• Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy
Rabu, 4 Februari 2026
Kirimi Artikel Yukk  
www.jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
No Result
View All Result
Jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
Home Sudut Pandang

Retret Kepemimpinan, Riyadhah Kebangasaan Ala Prabowo Subiyanto

Redaksi by Redaksi
15 Maret 2025
in Sudut Pandang
A A
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Wardi Taufiq, M.Si.

(Pengurus Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama)

(Ketua Pelaksana LSP Pariwisata Syariah Indonesia)

BACA JUGA

Cut habibi (Sekretaris DPD AWPI Provinsi Lampung)

Makan Gratis dan Tanggung Jawab yang Selalu Menguap

3 Februari 2026
Cut habibi (Sekretaris DPD AWPI Provinsi Lampung)

Ketika Ela “Mengelak”

1 Februari 2026

Jakarta – Retret kepemimpinan baru saja usai, tidak lama sebelum bulan Ramadan tiba. Dalam bahasa agama, retret itu bisa disebut riyadhah kebangsaan ala Prabowo Subianto. Kegiatan orientasi dengan ber-‘uzlah sejenak dari keramaian. Di sebuah tempat yang jauh dari ibu kota, para pemimpin berkumpul di Akmil Magelang.

Mereka datang ke Magelang bukan untuk rapat biasa, tapi untuk mengikuti kegiatan maha penting. Di sana digembleng dengan bekal kepemimpinan lahir dan batin. Mereka disiapkan menjadi nahkoda kapal dengan bendera Asta Cita.

Kini, masuk bulan suci, saatnya kembali menajamkan pertanyaan: Apakah kepemimpinan ini sudah amanah? Apakah kebijakan itu sudah adil? Bagaimana nasib pendidikan bangsa ini ke depan?

Tafakkur: Merenung dalam Keheningan

Saat itu, malam mulai larut, suasana Akmil diliputi keheningan, seorang pemimpin menatap laporan di tangannya, dan berkata. “Angka-angka ini terlihat bagus, tapi apakah rakyat benar-benar sejahtera? Di balik grafik pertumbuhan, tidak sedikit yang masih berjuang untuk sesuap nasi.”

Retret itu ingin mengajak para pemimpin sadar, keputusan yang dibuat bukan hanya tentang hitungan angka-angka, tetapi tentang nasib jutaan jiwa. Bukan juga hiruk pikuk politik, tapi kebijakan yang lebih berdampak.

Penting buat mereka untuk merenung, muhasabah, dan melakukan refleksi mendalam tentang kondisi sesungguhnya. Kebijakan ekonomi yang tampak sukses di atas kertas ternyata belum benar-benar menjangkau semua lapisan masyarakat.

Rakyat tahu, pemimpin itu penting mengikuti retret, seperti halnya dulu Nabi Muhammad ﷺ di Gua Hira. Bukan untuk lari, tapi untuk taffakur lebih dalam. Mereka harus sadar, dalam setiap pengambilan kebijakan perlu merenungkan titah ilahi ini:

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58).

Titah ilahi itu untuk mengetuk hati. Amanah kepemimpinan harus dijalankan dengan keadilan. Bukan sekadar strategi. Bukan juga sekadar angka. Kebijakan yang baik bukan hanya yang efektif secara administratif, tetapi juga yang selaras dengan nilai-nilai ilahi.

Tazkiyatun Nafs: Membersihkan Hati dari Ego

Dalam momen riyadhah kebangsaan itu, seorang peserta angkat bicara: “Kadang kita terlalu sibuk membangun jalan, tetapi apakah hati rakyat benar-benar merasakan kesejahteraan?”

Tidak ada keraguan, infrastruktur itu sangat penting. Namun buat rakyat, kepemimpinan bukan sekedar tentang hal itu, apalagi cuma pencitraan. Tapi tentang keikhlasan. Tentang ketulusan melayani.

