Oleh: Cut Habibi (Pemred Media Jelajah.co)
Menjelang azan magrib di hari pertama Ramadhan, Pasar Way Halim, Bandarlampung, berubah rupa. Bukan karena dekorasi atau spanduk bertuliskan “Marhaban Ya Ramadhan”, melainkan oleh ribuan pasang langkah yang bergerak serempak menuju satu tujuan: takjil.
Sore itu, jalanan bukan lagi sekadar lintasan kendaraan. Ia menjelma ruang pertemuan. Ada yang datang berboncengan, ada yang berjalan sambil menggenggam tangan anaknya, ada pula yang menepi sebentar, menimbang pilihan antara kolak pisang atau gorengan panas yang masih mengepulkan uap.
Fenomena yang kerap disebut “War Takjil” itu kembali hadir, dan selalu terasa baru setiap Ramadhan tiba. Tak ada aba-aba, tak ada komando. Seolah ada kesepakatan tak tertulis bahwa hari pertama puasa harus dirayakan dengan turun ke pasar, menyusuri lapak demi lapak, dan pulang membawa plastik bening berisi rasa manis pembuka puasa.
Yang menarik, takjil yang diburu sering kali bukan barang langka. Gorengan, es buah, kolak, kue tradisional, semuanya bisa ditemui hampir setiap hari. Namun Ramadhan memberi mereka makna berbeda. Di bulan ini, makanan sederhana naik derajat menjadi simbol kebersamaan dan penanda waktu berbuka.
Wajah-wajah yang lalu lalang pun memantulkan euforia yang sama. Ada lelah yang tak disembunyikan, tapi juga ada senyum yang sulit ditahan. Ramadhan, entah bagaimana caranya, selalu berhasil membuat orang rela berdesakan, menunggu, bahkan tersenyum ketika harus sedikit bersabar.
Pasar Way Halim sore itu seperti panggung kecil tempat Ramadhan memamerkan pengaruhnya. Tanpa pidato, tanpa seruan. Cukup dengan kehadirannya, bulan suci ini mampu menggerakkan kota, menurunkan orang-orang ke jalan, dan mengingatkan bahwa puasa bukan hanya soal menahan, tapi juga soal merayakan.
Dan ketika azan magrib akhirnya berkumandang, satu per satu langkah mulai berpencar. Jalanan kembali berfungsi seperti biasa, pasar pelan-pelan lengang. Tapi euforia hari pertama itu sudah terlanjur tertinggal menjadi cerita yang, hampir pasti, akan terulang tahun depan.







