Oleh: Cut Habibi (Pemred Jelajah.co)
Pukul enam pagi seharusnya menjadi waktu terbaik menghirup udara segar. Matahari perlahan muncul dari balik pepohonan yang mengelilingi Perumahan Hajimena Garden, Kecamatan Natar, Lampung Selatan. Burung-burung mulai bersahutan. Jalan-jalan kecil di dalam kompleks mulai ramai oleh sepeda motor yang mengantar anak sekolah, sementara sebagian warga bersiap berangkat bekerja.
Tidak ada yang tampak berbeda. Rumput masih basah oleh embun. Daun-daun bergerak pelan diterpa angin. Dari kejauhan terdengar suara ayam bersahutan, seperti pagi-pagi lain yang pernah datang sebelumnya.
Namun bagi sebagian warga, pagi bukan lagi tentang embun atau cahaya matahari. Pagi adalah soal menunggu. Menunggu apakah angin hari itu membawa sesuatu yang tidak mereka harapkan.
Sebelum membuka jendela, sebagian warga lebih dulu menghirup udara dari celah pintu. Bukan untuk menikmati kesegaran pagi, melainkan memastikan apakah bau menyengat kembali datang.
Di banyak perumahan, percakapan pagi biasanya sederhana.
“Semalam hujan ya.”
“Hari ini panas.”
“Enak sekali udaranya.”
Tetapi di Hajimena Garden, pagi sering dimulai dengan kalimat yang berbeda.
“Baunya keluar lagi gak?.”
Kalimat itu terdengar biasa, hanya empat kata. Namun ketika diucapkan hampir setiap hari oleh orang yang berbeda, ia berhenti menjadi percakapan biasa, ia berubah menjadi rutinitas.
Di grup WhatsApp warga, di teras rumah, bahkan saat dua tetangga berpapasan, topik yang muncul hampir selalu sama.
“Masih bau.”
“Hari ini lebih menyengat.”
Tidak semua orang bereaksi dengan cara yang sama.
Ada yang memilih menutup pintu.
Ada yang menunda menjemur pakaian.
Ada pula yang hanya menggeleng pelan, seolah sudah lelah mengeluhkan hal yang sama.
Begitulah manusia, ia memiliki kemampuan luar biasa untuk beradaptasi, bahkan terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ingin ia biasakan.
Di belakang deretan rumah itu berdiri sebuah pabrik, dari beberapa halaman belakang warga, cerobongnya terlihat menjulang di atas atap rumah.
Jaraknya sangat dekat, tembok pembatas menjadi satu-satunya pemisah antara kawasan industri dan permukiman.
Di satu sisi, mesin-mesin bekerja menghasilkan produk. Di sisi lain, keluarga-keluarga menjalani kehidupan yang sederhana.
Anak-anak belajar berjalan.
Ibu-ibu menyapu halaman.
Ayah-ayah berangkat mencari nafkah.
Dua dunia yang hidup berdampingan, tetapi tidak selalu merasakan kenyamanan yang sama.
Ketika gangguan itu mulai terasa semakin sering, warga tidak langsung turun ke jalan, mereka tidak membawa pengeras suara, tidak pula memasang spanduk penolakan, mereka memilih jalan yang paling sederhana, yakni berdialog menyampaikan keluhan, berharap persoalan bisa selesai tanpa harus menjadi konflik.
Harapan itu kemudian dituangkan dalam sebuah surat kepada pihak perusahaan.
Isinya sederhana, warga meminta agar persoalan bau yang mereka rasakan segera dicarikan solusi. Mereka percaya, setiap persoalan selalu memiliki jalan keluar selama ada kemauan untuk saling mendengar.
Perusahaan sempat menyampaikan komitmen akan melakukan pembenahan, termasuk membangun blower dan memasang peredam sebagai upaya mengurangi gangguan yang dikeluhkan masyarakat.
Harapan sempat tumbuh, namun hari berganti minggu, minggu berganti bulan, namun bagi warga, pagi masih terasa sama. Kalimat yang sama kembali muncul.
“Masih bau.”
Perlahan, persoalan yang semula hanya menjadi obrolan antarwarga berubah menjadi perhatian yang lebih luas, keluhan tidak lagi berhenti di lingkungan perumahan.
Warga mulai menyampaikan pengaduan kepada pemerintah. Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lampung Selatan akhirnya turun langsung ke lokasi.
Petugas mendengarkan cerita warga, meninjau area sekitar pabrik, dan melihat langsung kondisi di lapangan.
Namun, bagi warga, jawaban yang paling mereka tunggu bukan sekadar penjelasan, mereka ingin merasakan perubahan ketika membuka pintu rumah pada pagi hari.
Kasus ini pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah pabrik, ia juga bukan sekadar tentang surat, izin, atau hasil pemeriksaan. Lebih dari itu, ia adalah cerita tentang ruang hidup.
Tentang bagaimana di sebuah kawasan permukiman bisa berdiri sebuah pabrik industri.
Tentang bagaimana pembangunan diuji bukan hanya oleh angka investasi, tetapi juga oleh kemampuan menjaga kualitas hidup masyarakat di sekitarnya.
Di Hajimena Garden, perjuangan itu masih berlangsung, belum ada akhir cerita, belum ada jawaban yang benar-benar memuaskan semua pihak.
Yang ada hanyalah harapan bahwa suatu hari nanti, warga tak lagi memulai pagi dengan satu pertanyaan yang sama.
Esok pagi, matahari kemungkinan akan kembali terbit dari arah yang sama.
Burung-burung tetap akan berkicau.
Anak-anak akan kembali bersiap menuju sekolah.
Sebagian orang akan membuka jendela rumahnya tanpa memikirkan apa pun.
Namun di Perumahan Hajimena Garden, masih ada warga yang terlebih dahulu menghirup udara dari balik pintu sebelum benar-benar membuka jendela.
Mereka hanya ingin memastikan satu hal.
Apakah pagi ini bau itu kembali datang.
Barangkali, itulah yang membedakan sebuah rumah dengan sekadar tempat tinggal.
Rumah seharusnya menjadi tempat paling nyaman untuk bernapas.
Dan hingga hari ini, sebagian warga Hajimena Garden masih menunggu pagi ketika mereka dapat membuka jendela tanpa rasa khawatir.








