• Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy
Minggu, 6 September 2026
Kirimi Artikel Yukk  
www.jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
No Result
View All Result
Jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
Home Sudut Pandang

Petani Menangis, Negeri Impor dan Sabda Pangan yang Membingungkan

Redaksi by Redaksi
11 Mei 2025
in Sudut Pandang
A A
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Cut habibi

Di sebuah negeri agraria bernama Nusantara Raya, rakyat petani adalah prajurit utama. Mereka menggenggam cangkul, menggali tanah, menanam singkong—bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi demi menyokong ketahanan pangan negeri.

Namun, sabda yang turun dari istana pangan berbeda arah. Alih-alih memperkuat prajuritnya—yakni petani singkong—sang Menko Pangan, Zulkifli Hasan, justru melanggengkan kebijakan impor tepung singkong dari luar negeri.

BACA JUGA

Register 44: Panen Tebu, Labirin Kepentingan dan Negara yang Seakan Tersesat

3 September 2026

Bila Pemimpinnya di Langit, Rakyatnya di Bumi, dan Programnya di Awang-Awang

2 September 2026

Kebijakan ini seperti memberi makan kerajaan dengan gandum asing, padahal lumbung negeri sendiri tengah penuh. Lebih menyakitkan lagi, kebijakan tersebut menciderai titah besar Presiden Prabowo Subianto yang menghendaki kedaulatan pangan maksimal dalam 4 hingga 5 tahun ke depan.

“Ladang kami ditanami singkong, tapi yang masuk pasar malah tepung dari luar negeri. Kami tak minta disubsidi, hanya tolong jangan disingkirkan,” keluh Paidi, petani dari Lampung Tengah, yang mengaku hasil panennya menumpuk di gudang karena tak laku. (11/05/25)

Dampaknya meluas. Petani mengalami kerugian, tengkulak menolak membeli, dan pabrik lokal gulung tikar karena kalah saing harga. Kebijakan ini tak hanya menyingkirkan singkong lokal dari pasar, tapi juga menyingkirkan harapan ribuan petani yang menggantungkan hidup pada tanaman umbi itu.

Lebih dari itu, keputusan ini memicu keresahan sosial. Petani merasa diperlakukan seperti rakyat kelas dua di tanahnya sendiri. Tak ada jaminan perlindungan, bahkan untuk bahan pangan selevel singkong.

Namun di tengah gelombang suara sumbang dari petani, Kementerian Perdagangan (Kemendag) mulai membuka ruang untuk perubahan. Dalam keterangan resminya, Plt. Dirjen Perdagangan Luar Negeri, Isy Karim, menyatakan bahwa pihaknya siap membahas usulan larangan dan pembatasan (lartas) impor singkong dan tapioka di Kemenko Perekonomian.

“Menanggapi permintaan pembatasan impor singkong dan tapioka, Kemendag siap melakukan pembahasan usulan lartas tersebut di Kemenko Bidang Perekonomian. Kami terbuka terhadap berbagai masukan dan evaluasi,” jelas Isy. (11/05/25)

Isy menegaskan, pembahasan akan dilakukan saat kondisi ekonomi global membaik dan tetap mempertimbangkan suara pemangku kepentingan. Harapan itu ada, tapi tak sedikit petani yang merasa janji itu terlalu lama menunggu.

“Kalau nunggu ekonomi dunia membaik, ladang kami keburu ditumbuhi alang-alang,” celetuk Warno, petani tua dari Metro, sambil menepuk topinya. (11/05/25)

Dan beginilah potret kerajaan agraria saat ini—petaninya bekerja siang malam, tapi yang dipuja adalah komoditas asing yang lebih murah. Sementara itu, di sudut-sudut desa, rakyat masih setia menjaga ladang, walau sabda istana tak lagi berpihak pada mereka.

Previous Post

Mohammad Hatta Terpilih Aklamasi Pimpin IKA UNTIRTA Lampung Periode 2025–2030

Next Post

1.000 Kuota Sekolah Rakyat Dibuka, Eva Dwiana: Semoga Semakin Banyak Anak Tak Mampu Terlayani

Redaksi

Redaksi

Redaksi www.jelajah.co

BERITA POPULER

Warga Muara Malungai Kibarkan Bendera Merah Putih Setengah Tiang, Sampaikan Protes Kondisi Jalan Rusak; PUPR Barsel Turunkan Alat Berat

8 Agustus 2026

Pemkab Barsel Pastikan Gaji PPPK Tetap Aman Ditengah Efisiensi

11 Agustus 2026

213 Pejabat Pemkab Barsel Dilantik, 111 Promosi dan 55 Mutasi

12 Agustus 2026

Haru! Nenek 91 Tahun Hadiri Upacara 17 Agustus 2026, Didampingi Bupati dan Wakil Bupati Barsel

17 Agustus 2026

Polemik Tambang Emas Way Kanan, Andi Surya Siap Fasilitasi Tambang Rakyat Dilegalkan: WPR Jadi Kunci

18 Agustus 2026

Wabup Barsel Resmikan Resort GKE Kamatang Pamelum Buntok

29 Agustus 2026
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.