Itulah makna dari raut wajah Prabowo Subiato di balik ide retret itu, tak lain dan tak bukan adalah soal keikhlasan dan ketulusan. Para pemimpin ditantang untuk mencontoh Khalifah Umar bin Khattab yang selalu turun langsung ke lapangan untuk menjawab keluhan rakyatnya.

Dalam riyadhah kebangsaan itu, semua peserta diberikan waktu sendiri. Tanpa ponsel, tanpa asisten. Hanya dengan pena dan kertas. Mereka menuliskan pertanyaan untuk diri sendiri: “Apa yang telah aku lakukan untuk rakyat?” Seperti Nabi ﷺ di Gua Hira, mereka mencari jawaban dalam keheningan.

Salah seorang peserta berkata, “Kadang kita perlu menjauh dari kebisingan politik agar bisa berpikir lebih jernih”. Riyadhah kebangsaan ala Presiden ini bukan berarti meninggalkan tugas. Tapi ini ‘uzlah yang hakiki. Agar saat memimpin, hati lebih bersih, teguh dalam mengimplementasikan program Asta Cita untuk rakyat.

Nabi Muhammad ﷺ pernah melakukan itu. Beliau menjauh dari masyarakat Quraisy yang penuh dengan praktik jahiliyah, bukan untuk meninggalkan mereka, tetapi untuk kembali sebagai pemimpin yang membawa perubahan besar.

Tentu Ramadan kali ini juga sarana dari cerita tentang retret spiritual itu. Menjauh sejenak dari tekanan duniawi agar bisa kembali dengan energi dan visi yang lebih segar.

Dari Retret Menuju Aksi Nyata

Retret telah berakhir. Tapi ini bukan akhir. Ini awal dari kesadaran baru untuk aksi nyata senyata-nyatanya demi rakyat. Mereka kembali ke kantor masing-masing bukan untuk merapikan dasi tapi untuk mewujudkan janji. Tentu dengan hati yang lebih jernih. Dengan niat yang lebih tulus dan ikhlas.

Riyadhah kebangsaan itu bukan hanya tentang strategi dan kebijakan, melainkan juga tentang perlunya aksi nyata. Ini adalah waktu yang tepat untuk meneguhkan komitmen kebangsaan itu. Karena kepemimpinan bukan hanya soal jabatan. Tapi juga tentang pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Sudah saatnya, apalagi di Bulan suci, para pemimpin merenungi amanah dan mencari jalan untuk membangun negeri dengan lebih bijaksana. Kita jadikan bulan suci ini sebagai perjalanan batin untuk menyucikan niat, memperdalam kebijaksanaan, dan memperbaiki hubungan dengan rakyat dengan melakukan aksi nyata.

(Disclaimer: Artikel ini pertama kali tayang di Detik.com Seluruh isi, termasuk kutipan dan data yang disajikan, tetap mengacu pada sumber aslinya).

Previous Post

Efisiensi Anggaran Rp306 Triliun: Reformasi atau Ancaman bagi Birokrasi?

Next Post

Modus Penyelewengan Dana BOS di SMA/SMK Lampung, JPSI Ungkap Dugaan Korupsi

Redaksi

Redaksi

Redaksi www.jelajah.co

BERITA POPULER

Parkiran Apartemen Tokyo PIK 2 Terendam Banjir, Klaim ‘Anti Banjir’ Jebol Bikin Saham PANI Anjlok Hampir 6 Persen

13 Januari 2026

Serukan Penolakan BUP Luar, Warga Adat Kalahien Gelar Aksi di Jembatan Barito: “Kami Siap Melawan”

19 Januari 2026

Dinda Ghania Selebritas Cantik Putri Senator Senior Punya Segudang Prestasi

30 November 2025

‎Lebih dari 980 Eks Karyawan KB Bank Protes Hak PHK yang Belum Tuntas ‎ ‎

24 Desember 2025

Hampir Setahun Memimpin, Aktivis Nilai Kinerja Bupati Lampung Utara Jauh dari Janji Kampanye

12 Januari 2026

Bersinergi dengan Honda, Karang Taruna Way Urang Gelar Servis Motor Gratis

2 Februari 2026
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.