Bandar Lampung, Jelajah.co – Pesantren Ramadan di MAN 1 Bandar Lampung tahun ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan momentum pembentukan karakter dan tanggung jawab sosial siswa.
Di bawah arahan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam dan kebijakan Kementerian Agama Republik Indonesia, kegiatan ini ditegaskan sebagai ruang pembelajaran moral agar generasi muda tidak hanya fasih teori agama, tetapi siap hadir dan dibutuhkan di tengah masyarakat.
Kepala MAN 1 Bandar Lampung, Lukman, ASN senior di lingkungan Kementerian Agama, menegaskan bahwa Pesantren Ramadan dirancang sebagai laboratorium praktik keagamaan. Siswa dibimbing memahami fiqih ibadah, memperkuat bacaan Al-Qur’an, hingga melakukan simulasi praktik sosial-keagamaan seperti penyelenggaraan jenazah dan tata cara shalat.
“Pesantren Ramadan ini bukan hanya memperbanyak ceramah. Anak-anak harus mampu mempraktikkan ilmunya. Ketika nanti kembali ke masyarakat, mereka tidak canggung menjadi imam, memimpin tahlil, atau membantu prosesi jenazah,” ujarnya.
Program ini juga menanamkan pesan moral tentang kepedulian sosial dan kesiapan generasi muda mengambil peran. Lukman menekankan bahwa pendidikan agama harus berdampak nyata, bukan berhenti di ruang kelas.
Menurutnya, lulusan madrasah idealnya menjadi pribadi yang solutif di lingkungannya. Minimal, siswa laki-laki memahami peran dasar sebagai imam shalat dan mampu memimpin doa bersama. Sementara seluruh siswa dibekali pemahaman ibadah yang aplikatif agar kehadiran mereka memberi manfaat bagi masyarakat.
Di bawah kepemimpinannya, MAN 1 Bandar Lampung terus menguatkan pembelajaran berbasis praktik nilai-nilai keislaman. Pesantren Ramadan menjadi simbol komitmen madrasah dalam membentuk generasi yang berilmu, berakhlak, dan siap menjadi penggerak kebaikan di tengah kehidupan sosial.








