• Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy
Rabu, 4 Februari 2026
Kirimi Artikel Yukk  
www.jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
No Result
View All Result
Jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
Home Sudut Pandang

Ketika Uang Menjadi Penentu Nasib

Redaksi by Redaksi
19 November 2025
in Sudut Pandang
A A
Oplus_131072

Oplus_131072

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: (Cut Habibi)

“Whoever said money can’t solve your problems

Must not have had enough money to solve ‘em.” — (Ariana Grande, 7 Rings)

BACA JUGA

Cut habibi (Sekretaris DPD AWPI Provinsi Lampung)

Makan Gratis dan Tanggung Jawab yang Selalu Menguap

3 Februari 2026
Cut habibi (Sekretaris DPD AWPI Provinsi Lampung)

Ketika Ela “Mengelak”

1 Februari 2026

Ada benarnya juga lirik itu. Bukan karena kita sepakat bahwa uang adalah segalanya, tetapi karena kenyataan hari ini begitu sering membenarkannya. Di Indonesia, terlalu banyak masalah yang sebenarnya bisa selesai atau setidaknya terasa lebih ringan jika seseorang “punya cukup”. Cukup tabungan, cukup akses, cukup kuasa. Namun bagi sebagian besar rakyat, “cukup” itu justru menjadi kemewahan.

Di meja-meja birokrasi, kita belajar bahwa proses bisa cepat, bisa lambat, dan bisa mandek, semuanya tergantung pada variabel yang sering tak dituliskan dalam formulir: biaya yang tak selalu resmi. Di ruang-ruang pelayanan dasar, kita tahu betul bahwa janji akses universal sering kali berhenti di baliho, bukan di kenyataan.

Orang yang berpunya bisa memilih rumah sakit terbaik, sekolah terbaik, jalur tercepat, solusi tercepat. Sementara mereka yang tak berpunya berdoa agar tak sakit, tak terlambat, tak salah langkah.

Uang memang tak bisa membeli kebahagiaan, kata pepatah lama. Namun pepatah itu tampaknya lahir dari tempat yang terlalu nyaman, tempat di mana kebutuhan hidup tak lagi menjadi kecemasan harian. Bagi banyak orang, uang bukan soal gaya hidup; ia adalah perbedaan antara makan atau tidak, sekolah atau tidak, sehat atau tidak. Ia adalah garis tipis antara harapan dan putus asa.

Di tengah glamornya budaya flexing dan hidup serba cepat, kita semakin sering disuguhi ilusi bahwa semua orang bisa sukses jika cukup berusaha. Padahal realitas sosial kita tak sesederhana itu. Ada yang berangkat dari nol, ada yang berangkat dari minus, ada pula yang berangkat dari lantai paling atas. Tidak semua diberi pijakan yang sama.

Yang kaya tak selalu salah; yang miskin tak selalu benar. Persoalannya bukan itu. Persoalannya adalah: mengapa jurang itu semakin melebar, dan mengapa negara tampak makin sulit menjembataninya?

Kita hidup pada masa ketika uang memang bukan segalanya tetapi ia menentukan terlalu banyak hal.

Dan mungkin di titik inilah lirik Ariana Grande terasa menohok: bukan karena ia pamer, melainkan karena ia mengingatkan kita bahwa masalah-masalah besar dalam hidup sering kali bukan tentang ketidakmampuan, melainkan ketidaksetaraan.

Uang tidak seharusnya menjadi satu-satunya penentu kualitas hidup. Namun sampai negara benar-benar hadir di setiap lapisan masyarakat, sampai akses benar-benar setara, dan sampai kebijakan benar-benar berpihak pada mereka yang tertinggal, lirik itu akan terus relevan:

Mereka yang bilang uang tak bisa menyelesaikan masalah, mungkin memang tak pernah merasakan kecukupan untuk menyelesaikannya.

Previous Post

Indonesia Jadi Negara Nomor 1 yang Anggap Uang Bukan Segalanya untuk Bahagia

Next Post

BRI Tegaskan Kepatuhan dalam Proses Kredit Terkait Kasus Nasabah KCP Tanjung Agung

Redaksi

Redaksi

Redaksi www.jelajah.co

BERITA POPULER

Parkiran Apartemen Tokyo PIK 2 Terendam Banjir, Klaim ‘Anti Banjir’ Jebol Bikin Saham PANI Anjlok Hampir 6 Persen

13 Januari 2026

Serukan Penolakan BUP Luar, Warga Adat Kalahien Gelar Aksi di Jembatan Barito: “Kami Siap Melawan”

19 Januari 2026

Dinda Ghania Selebritas Cantik Putri Senator Senior Punya Segudang Prestasi

30 November 2025

Hampir Setahun Memimpin, Aktivis Nilai Kinerja Bupati Lampung Utara Jauh dari Janji Kampanye

12 Januari 2026

‎Lebih dari 980 Eks Karyawan KB Bank Protes Hak PHK yang Belum Tuntas ‎ ‎

24 Desember 2025

Bersinergi dengan Honda, Karang Taruna Way Urang Gelar Servis Motor Gratis

2 Februari 2026
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.