BARITO SELATAN, Jelajah.co – Sebanyak 256 pelajar tingkat SD dan SMP mengikuti Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2026 tingkat Kabupaten Barito Selatan (Barsel), Kalimantan Tengah. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya memperkuat kecintaan generasi muda terhadap bahasa daerah di tengah derasnya arus modernisasi.
Festival yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Barsel tersebut berlangsung di Aula Kantor Sekretariat Daerah, Kamis (29/10/2026). Ketua TP-PKK Barsel sekaligus Bunda PAUD, Dr. Hj. Permana Sari, S.Si., MM., MBA., hadir dan mengajak seluruh pihak menjaga keberlangsungan bahasa ibu sebagai warisan budaya.
Dalam sambutannya, Hj. Permanasari menegaskan bahwa bahasa ibu bukan sekadar alat komunikasi, melainkan bagian penting dari sejarah, adat istiadat, nilai leluhur, dan identitas masyarakat.
“Bahasa ibu merupakan warisan budaya yang sangat berharga. Melalui bahasa daerah, kita mengenal sejarah, adat istiadat, nilai leluhur dan identitas budaya yang diwariskan turun-temurun,” tuturnya.
Ia mengingatkan bahwa penggunaan bahasa ibu mulai berkurang di kalangan generasi muda seiring perkembangan teknologi dan perubahan zaman. Karena itu, FTBI dinilai menjadi momentum untuk menumbuhkan kembali kebanggaan anak-anak dalam menggunakan bahasa daerah.
“Melalui FTBI ini mari kita tanamkan pentingnya mencintai dan melestarikan bahasa daerah agar tidak punah dan tetap digunakan generasi mendatang,” tegasnya.
Hj. Permanasari juga berpesan kepada seluruh peserta agar mengikuti perlombaan dengan penuh semangat. Menurutnya, menang atau kalah merupakan hal biasa, sedangkan keberanian tampil dan kebanggaan menggunakan bahasa ibu menjadi nilai penting yang harus dimiliki peserta.
Sementara itu, Ketua Panitia, Dr. Manat Simanjuntak, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa FTBI merupakan wadah bagi generasi muda untuk mengenal sekaligus melestarikan bahasa daerah sebagai warisan budaya. Dalam pelaksanaannya, panitia melibatkan 24 orang juri untuk melakukan penilaian pada setiap cabang lomba.
Melalui festival ini, Pemerintah Kabupaten Barito Selatan diharapkan terus mendorong pelestarian bahasa Dayak Bakumpai, Ma’anyan, Dusun, Bijajo, dan Teboyan. Dengan demikian, bahasa daerah tetap hidup dan menjadi bagian dari identitas masyarakat Barsel bagi generasi mendatang. (Abeh)








