• Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy
Rabu, 10 Desember 2025
Kirimi Artikel Yukk  
www.jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
No Result
View All Result
Jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
Home Nusantara Lampung

Kasus Dugaan Korupsi Dana Hibah KONI Lampung: Sorotan ke Peran Bendahara Umum dan Ketua KONI

Redaksi by Redaksi
26 Juli 2025
in Lampung, Pemerintahan
A A
Share on FacebookShare on Twitter

Bandar Lampung, Jelajah.co – Nama Liliana Ali, Bendahara Umum KONI Provinsi Lampung periode 2019–2023, kembali mencuat dalam pusaran dugaan korupsi dana hibah KONI Lampung senilai Rp2,5 miliar dari total anggaran Rp29 miliar yang tengah diselidiki Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung.

Ketua Umum Gerakan Pergerakan Anti Korupsi (Gepak) Lampung, Wahyudi, menilai Liliana memiliki peran sentral dalam proses pencairan dana hibah tersebut bersama Ketua KONI Lampung kala itu, Yusuf Barusman.

“Proses pencairan uang itu harus membubuhkan tanda tangan dua orang, yaitu Ketua KONI dan Bendahara Umum KONI yang waktu itu dijabat Liliana Ali,” tegas Wahyudi, Sabtu (26/7/2025).

BACA JUGA

Granat Kukuhkan 30 Penyuluh Remaja Sebaya di Bandar Lampung

10 Desember 2025

UIN RIL Terima Penghargaan dari Kemenag RI sebagai PPID PTKN Berkinerja Terbaik

9 Desember 2025

Ia menilai mustahil pencairan dana dilakukan tanpa keterlibatan aktif keduanya. Karena itu, Gepak mendesak Kejati Lampung untuk memeriksa secara serius peran Liliana Ali dalam aliran dana yang menjadi objek dugaan korupsi.

Desakan Agar Kejati Bertindak Tegas

Wahyudi juga menyoroti belum jelasnya pihak yang mengembalikan kerugian negara dalam perkara ini. Menurutnya, hal ini menjadi alasan klasik Kejati Lampung untuk tidak menetapkan tersangka utama.

“Siapakah yang mengembalikan uang kerugian negara? Ini menjadi kendala utama pihak Kejati Lampung untuk menemukan mens rea (niat jahat pelaku),” ujarnya.

Ia bahkan mengaku pernah menantang langsung pihak Kejati Lampung, ketika posisi Asisten Pidana Khusus masih dijabat Hutamrin, untuk menetapkan siapa yang benar-benar bertanggung jawab dalam kasus tersebut.

“Saya sempat menantang pihak Kejati Lampung untuk menunjukkan mens rea kasus KONI tersebut,” katanya.

Namun, hingga kini puluhan orang telah diperiksa tanpa ada kejelasan mengenai siapa tersangka yang sesungguhnya. Wahyudi berharap Kejati Lampung yang baru dapat mengambil langkah konkret.

“Harapannya, Kejati yang baru punya taring untuk menuntaskan kasus ini agar bisa terungkap,” imbuhnya.

Ia bahkan mempertanyakan keseriusan Kejati Lampung.

“Kalau tidak mampu, beranikah Kejati mengeluarkan SP3 agar kasus ini memiliki kepastian hukum? Jangan sampai ada lagi orang yang dikorbankan hanya demi meredam dorongan publik seperti yang terjadi pada AN,” tegasnya.

Pandangan Praktisi Hukum

Praktisi hukum Indah Meilan, SH turut menguatkan pandangan tersebut. Menurutnya, bendahara memegang peran krusial dalam pengelolaan dana hibah.

“Bendahara adalah pelaksana kebijakan keuangan, pengelola anggaran, pembukuan dan verifikasi, penyusun laporan keuangan, serta pendampingan dan narasumber. Jadi, seluruh pengelolaan keuangan bersumber dari bendahara atas persetujuan ketua,” jelasnya.

Indah menegaskan, dalam setiap penyimpangan anggaran, tanggung jawab utama ada di tangan Ketua dan Bendahara.

“Kalau ada markup atau selisih anggaran, pihak yang bertanggung jawab penuh adalah Ketua dan Bendahara. Tidak mungkin melibatkan orang lain. Orang lain hanya sebagai anggota dengan fungsi berbeda,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan, jika KONI menerima dana hibah dari negara, maka penyalahgunaannya jelas termasuk tindak pidana korupsi dengan ancaman pidana minimal 4 tahun dan maksimal 20 tahun.

“Peran mereka berdua adalah ujung tombak seluruh kegiatan. Maka tidak perlu mencari kambing hitam ke pihak lain,” ujarnya lagi.

Indah secara pribadi menyatakan keberatan jika Ketua dan Bendahara tidak dijadikan tersangka, karena peran mereka sangat jelas dan kerugian negara yang ditimbulkan nyata.

Suara dari Mantan Pengurus KONI

Sementara itu, AN, mantan pengurus KONI Lampung yang pernah dijadikan tersangka dalam perkara ini, menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki kewenangan terhadap pengelolaan dana hibah.

“Saya adalah Wakil Ketua Bidang Perencanaan. Tidak ada tupoksi untuk mengelola uang,” jelas AN, dikutip dari Haluan Lampung.

Ia juga menyebut Ketua KONI saat itu, Yusuf Barusman, telah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) terkait pejabat yang berwenang menggunakan anggaran PON XX.

“PPK-lah yang mengeluarkan SK pejabat pemeriksa hasil, SK pejabat pengadaan barang dan jasa, serta SK panitia pemeriksa hasil pekerjaan,” terangnya.

Perlu Kejelasan Hukum

Kasus dugaan korupsi dana hibah KONI Lampung ini telah berlangsung lama tanpa kepastian hukum. Sorotan publik kini mengarah pada keberanian Kejati Lampung yang baru untuk mengambil langkah tegas: memeriksa peran sentral Ketua dan Bendahara KONI saat itu atau memberikan kepastian hukum melalui penerbitan SP3 jika memang tidak ditemukan bukti kuat.

Tanpa langkah konkret, publik khawatir kasus ini hanya akan kembali menjadi contoh mandeknya penegakan hukum terhadap dugaan korupsi di tubuh organisasi olahraga daerah. (Red)

Previous Post

Fakultas Psikologi Islam UIN Raden Intan Jalin MoA dengan LPKA Bandar Lampung

Next Post

Restu Akbari Pimpin Pagar Nusa Pesisir Barat

Redaksi

Redaksi

Redaksi www.jelajah.co

BERITA POPULER

Warga Komplek Puri Asih Sejahtera Tolak Sengketa Lahan, PN Bekasi Lakukan Peninjauan Setempat

2 Desember 2025

FORMALIS Lampung Gelar Aksi Besar Terkait Dugaan Mafia BBM Subsidi di Tanggamus

30 November 2025

Warga Dusun 1 Way Huwi Kompak Lanjutkan Pengecoran Jalan

16 November 2025

BSP 2025: Solidaritas untuk Palestina Mengalir dari Sungai Mahakam Kalimantan Timur

25 November 2025

ALAK Serukan Penyidikan Dugaan KKN di Dinsos dan DLH Lampung, Kejati Diminta Bertindak

27 November 2025

Sekdaprov Lampung Raih Penghargaan Vision Terbaik pada ASKOMPSI Digital Leadership Government Award 2025

20 November 2025
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.