BUNTOK, Jelajah.co — Kondisi kabut asap di Kabupaten Barito Selatan (Barsel) semakin mengkhawatirkan. Pantauan Stasiun Pemantau Kualitas Udara Kabupaten Barito Selatan di Sanggu pada Selasa (6/10/2026) pukul 19.00 WIB menunjukkan angka Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) mencapai 1.000, dengan kategori berbahaya.
Berdasarkan data yang dipantau, parameter kritis adalah PM10. Konsentrasi PM10 tercatat mencapai 700 µg/m³, sementara PM2.5 juga berada pada angka 700 µg/m³.
Data tersebut menunjukkan kualitas udara berada jauh di atas ambang kategori berbahaya. DLH Kabupaten Barito Selatan sendiri menetapkan ISPU mulai 301 masuk kategori berbahaya dan mengingatkan masyarakat meningkatkan kewaspadaan ketika kualitas udara memburuk.
Kondisi atmosfer saat pemantauan juga menunjukkan angin 0 km/jam, kelembapan 90 persen, suhu 27,9 derajat Celsius dan curah hujan 0 milimeter. Kondisi minim pergerakan angin tersebut berpotensi membuat asap bertahan lebih lama di sekitar wilayah terdampak.
Pantauan lapangan Jelajah.co pada Selasa malam sekitar pukul 19.58–20.00 WIB di pusat Kota Buntok juga menunjukkan jarak pandang sangat terbatas, sekitar 4–5 meter. Pengendara terlihat harus menyalakan lampu kendaraan untuk membantu visibilitas di tengah pekatnya kabut asap.
Situasi tersebut menambah risiko keselamatan pengguna jalan sekaligus meningkatkan ancaman terhadap kesehatan masyarakat. Sebelumnya, Dinas Kesehatan Barsel telah melakukan pembagian masker dan mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Pemkab juga telah menyediakan Rumah Oksigen Gratis bagi masyarakat terdampak kabut asap.
Di tengah kondisi tersebut, Anggota DPRD Barito Selatan dari Partai NasDem daerah pemilihan Dusun Utara dan Gunung Bintang Awai, Arbanu, meminta pemerintah daerah segera mengambil langkah lebih serius.
Menurut Arbanu, penanganan kabut asap tidak cukup hanya mengandalkan upaya pemadaman karhutla. Ia juga menyoroti aktivitas di jalur angkutan batu bara yang menurutnya turut memperburuk kondisi udara di kawasan permukiman.
“Tanggapan saya mengenai asap di Barsel perlu ditangani atau diantisipasi. Apalagi di bagian atas, di lingkungan tambang dan jalur hauling batu bara, PT MUTU dan juga PT PIR sangat mengganggu kesehatan warga akibat asap bercampur debu karena tidak efektifnya penyiraman di daerah padat penduduk,” tegas Arbanu kepada Jelajah.co, Rabu (7/10/2026).
Arbanu meminta perusahaan tambang maupun perusahaan angkutan batu bara yang melintasi kawasan permukiman meningkatkan penyiraman jalan hauling. Menurutnya, pengendalian debu perlu dilakukan secara intensif untuk mengurangi paparan partikulat kepada masyarakat.
Ia juga mendesak Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Kesehatan Barsel segera memberikan penjelasan kepada masyarakat serta mengambil langkah konkret menyikapi memburuknya kualitas udara.
Sementara itu, masyarakat diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker saat harus keluar rumah, serta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami keluhan seperti batuk, sesak napas, atau gangguan pernapasan. Dinkes Barsel sebelumnya juga mencatat layanan kesehatan bagi warga terdampak asap dan menyediakan fasilitas oksigen untuk penanganan keluhan pernapasan. (Abeh)








