• Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy
Rabu, 6 Mei 2026
Kirimi Artikel Yukk  
www.jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
No Result
View All Result
Jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
Home Nusantara Lampung

Tarif Mahal, Jalan Bergelombang dan Nyali yang Diuji

Redaksi by Redaksi
19 Januari 2026
in Lampung, Sudut Pandang
A A
Cut habibi (Sekretaris DPD AWPI Provinsi Lampung)

Cut habibi (Sekretaris DPD AWPI Provinsi Lampung)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Cut Habibi (Sekretaris AWPI Provinsi Lampung)

Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) dibangun dengan satu janji besar: memangkas jarak, mempercepat waktu, dan menggerakkan ekonomi. Namun janji itu terasa mulai retak ketika realitas di balik kemudi berkata lain, tol yang megah, sepi, mahal, dan di beberapa titik justru menguji keselamatan.

Pengalaman melintasi JTTS dari Gerbang Tol Kota Baru, Bandar Lampung, hingga keluar di Gerbang Tol Manggala dengan tarif Rp170.500 menjadi potret nyata persoalan itu. Jalan tol memang berfungsi. Pintu masuk terbuka. Kendaraan melaju. Tetapi lalu lintasnya lengang, seolah jalan ini lebih sering menunggu daripada dilalui.

BACA JUGA

Ketua SMSI Pesisir Barat Kritik Pemda: Anggaran Media Minim, Belanja Perjalanan dan Jamuan Membengkak

5 Mei 2026

Komisi I DPRD Lamteng Soroti Dugaan Maladministrasi Plt Bupati dan Sekda

4 Mei 2026

Sepinya JTTS bukan misteri. Tarif yang melambung tinggi menjadi penghalang pertama bagi pengguna mobil pribadi. Bagi banyak warga, Rp170 ribu sekali jalan bukan sekadar angka, melainkan pilihan: antara memangkas waktu tempuh atau menjaga belanja rumah tangga.

Ketika penghematan waktu harus ditebus setara belanja dapur, maka jalan nasional meski lebih lambat tetap menjadi pilihan rasional.

Namun persoalan JTTS tidak berhenti pada mahalnya tarif. Ada ironi yang lebih berbahaya: kualitas permukaan jalan yang belum sepenuhnya sejalan dengan standar keselamatan jalan tol.

Di sejumlah ruas, jalan memang tidak berlubang, tetapi bergelombang. Dan di jalan tol, gelombang kecil bukan soal kenyamanan, melainkan soal nyawa.

Jalan bergelombang pada kecepatan tinggi mengganggu stabilitas kendaraan, meningkatkan risiko kehilangan kendali, memperbesar peluang aquaplaning saat hujan, serta mempercepat kelelahan pengemudi. Di jalan biasa, kondisi ini mungkin dianggap wajar. Tapi di jalan tol, ia adalah anomali yang berbahaya.

Inilah kontradiksi terbesar JTTS hari ini: tarif premium, tapi rasa aman belum sepenuhnya premium. Seperti membeli tiket pesawat mahal, namun landasannya bergelombang. Pesawat boleh canggih, tapi kepercayaan penumpang runtuh sebelum lepas landas.

Tol seharusnya memanjakan keselamatan, bukan menguji refleks. Ketika jalan sepi, pengemudi cenderung melaju lebih cepat. Dan ketika kecepatan bertemu permukaan jalan yang tidak ideal, risiko kecelakaan justru meningkat.

Kombinasi ini berbahaya, lalu lintas rendah, kecepatan tinggi, dan kualitas jalan yang belum sempurna.

Pembangunan infrastruktur tidak cukup dinilai dari panjang jalan dan kecepatan penyelesaian proyek. Ia harus diuji dari tiga hal sekaligus: keterjangkauan, pemanfaatan, dan keselamatan. Jika satu saja pincang, maka manfaatnya ikut timpang.

JTTS hari ini tidak gagal secara fisik. Jalan sudah ada. Beton sudah terhampar. Namun ia belum sepenuhnya inklusif secara ekonomi dan belum sepenuhnya meyakinkan secara keselamatan. Tol ini lebih mirip koridor strategis daripada jalan rakyat.

Pertanyaannya kini sederhana namun mendasar:
jika tarif tol sudah mahal, mengapa kualitas dan rasa aman belum sepenuhnya menjawab harga itu?
Dan jika jalan tol masih bergelombang, lalu siapa yang sebenarnya sedang dipercepat? pembangunan, atau risikonya?

Previous Post

E-Paper Jelajah, Edisi 19 Januari 2026

Next Post

Curah Hujan Tinggi Picu Luapan Kali Alam, Polsek Medan Satria Bersama Tiga Pilar Siaga Evakuasi Warga Kalibaru

Redaksi

Redaksi

Redaksi www.jelajah.co

BERITA POPULER

Dinda Ghania Selebritas Cantik Putri Senator Senior Punya Segudang Prestasi

30 November 2025

Mengenal Fathan Subchi, Dari Anggota DPR RI Hingga BPK RI

24 Februari 2025

Peliputan Pelantikan Sempat Dipersoalkan, Bupati Barito Utara Berikan Tanggapan

4 Mei 2026

Rakercab PERADI SAI Bekasi Raya Tekankan Profesionalisme dan Integritas Advokat

18 April 2026

‎Lebih dari 980 Eks Karyawan KB Bank Protes Hak PHK yang Belum Tuntas ‎ ‎

24 Desember 2025

SOKSI Kota Bekasi Deklarasi Dukungan Mutlak untuk Ranny Fahd Arafiq di Musda Golkar

11 April 2026
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.