BARITO TIMUR, Jelajah.co— Komunitas dampingan JPIC Kalimantan di wilayah Barito Timur menggelar pertemuan rutin sekaligus memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Pianggu, Senin (17/8/2026).
Kegiatan tersebut diikuti anggota komunitas dampingan JPIC Kalimantan dari sejumlah wilayah di Barito Timur dan diisi dengan berbagai perlombaan yang mengangkat keterampilan tradisional serta potensi pangan lokal.
Sejumlah lomba yang digelar antara lain Nare atau menganyam dan Niit, yakni membuat centong nasi dengan memanfaatkan bahan yang berasal dari hutan.
Selain itu, peserta juga mengikuti lomba makan kerupuk yang menjadi salah satu permainan khas dalam perayaan 17 Agustus.
Hal yang berbeda dalam kegiatan tersebut adalah lomba identifikasi pangan lokal yang berasal dari hutan. Kegiatan ini menjadi bagian dari gerakan komunitas untuk mengenalkan sekaligus mempertahankan sumber-sumber pangan lokal.
Koordinator Wilayah Barito Timur, Ditawati, mengatakan kedaulatan pangan lokal perlu terus diperkuat di tengah ancaman krisis pangan.
“Berdaulat dengan pangan lokal hingga bisa menuju ketahanan pangan yang berkelanjutan,” kata Ditawati.
Menurutnya, masyarakat memiliki berbagai sumber pangan lokal yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan untuk memperkuat ketahanan pangan secara mandiri.
Melalui kegiatan identifikasi pangan lokal, komunitas juga berupaya menjaga pengetahuan masyarakat terhadap berbagai jenis pangan yang tersedia dari hutan dan lingkungan sekitar.
Ditawati mengapresiasi keterlibatan seluruh komunitas yang berpartisipasi dalam kegiatan tersebut, termasuk Komunitas Pianggu yang menjadi tuan rumah serta JPIC Kalimantan yang selama ini melakukan pendampingan.
“Terima kasih atas kerja sama teman-teman komunitas, juga Komunitas Pianggu sebagai tuan rumah dan JPIC Kalimantan yang tetap setia mendampingi kami sampai hari ini,” ujarnya.
Kegiatan tersebut diikuti peserta dari Komunitas Pianggu, J. Jari, Matarah, Didi, Bamban, Bentot, Tanggkan dan Gumpa.
Selain menjadi bagian dari perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, pertemuan tersebut menjadi ruang bagi komunitas untuk memperkuat kebersamaan, mempertahankan keterampilan lokal serta mendorong pemanfaatan pangan lokal sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan pangan berkelanjutan. (Ditawati)








