Lampung Timur,Jelajah.co — Peluncuran City Branding Kabupaten Lampung Timur dan Konsultasi Publik Rancangan Awal RKPD 2027 pada Rabu,(7/1/2026) menjadi sorotan tajam dunia usaha.
Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPC HIPMI) Lampung Timur menegaskan bahwa identitas visual baru daerah harus menjadi kompas utama dalam mengarahkan aliran APBD 2027.
Ketua Umum BPC HIPMI Lampung Timur, Fitra Aditya Irsyam, menegaskan bahwa momentum ini bukan sekadar seremoni pergantian simbol. Ia menyebutnya sebagai sinyal “naik kelas” Lampung Timur untuk bertarung di kancah investasi nasional.
Aditya menyoroti poin krusial dalam paparan Bappeda: mandat alokasi 40 persen APBD untuk belanja infrastruktur pelayanan publik. Baginya, angka ini adalah “amunisi” jika dikelola dengan presisi.
“Kami tidak ingin City Branding ini hanya jadi kosmetik di atas kertas. Ada mandat infrastruktur 40 persen di APBD. Angka besar ini harus dikunci untuk membangun simpul ekonomi yang sesuai dengan citra baru daerah,” ujar Aditya tegas di sela-sela kegiatan.
Menurutnya, keselarasan antara Branding (citra) dan Budgeting (anggaran) adalah harga mati. Jika Lampung Timur ingin dikenal sebagai pusat hilirisasi, maka belanja modal 2027 wajib diprioritaskan untuk infrastruktur penunjang industri, bukan proyek-proyek sporadis tanpa arah.
Mengingat proyeksi Belanja Modal 2027 masih dalam tahap rancangan awal, HIPMI memandang posisi ini sebagai “kanvas putih” yang harus diisi dengan perspektif pasar yang tajam.
“Justru karena pos Belanja Modal masih dirancang, pemerintah harus duduk bersama pelaku usaha. Kami menawarkan kacamata bisnis: mana infrastruktur yang paling cepat mendatangkan PAD dan mana yang paling diinginkan investor. Kita bicara dampak ekonomi riil,” tambahnya.
Menutup pernyataannya, Aditya menegaskan komitmen HIPMI untuk menjadi mitra kritis sekaligus strategis dalam menerjemahkan visi “Hilirisasi dan Pertumbuhan Berkelanjutan” yang diusung Bupati Lampung Timur.
“Pemerintah bangun ‘relnya’ lewat regulasi dan infrastruktur di RKPD, kami pengusaha muda yang akan menggerakkan ‘kereta ekonominya’. Sinergi ini harus akseleratif. Lampung Timur 2027 tidak boleh lagi sekadar berjalan, tapi harus berlari,” pungkasnya.







