Di sudut Kampung Rawa Bambu, Kalibaru, Medan Satria, Kota Bekasi, dua rumah tua berdiri getir menantang waktu. Balok kayu yang menghitam dimakan usia, dinding yang retak seperti urat lelah kehidupan, serta atap yang berlubang di banyak titik semuanya menjadi saksi bisu perjuangan dua kakak beradik yang selama bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang ambruknya rumah.
Setiap malam, Siti Heriyah (52) tak pernah benar-benar tidur nyenyak. Angin yang masuk dari celah atap membawa kecemasan yang sama setiap hari: “Apakah rumah ini masih kuat sampai besok?”
Di rumah kecil itu, Siti tinggal bersama suami dan anaknya. Mereka telah terbiasa meletakkan ember, baskom, hingga piring di berbagai sudut rumah untuk menampung air hujan yang menetes dari atap yang rapuh.
“Kalau hujan bocor. Saya ada rasa ketakutan juga, takut rumah roboh,” ujarnya lirih saat ditemui, Senin (17/11/2025).
Kerusakan rumah Siti mulai muncul dua tahun lalu, bermula dari bagian dalam, kemudian merambat ke seluruh bangunan. Balok penopang yang dulu kokoh, kini keropos. Lantai yang mengembang, dinding yang mengelupas, dan atap yang seakan menua lebih cepat dari waktu.
Pada 2024, pernah ada petugas berseragam yang datang memfoto rumahnya. Siti sempat berharap ada bantuan, namun hingga kini tak ada kabar lanjutan.
“Mereka cuma foto-foto saja, pakai baju cokelat. Tidak ada penjelasan dan tidak ada kelanjutannya,” ucapnya.
Baru-baru ini, Lurah Kalibaru bersama BKM datang dan meminta fotokopi KTP. Mereka menyampaikan rencana perbaikan rumah Siti dijadwalkan tahun 2026, dua tahun lagi. Tanpa tanggal pasti, tanpa rincian bantuan yang jelas.
“Lurah bilang nanti diperbaiki tahun 2026, tapi tidak ada kepastian kapan tepatnya,” kata Siti, matanya menerawang ke atap yang semakin memudar.
Harapannya hanya satu: rumah yang layak untuk keluarganya. “Kami takut kondisinya makin parah dan berbahaya. Mohon Pak Wali Kota segera bantu,” pintanya.
Lebih Parah, Sang Adik Hidup Bersama Tiga Anak dalam Rumah yang Hampir Luruh
Tak jauh dari rumah Siti, kakaknya Hindriyati (50) menghadapi cobaan yang lebih berat. Kerusakan di rumahnya sudah berlangsung lima tahun. Setiap kali hujan turun, ia menyiapkan ember dan wadah apa pun yang bisa menampung air.
“Kalau angin kencang, kami semua keluar rumah, takut roboh,” ucapnya datar seakan rasa takut itu sudah terlalu sering datang menghampiri.
Dua bulan lalu, bagian atap rumahnya benar-benar ambruk. Balok kayu jatuh sendiri karena rapuh, genteng-genteng berjatuhan, bahkan sempat mengganggu tetangga yang menyewa rumah di samping.
Dalam keterbatasan ekonomi, Hindriyati berusaha memperbaiki rumah sedikit demi sedikit. Ia meminjam uang ke saudara, ke bank keliling, hingga total pinjaman mencapai sekitar sepuluh juta rupiah. Namun kerusakan struktural yang serius tak mampu diatasi dengan perbaikan kecil yang ia lakukan.
“Sudah dicicil perlahan, tapi tetap saja kerusakan besar tidak bisa tertangani,” katanya, menahan napas.
Tinggal bersama tiga anak perempuan membuat bebannya semakin berat. Namun ia tetap berharap pemerintah hadir untuk mereka yang benar-benar membutuhkan.
“Banyak yang rumahnya masih layak justru dapat bantuan. Yang seperti kami juga harus diperhatikan,” ungkapnya.
Musim Hujan di Depan Mata, Ancaman Kian Nyata
Siti dan Hindriyati kini hanya bisa menunggu janji perbaikan rumah yang dijadwalkan pada 2026. Dua tahun terasa terlalu lama bagi rumah yang sudah lama menjerit minta ditopang.
Di saat musim penghujan semakin dekat, ancaman itu bukan lagi bayang-bayang melainkan kenyataan yang bisa datang kapan saja.
Warga berharap Pemerintah Kota Bekasi bergerak cepat, bukan hanya mencatat dan memfoto, tetapi hadir dengan tindakan nyata. Karena bagi dua kakak beradik itu, rumah bukan sekadar bangunan melainkan tempat berlindung yang kini justru menjadi sumber ketakutan.







