteri 2 Kostrad dan Pasukan Pelopor Korps Brimob Polri bermanuver di udara. Mereka sukses melakukan pendaratan taktis di landing zone yang telah disiapkan. Manuver ciamik ini menjadi simbol nyata soliditas dan sinergitas tanpa batas antara institusi TNI dan Polri di Bumi Tambun Bungai.
Terkait dengan langkah strategis komando ke depan, Pangdam XXII/Tambun Bungai, Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Zainul Arifin, menegaskan bahwa kolaborasi yang telah terjalin selama satu tahun terakhir akan terus ditingkatkan. TNI berkomitmen penuh untuk mengawal seluruh program nasional di wilayah Kalimantan Tengah dan Selatan. Menurutnya, sinergi dengan pemerintah daerah, kepolisian, dan kejaksaan akan terus berjalan agar stabilitas keamanan dan pembangunan berjalan lancar sesuai dengan yang diharapkan bersama.
Memasuki usia satu tahun, Mayjen TNI Zainul Arifin tidak menampik bahwa masih terdapat sejumlah kekurangan dari segi personel maupun perlengkapan tempur. Saat ini, kekuatan personel, khususnya untuk Batalyon Tempur (Yon TP) di Kalimantan Tengah, baru mencapai kisaran 50 persen. Namun, pemenuhan kebutuhan tersebut, termasuk rantis dan penambahan personel, akan terus diupayakan oleh komando atas secara bertahap dan bergilir mengingat hal ini merupakan kebijakan berskala nasional.
Di sisi lain, isu Karhutla tetap menjadi fokus utama operasi teritorial Kodam. TNI secara aktif berkoordinasi dengan Polda, BPBD, dan Pemerintah Daerah untuk mempercepat penanganan Karhutla di lapangan. Pendekatan preventif digencarkan melalui peran Bintara Pembina Desa (Babinsa) yang turun langsung menyosialisasikan larangan membakar lahan sembarangan kepada masyarakat. Setiap satuan, baik Yon TP maupun Kodim, juga telah menyiagakan kendaraan pemadam kebakaran yang berstatus standby dan siap diturunkan setiap saat.
Semangat kolaborasi ini turut diapresiasi oleh Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran, yang memandang keberadaan Kodam sangat membantu Pemerintah Provinsi dalam menciptakan rasa aman dan kebersamaan di tengah masyarakat. Gubernur berharap kebersamaan ini terus solid demi mewujudkan Kalteng yang maju dan sejahtera, dengan selalu mengedepankan integritas dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Terkait penanggulangan Karhutla, Gubernur Agustiar Sabran menyatakan bahwa sinergi antar-instansi telah membuahkan hasil yang signifikan. Ia membandingkan kondisi saat ini dengan kemarau ekstrem pada tahun 2015 silam, di mana jarak pandang (visibilitas) sempat memburuk hingga hanya berjarak 2 hingga 24 meter akibat kabut asap tebal. Saat ini, kesinambungan pencegahan terus dijaga agar kondisi serupa tidak terulang dan masyarakat bebas dari kabut asap parah.
Pemerintah Provinsi bersama Satgas Karhutla terus memaksimalkan pemadaman, termasuk mengerahkan helikopter water bombing untuk mengatasi titik api (hotspot) yang saat ini banyak difokuskan pada wilayah rawan seperti Kabupaten Kotawaringin Timur (Sampit) dan Pulang Pisau. Sebagai bentuk keseriusan, Gubernur bahkan mendirikan posko pemantauan Karhutla di area Istana Gubernur yang ia pantau secara langsung setiap harinya.
”Titik lokasi kebakaran utama masih di seputar Sampit dan Pulang Pisau. Kami buat pos di Istana, itu saya sendiri yang pantau tiap hari. Tak lepas dari kolaborasi semua unsur, seperti kata Pak Pangdam tadi, kebersamaan itu di atas segala-galanya,” pungkas Gubernur Agustiar Sabran. (Rahmi)








