• Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy
Rabu, 4 Februari 2026
Kirimi Artikel Yukk  
www.jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
No Result
View All Result
Jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
Home Sudut Pandang

Makan Gratis dan Tanggung Jawab yang Selalu Menguap

Redaksi by Redaksi
3 Februari 2026
in Sudut Pandang
A A
Cut habibi (Sekretaris DPD AWPI Provinsi Lampung)

Cut habibi (Sekretaris DPD AWPI Provinsi Lampung)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Cut Habibi (Sekretaris DPD AWPI Provinsi Lampung)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) lahir dari niat baik: memastikan anak-anak Indonesia tumbuh sehat dan tercukupi gizinya. Di atas kertas, gagasan ini terdengar mulia dan tak terbantahkan. Namun di lapangan, niat baik itu mulai berhadapan dengan realitas yang jauh lebih rumit terutama ketika kasus keracunan makanan berulang kali terjadi.

Setiap kali peristiwa keracunan mencuat, pola responsnya hampir selalu sama. Ada penanganan medis, ada pernyataan keprihatinan, lalu disusul kalimat normatif: sedang dievaluasi. Setelah itu, isu perlahan menghilang dari ruang publik, tanpa penjelasan yang benar-benar menuntaskan satu pertanyaan mendasar siapa yang bertanggung jawab?

BACA JUGA

Cut habibi (Sekretaris DPD AWPI Provinsi Lampung)

Ketika Ela “Mengelak”

1 Februari 2026

Ketika Hutan Dikelola dengan Pikiran Sempit

28 Januari 2026

Di sinilah masalah utama MBG muncul. Program berskala nasional ini dijalankan secara masif, cepat, dan menyentuh kelompok paling rentan: anak-anak sekolah. Namun rantai tanggung jawabnya justru terasa kabur. Ketika terjadi keracunan, publik disuguhi saling tunjuk antara pengelola dapur, pihak sekolah, pemerintah daerah, hingga pusat. Tanggung jawab seolah larut di antara banyak tangan.

MBG bukan sekadar soal distribusi makanan, tetapi soal keselamatan. Makanan bukan bantuan simbolik, melainkan sesuatu yang langsung masuk ke tubuh anak. Kesalahan kecil dalam pengolahan, penyimpanan, atau distribusi dapat berakibat besar. Dalam konteks ini, tidak ada ruang untuk pendekatan trial and error.

Masalahnya, sistem pengawasan sering kali lebih kuat di dokumen ketimbang di dapur. Standar operasional prosedur terdengar meyakinkan, tetapi pengawasan lapangan kerap minim. Di banyak daerah, kesiapan infrastruktur, kualitas bahan baku, hingga kapasitas sumber daya manusia masih jauh dari ideal. Program berjalan, sementara kesiapan tertinggal.

Yang lebih mengkhawatirkan, setiap insiden keracunan cenderung diperlakukan sebagai kasus terpisah, bukan sebagai alarm sistemik. Padahal, perulangan kejadian semestinya menjadi tanda bahwa ada yang salah dalam desain dan pengawasan program. Jika pola ini terus dibiarkan, maka evaluasi hanya akan menjadi ritual tanpa perbaikan nyata.

Program sebesar MBG membutuhkan satu hal yang sering terlupakan: kejelasan akuntabilitas. Publik berhak tahu siapa penanggung jawab akhir ketika sesuatu berjalan salah. Tanpa kejelasan itu, kepercayaan akan terus terkikis, dan program yang sejatinya baik justru berpotensi kehilangan legitimasi.

Memberi makan gratis kepada anak-anak adalah tanggung jawab besar negara. Bukan hanya memberi, tetapi memastikan aman, layak, dan bermutu. Selama tanggung jawab terus menguap setiap kali masalah muncul, yang dipertaruhkan bukan sekadar citra kebijakan, melainkan keselamatan generasi yang sedang dibangun.

Previous Post

Triga Lampung Tagih Kejagung Usut Dugaan Gurita Kejahatan Terstruktur PT SGC

Next Post

E-Paper Jelajah, Edisi 4 Februari 2026

Redaksi

Redaksi

Redaksi www.jelajah.co

BERITA POPULER

Parkiran Apartemen Tokyo PIK 2 Terendam Banjir, Klaim ‘Anti Banjir’ Jebol Bikin Saham PANI Anjlok Hampir 6 Persen

13 Januari 2026

Serukan Penolakan BUP Luar, Warga Adat Kalahien Gelar Aksi di Jembatan Barito: “Kami Siap Melawan”

19 Januari 2026

Dinda Ghania Selebritas Cantik Putri Senator Senior Punya Segudang Prestasi

30 November 2025

Hampir Setahun Memimpin, Aktivis Nilai Kinerja Bupati Lampung Utara Jauh dari Janji Kampanye

12 Januari 2026

‎Lebih dari 980 Eks Karyawan KB Bank Protes Hak PHK yang Belum Tuntas ‎ ‎

24 Desember 2025

Bersinergi dengan Honda, Karang Taruna Way Urang Gelar Servis Motor Gratis

2 Februari 2026
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.