• Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy
Rabu, 4 Februari 2026
Kirimi Artikel Yukk  
www.jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
No Result
View All Result
Jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
Home Nusantara Lampung

SMA Siger Sudah Menyala, Pemerintah (Thom) Masih Sibuk Mencari Saklarnya

Redaksi by Redaksi
18 November 2025
in Lampung, Pendidikan, Sudut Pandang
A A
Oplus_131072

Oplus_131072

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Iwa (Jurnalis)

Kasus SMA Siger yang berani menerima siswa sebelum mengantongi izin operasional adalah potret paling terang tentang betapa simpang siurnya koordinasi dua poros pemerintahan di Lampung, Pemprov dan Pemkot Bandarlampung.

Di saat keduanya seharusnya bergerak sebagai satu tubuh, melindungi hulu hingga hilir layanan pendidikan, yang tampak justru dua institusi yang berjalan dengan ritme masing-masing. seolah tak saling melihat, apalagi mendengar.

BACA JUGA

Cut habibi (Sekretaris DPD AWPI Provinsi Lampung)

Makan Gratis dan Tanggung Jawab yang Selalu Menguap

3 Februari 2026

Bersinergi dengan Honda, Karang Taruna Way Urang Gelar Servis Motor Gratis

2 Februari 2026

Hasilnya fatal namun nyata, sebuah sekolah yang belum lahir secara hukum sudah diisi puluhan anak yang datang mencari masa depan.

Sementara para pemangku kewenangan yang seharusnya hadir sebagai pengawal aturan justru sibuk bertanya siapa yang seharusnya disalahkan terlebih dahulu. Untuk menyelesaikan case ini, Kadisdik Thomas tidak pantas hanya ‘mengangkat bahu dan senyum tipis-tipis’. Lakukanlah sesuatu, dan tegas memaklumatkan apa-apa yang harus dilakukan Pemkot Bandar Lampung sesuai ketentuan berlaku. Bahkan, jika perlu beri sanksi ‘tutup pintu”

Di tengah kekacauan ini, publik tentu tidak lupa bahwa Kadisdik Provinsi Lampung, Thomas Americo, bukanlah figur asing di gelanggang birokrasi Kota Bandarlampung.

Ia pernah tumbuh di sana sebagai camat, sebagai bagian dari lingkar kekuasaan wali kota terdahulu, sebelum terlempar ke Lampung Selatan ketika peta politik kota berubah wajah.

Jejak itu memberi kesan bahwa setidaknya ia memahami anatomi birokrasi kota ini luar dalam. Namun justru pada lokasi yang ia kenal paling lama, komunikasi kini membeku seperti lorong yang cahaya lampunya padam.

Di sinilah pertanyaan besar bergema. Jika jalur komunikasi historis saja tak bisa berfungsi, apakah persoalan ini masih layak disebut sekadar kelengahan teknis?

Thomas dikenal sebagai pemimpin yang bergerak cepat. Hanya beberapa hari setelah dilantik, ia mengganti 57 kepala SMA/SMK dalam rotasi kilat yang mengejutkan para guru dan pengamat pendidikan.

Langkah itu dibaca sebagian pihak sebagai upaya “memadatkan kendali” lebih dulu, merapikan barisan, mengisi pos strategis, mengatur arah komando, bahkan sebelum fondasi tata kelola benar-benar diperkuat.

Dan ketika pola mempercepat struktur terjadi lebih cepat daripada memperkuat dasar legal, risiko selalu mengintai. Celah pengawasan melebar, potensi kekeliruan melejit, dan ruang gelap untuk kepentingan non-administratif ikut tumbuh.

Dalam konteks ini, publik tentu mempertanyakan apakah percepatan struktural yang terlalu agresif dapat membuka peluang lain, yakni memadatkan pundi-pundi keuangan melalui ruang-ruang abu-abu pendidikan, relasi dengan yayasan, peluang proyek, atau celah pendirian sekolah baru yang berjalan lebih cepat dari regulasinya.

Bukan tuduhan, tetapi kegelisahan yang wajar ketika tata kelola tampak bergerak tanpa pagar yang kokoh.

Sementara itu, Pemprov berkilah bahwa yayasan SMA Siger harus bertanggung jawab, dan pemerintah kota menjawab seolah bukan urusannya. Yang tampak di mata publik jauh lebih telanjang, yaitu tidak ada satu pun tangan yang benar-benar menggenggam kemudi.

Semua berbicara tentang prosedur, tetapi tak seorang pun berdiri memastikan prosedur itu ditegakkan.

Dan sementara nalar para pejabat saling dilempar seperti bola panas, puluhan siswa dipaksa menumpang di sekolah lain menunggu kejelasan yang seharusnya menjadi hak paling dasar mereka, bukan hadiah dari negara.

Kasus ini jelas bukan kecelakaan birokrasi. Ini adalah penyakit lama tata kelola pendidikan yang dibiarkan menetap. Provinsi dan kota bekerja dalam orbit yang terpisah, tanpa gravitasi yang menyatukan. Seperti dua saklar yang tidak pernah terhubung ke lampu yang sama, keduanya menekan tombol masing-masing tanpa pernah menyalakan cahaya yang diperlukan.

Dan seperti biasa, yang menanggung luka bukan para pengambil keputusan, melainkan anak-anak yang hanya ingin belajar dengan tenang.

Pada akhirnya, ada dua kalimat yang pantas menjadi ketukan keras di depan pintu kekuasaan yang kini sibuk berkelit.

Jika izin saja tak mampu mereka jaga, bagaimana mungkin kita percaya pendidikan berada di tangan yang benar?

Dan lebih pedih lagi, ketika sekolah tanpa izin bisa berjalan mulus, bukankah yang tampak mandul justru pemerintah yang seharusnya menjaga aturan?

Previous Post

Rumah Retak, Harapan Bertahan: Dua Kakak Beradik di Bekasi Menunggu Uluran Tangan

Next Post

Triga Lampung Gelar Aksi Lanjutan Desak Usut Dugaan Korupsi di Kemenag Lampung

Redaksi

Redaksi

Redaksi www.jelajah.co

BERITA POPULER

Parkiran Apartemen Tokyo PIK 2 Terendam Banjir, Klaim ‘Anti Banjir’ Jebol Bikin Saham PANI Anjlok Hampir 6 Persen

13 Januari 2026

Serukan Penolakan BUP Luar, Warga Adat Kalahien Gelar Aksi di Jembatan Barito: “Kami Siap Melawan”

19 Januari 2026

Dinda Ghania Selebritas Cantik Putri Senator Senior Punya Segudang Prestasi

30 November 2025

Hampir Setahun Memimpin, Aktivis Nilai Kinerja Bupati Lampung Utara Jauh dari Janji Kampanye

12 Januari 2026

‎Lebih dari 980 Eks Karyawan KB Bank Protes Hak PHK yang Belum Tuntas ‎ ‎

24 Desember 2025

Bersinergi dengan Honda, Karang Taruna Way Urang Gelar Servis Motor Gratis

2 Februari 2026
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.