LAMPUNG SELATAN, Jelajah.co — Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ditantang untuk tidak terjebak dalam sikap elitis dan kehilangan keberpihakan terhadap rakyat. Kaderisasi organisasi, menurut Ketua Karang Taruna Provinsi Lampung sekaligus Anggota DPRD Lampung, Wahrul Fauzi Silalahi, harus melahirkan kader yang berani menyuarakan kepentingan masyarakat dan berdiri di garis perjuangan.
Pesan tersebut disampaikan Wahrul saat menjadi pembicara utama dalam penutupan Training Raya Intermediate Training (LK II) dan Latihan Khusus Kohati (LKK) HMI Cabang Kalianda, Lampung Selatan, di Aula Krakatau, Kantor Bupati Lampung Selatan, Sabtu (8/11/2026) malam.
Di hadapan para peserta, Wahrul mengingatkan bahwa kader HMI harus tetap menjaga idealisme dan tidak mudah kehilangan arah perjuangan.
“Kader HMI harus pro terhadap kepentingan rakyat. Jangan menjadi kader yang elitis dan jangan sampai masuk angin. Kader HMI harus tetap bersemangat memperjuangkan hak-hak rakyat,” tegasnya.
Ia berharap semakin banyak kader HMI yang berani menyuarakan aspirasi masyarakat. Menurutnya, semangat perjuangan tidak boleh hanya disuarakan kelompok tertentu, tetapi juga harus menjadi sikap nyata kader dengan identitas hijau hitam.
“Ke depan, saya ingin bukan hanya almamater kuning yang berteriak di Bundaran HI, bukan hanya buruh yang menyuarakan aspirasi di jalanan, tetapi juga kader dengan muts dan gordon hijau hitam yang lantang menolak rezim yang tidak berpihak kepada rakyat,” pungkasnya.
Penutupan Training Raya tersebut turut dihadiri Bahari Septin Martina dari unsur Forhati, akademisi Fahrul Rozi, serta sejumlah tamu undangan lainnya.
Ketua Pelaksana Training Raya HMI Cabang Kalianda, Evan Sofiyan, melaporkan bahwa kegiatan berlangsung selama 10 hari dan diikuti peserta dari berbagai cabang. Dari 80 peserta yang mengikuti seleksi administrasi dan pemberkasan, sebanyak 60 orang dinyatakan lolos screening, terdiri atas 42 peserta LK II dan 18 peserta LKK.
Evan menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang mampu bertahan dan mengikuti seluruh tahapan kegiatan hingga selesai.
“Pada kesempatan ini, saya mengucapkan selamat kepada 60 peserta yang telah bertahan hingga titik ini. Terima kasih karena tetap mengikuti seluruh proses. Kalian luar biasa,” ujarnya.
Ketua Umum HMI Cabang Kalianda, Sandi Aprizal, juga menyampaikan selamat kepada seluruh peserta. Ia mengapresiasi kerja panitia sekaligus meminta maaf apabila terdapat kekurangan selama pelaksanaan kegiatan.
Sandi berpesan agar ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama Training Raya diterapkan di cabang masing-masing. Ia juga menekankan pentingnya menjaga silaturahmi antarkader dari berbagai daerah.
“Seluruh ilmu yang baik, silakan diambil dan diimplementasikan di cabang asal masing-masing. Training Raya ini memang telah selesai, tetapi jalinan silaturahmi di antara kita, teman-teman dari seluruh cabang se-Indonesia, harus tetap terjaga hingga akhir hayat,” ungkapnya.
Lebih jauh, Sandi mengingatkan kader HMI agar memegang teguh independensi etis dan independensi organisatoris. Ia menilai proses menjadi kader memang tidak mudah, tetapi tantangan tersebut harus dihadapi dengan semangat dan cita-cita besar.
“Memang menjadi kader HMI itu tidak mudah. Kalau tidak mau susah, tidak perlu menjadi kader HMI. Ketika kader HMI berdiskusi dengan seniornya, yang dibicarakan haruslah tentang cita-cita besar dan masa depan. Terus membangun harapan, meskipun esok hari mungkin masih bingung harus makan apa,” tegasnya.
Sementara itu, perwakilan Forhati Lampung Selatan menegaskan bahwa perkaderan merupakan salah satu proses paling penting dalam organisasi HMI. Melalui proses tersebut, kader ditempa dan memperoleh banyak pembelajaran untuk menjalankan peran organisasi maupun kehidupan bermasyarakat.
“Perkaderan merupakan proses terpenting dalam organisasi HMI. Dari perkaderan HMI, kita belajar banyak hal,” tuturnya.
Penutupan Training Raya ini menandai berakhirnya rangkaian kegiatan selama 10 hari. Namun, pesan yang mengemuka dari forum tersebut menjadi pengingat bahwa proses kaderisasi tidak berhenti pada selesainya pelatihan, melainkan harus tercermin dalam sikap, integritas, dan keberpihakan kader terhadap kepentingan rakyat. (Red)








