BARITO SELATAN, Jelajah.co— Data dalam sistem mencatatnya berada di Desil 5. Namun, kondisi yang ditemukan di lapangan justru berbeda. Seorang penyandang disabilitas di Desa Kalahien, Kabupaten Barito Selatan, diketahui tidak lagi menerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) sejak pertengahan 2025.
Kondisi tersebut menggerakkan Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Barito Selatan, Syahdani, S.Pd., untuk turun langsung menemui Ahi Leluni di kediamannya, Sabtu (31/10/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Syahdani bersama jajaran Dinas Sosial Barito Selatan dan didampingi aparat Desa Kalahien menyerahkan bantuan sembako kepada Ahi Leluni.
Ahi Leluni merupakan penyandang disabilitas yang hidup dalam keterbatasan. Berdasarkan keterangan yang diperoleh Dinas Sosial, bantuan PKH yang sebelumnya diterimanya terhenti sejak pertengahan tahun 2025.
Setelah dilakukan penelusuran melalui Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial Next Generation (SIKS-NG), data Ahi Leluni tercatat berada pada Desil 5, sehingga berdasarkan data tersebut ia tidak tercatat sebagai penerima bantuan yang sama.
Padahal, kondisi yang ditemukan di lapangan menjadi perhatian Dinas Sosial. Ahi Leluni diketahui tidak bekerja dan kehidupannya masih bergantung pada dukungan keluarga.
Melihat kondisi tersebut, Syahdani memilih mendatangi langsung rumah sederhana tempat Ahi Leluni tinggal.
“Tadi langsung kami serahkan bantuan sembako untuk Ibu Ahi Leluni. Beliau kita daftarkan juga di aplikasi lewat Agent Perlinsos, dengan harapan bisa kembali mendapat bantuan dari pusat,” ujar Syahdani.
Menurutnya, bantuan sembako yang diserahkan merupakan bentuk respons awal untuk membantu meringankan kebutuhan sehari-hari.
Namun, Dinas Sosial Barsel tidak berhenti pada penyaluran bantuan tersebut.
Ahi Leluni juga telah didaftarkan melalui Agent Perlinsos oleh petugas Dinas Sosial sebagai bagian dari upaya pengusulan dan pemutakhiran data, agar kondisinya dapat kembali menjadi perhatian dalam penyaluran program bantuan sosial.
Syahdani berharap proses tersebut dapat membuka peluang bagi Ahi Leluni untuk kembali mendapatkan bantuan sosial sesuai dengan ketentuan dan hasil verifikasi yang berlaku.
“Kami berharap bantuan yang diserahkan hari ini bisa sedikit membantu kebutuhan sehari-hari. Sementara untuk bantuan dari pusat, sudah kami lakukan pengusulan melalui mekanisme yang ada,” katanya.
Kisah Ahi Leluni menjadi gambaran pentingnya kesesuaian antara data kesejahteraan sosial dan kondisi faktual masyarakat.
Di balik klasifikasi angka dan desil dalam sistem, terdapat kondisi kehidupan masyarakat yang membutuhkan verifikasi dan perhatian langsung dari pemerintah.
Kunjungan Kadinsos Barsel ke Desa Kalahien pun bukan hanya tentang penyerahan paket sembako. Kehadiran langsung di rumah warga menjadi bagian dari upaya melihat kondisi penerima bantuan secara nyata sekaligus memastikan persoalan yang dihadapi masyarakat dapat ditindaklanjuti melalui mekanisme pemerintah.
Kini, Dinas Sosial Barito Selatan menunggu proses lebih lanjut atas data dan usulan yang telah disampaikan melalui Agent Perlinsos.
Sementara itu, bantuan sembako diharapkan dapat membantu meringankan kebutuhan Ahi Leluni sembari menunggu tindak lanjut dari program perlindungan sosial.
(Abeh)








