Oleh: Cut Habibi (Pemred Jelajah.co)
Bundaran HI, Jakarta, suara orasi mahasiswa siang itu bergulung seperti ombak yang tak henti-henti. Spanduk terbentang, pengeras suara memecah udara, dan jalan protokol berubah menjadi panggung protes yang penuh tensi.
Namun di sela keramaian itu, ada satu sudut kecil yang nyaris luput dari sorotan sekelompok anak sekolah berdiri di tepi kerumunan. Mereka tidak membawa spanduk, tidak berorasi, hanya menatap keramaian dengan rasa ingin tahu yang polos.
Seorang streamer Indonesia, Bigmo, yang tengah melakukan siaran langsung di lokasi, mendekat ke arah mereka.
“Pada ngapain nih di sini?” tanyanya ringan.
“Lihat-lihat aja,” jawab salah satu anak sambil tersenyum kecil.
Tak ada jarak yang terasa kaku. Di tengah riuh kota yang sedang memanas, percakapan itu justru terdengar sederhana hampir seperti obrolan di pinggir jalan sepulang sekolah.
Namun kesederhanaan itu berubah makna ketika Bigmo bertanya soal program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang hari itu juga menjadi salah satu isu dalam aksi mahasiswa.
“Mudah-mudahan MBG nggak dihapus ya bang,” ucap salah satu anak pelan, nyaris seperti doa yang tidak ingin hilang di tengah kebisingan jalan raya.
Mereka mengaku sebagai penerima manfaat program tersebut di sekolah. Bagi mereka, MBG bukan sekadar istilah kebijakan, melainkan sesuatu yang nyata yang hadir di piring makan siang mereka, yang mungkin menjadi satu-satunya asupan bergizi di hari itu.
Beberapa waktu kemudian, Bigmo kembali berjalan ke arah barisan massa aksi mahasiswa. Suasana berubah. Suara orasi kembali mendominasi udara.
Ketika ditanya soal tuntutan, seorang mahasiswi menjawab dengan tegas tanpa ragu.
“Hapus MBG.”
Kalimat itu singkat, tapi tegas. Seperti titik akhir dari sebuah keyakinan.
Bigmo lalu menoleh ke arah anak-anak yang masih berdiri tidak jauh dari lokasi. Ia menyampaikan bahwa di sana ada anak-anak sekolah yang justru berharap program itu tetap berjalan.
Sejenak, ruang itu seperti kehilangan suaranya sendiri seperti sesuatu yang tiba-tiba berhenti di tengah jalan.
Di Antara Dua Dunia yang Tidak Saling Menatap Lama
Peristiwa itu mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Namun ia meninggalkan jejak yang lebih panjang di kepala siapa pun yang melihatnya.
Di satu sisi jalan, ada suara mahasiswa yang memandang kebijakan dari kaca mata besar negara: anggaran, prioritas, dan arah pembangunan. Di sisi lain, ada anak-anak yang memandangnya dari jarak paling dekat dari isi kotak makan siang mereka.
Dan di Bundaran HI hari itu, dua dunia itu sempat bertemu. Bukan dalam debat panjang. Bukan dalam ruang diskusi resmi.
Hanya dalam sebuah jeda singkat, ketika pertanyaan sederhana tentang “makan siang di sekolah” berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit dari sekadar pro dan kontra.
Mungkin di situlah letak getirnya kebijakan: ia bisa diperdebatkan di jalanan, tetapi juga langsung dirasakan di meja makan anak-anak yang bahkan belum memahami apa itu kebijakan.
Dan di antara teriakan dan harapan itu, tidak semua jawaban harus lahir hari itu juga.








