Oleh: Amri Alfarisi (Digital Illustrator and Visual Artist)
Kita semua kena scam tiap tahun. Pelakunya? Iklan sirup di TV.
Liat aja visualnya; ruang tamu dengan color grading yang anget, keluarga pake baju seragam dengan saturasi warna yang pas, meja makan penuh hidangan estetik, dan semua orang senyum seolah nggak punya beban cicilan. Tapi pas hari-H? Realitanya sering kali noise banget, pecah, dan jauh dari kata high definition.
Gua nggak benci Lebaran. Gua cuma mau jujur-jujuran aja soal apa yang sebenernya terjadi di balik postingan Instagram yang rapi itu.
Panggung Gengsi di Ruang Tamu
Silaturahmi itu konsepnya mulia, tapi praktiknya sering jadi ajang flexing tanpa filter. Ruang tamu mendadak berubah jadi panggung kecil buat pamer pencapaian.
Ada yang sibuk naruh kunci mobil di meja biar keliatan logonya, ada yang dandanannya lebih menor dari pengantin cuma biar dibilang sukses di rantau. Obrolan bukan lagi soal “gimana kabar hati?”, tapi “berapa digit gaji?”. Buat sebagian orang, kalau nggak punya “aset” buat dipamerin, cuma bakal jadi figuran yang kena blur di latar belakang. Malesin, kan?
‘Tax’ Tahunan Berkedok Amplop
Tradisi bagi-bagi THR ke bocah itu asik kalau kantong lagi tebel. Tapi buat yang lagi berjuang nata cash flow, ini tuh kayak pajak sosial tahunan yang wajib dibayar demi menjaga gengsi di depan keluarga besar.
Mau pelit, nggak enak sama tetangga. Mau royal, besoknya makan promag. Realitas ekonomi kita sering dipaksa tunduk sama ekspektasi keluarga yang nganggep kalau udah kerja, berarti adalah mesin ATM berjalan yang nggak boleh rusak. Burn rate tabungan ludes dalam sehari cuma buat beli “penerimaan” sosial.
‘Crew’ vs ‘Talent’: Produksi yang Nggak Adil
Coba liat ke dapur pas H-1. Itu tuh kayak chaos di balik panggung fashion show. Bedanya, yang kerja rodi biasanya cuma nyokap, kakak perempuan, atau bibi-bibi kita. Sementara yang cowok? Anteng ngerokok di teras sambil bahas politik atau ban mobil.
Distribusi beban kerja ini udah ‘bobrok’ dari sananya karena dianggap tradisi. Padahal, kalau mau momennya beneran fitrah, ya pembagian tugasnya juga harus adil. Jangan cuma mau jadi ‘talent’ yang tampil rapi pas makan, tapi ogah jadi ‘crew’ pas lagi repot-repotnya. Nggak ada estetikanya sama sekali kalau kebahagiaan cuma dibangun di atas punggung satu-dua orang doang.
Menghadapi ‘Sidang Pleno’ Keluarga
Dan tentu saja, menu wajib Lebaran: Sidang Pleno “Kapan Nikah?”.
Dulu gua sering baper, sekarang gua udah nyiapin jawaban pake bahasa yang biasa gua pake di depan monitor:
“Masih proses rendering, Om Tante. Speknya sengaja gua set resolusi paling tinggi biar hasilnya maksimal. Kalau dipaksa export sekarang, takutnya pecah dan pixelated. Emang Om mau tanggung jawab kalau hasilnya glitch?”
Gua juga punya opsi buat nangkis yang mungkin cocok sama profesi lain. Anak Finance bisa jawab kalau pasangannya lagi kena due diligence ketat atau valuasinya belum cocok buat investasi jangka panjang. Daripada likuiditas rumah tangga mampet, mending tunda dulu sampai cash flow aman.
Kalo anak Hukum, bilang aja kalau “berkas asmaranya belum P21” atau masih nunggu amar putusan yang inkrah dari takdir biar nggak kena gugatan di kemudian hari. Sementara buat temen-temen Penulis, jawab aja sambil nyengir kalau plot hidupnya lagi kena writer’s block parah. Butuh banyak revisi dan editing sebelum berani naik cetak ke pelaminan.
Pake humor buat nangkis pertanyaan personal itu jauh lebih cerdas buat jaga kewarasan daripada harus debat kusir yang bikin suasana lebaran jadi makin noise.
Jujur Itu Lebih ‘Fitrah’
Ngapain kita terus-terusan nampilin visual yang perfect kalau aslinya kita capek mental? Mengakui kalau Lebaran itu melelahkan bukan berarti kita nggak bersyukur. Justru itu bikin kita jadi manusia yang lebih real.
Kita nggak perlu jadi iklan sirup yang manisnya berlebihan. Kadang, Lebaran yang sedikit berantakan, banyak debatnya, dan dompet yang rada tipis itu jauh lebih jujur daripada foto keluarga hasil editan filter yang maksa.
Jadi, buat yang lagi siap-siap mudik, bagi-bagi THR, atau lagi nyusun mental buat ketemu keluarga besar: santai aja. Hidup bukan buat menuhi standar iklan TV.
Mohon maaf lahir batin. Semoga Lebaran tahun ini raw, jujur, dan nggak kebanyakan gimmick.








