BANDAR LAMPUNG – Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL) memastikan pelaksanaan Sistem Seleksi Elektronik (SSE) Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) 2026 berlangsung inklusif dengan menyediakan layanan khusus bagi peserta penyandang disabilitas.
Pada pelaksanaan UM-PTKIN tahun ini, terdapat dua peserta berkebutuhan khusus yang mengikuti ujian di titik lokasi (tilok) UIN RIL. Keduanya terdiri dari satu peserta tuna daksa dan satu peserta tuna netra.
Peserta tuna daksa mengikuti ujian pada Senin (8/6/2026) sesi ketiga, sedangkan peserta tuna netra dijadwalkan mengikuti ujian pada Selasa (9/6/2026) sesi keempat.
Untuk memastikan peserta dapat mengikuti ujian dengan nyaman dan memperoleh kesempatan yang setara, UIN RIL menyiapkan pendamping khusus selama proses seleksi berlangsung.
Wakil Rektor I UIN RIL, Prof. Dr. Andi Thahir, M.A., mengatakan pendampingan tersebut merupakan bagian dari komitmen kampus dalam memberikan pelayanan yang setara kepada seluruh peserta.
“Pendamping hanya membantu secara teknis, membacakan soal dan memilihkan jawaban sesuai arahan peserta, tetapi tidak mengarahkan jawaban,” jelasnya.
Menurut Andi, mekanisme pendampingan tersebut dilakukan sesuai arahan Panitia Pusat, mengingat sistem SSE UM-PTKIN saat ini belum sepenuhnya mengakomodasi kebutuhan peserta tunanetra maupun tunarungu.
Karena itu, pendamping membantu peserta dalam membaca soal serta memilih jawaban berdasarkan instruksi yang diberikan peserta tanpa memengaruhi substansi jawaban.
Andi menegaskan UIN RIL akan terus memberikan layanan terbaik kepada seluruh peserta tanpa membedakan kondisi maupun latar belakang mereka.
Pelaksanaan UM-PTKIN yang ramah difabel di UIN RIL juga menjadi bagian dari komitmen Panitia Nasional PMB PTKIN untuk menghadirkan akses pendidikan tinggi yang inklusif.
Ketua Panitia Nasional PMB PTKIN, Prof. Dr. Abd. Aziz, M.Pd.I., menyebut 43 peserta difabel mengikuti UM-PTKIN 2026 dari berbagai daerah di Indonesia.
Mereka terdiri atas 11 peserta tuna netra, delapan tuna rungu, tujuh tuna daksa, dan 17 tuna grahita.
“Tahun ini, UM-PTKIN diikuti oleh 43 peserta difabel. Kami memastikan seluruh titik lokasi ujian memberikan fasilitas terbaik dan akses yang ramah bagi mereka,” ujarnya.
Menurut Abd. Aziz, keterbukaan akses bagi penyandang disabilitas menjadi bagian dari karakter inklusif PTKIN. Pendidikan tinggi keagamaan Islam, kata dia, kini semakin terbuka bagi masyarakat dari berbagai latar belakang.
Komitmen tersebut turut diwujudkan melalui pelaksanaan UM-PTKIN di UIN RIL dengan menyediakan pendampingan bagi peserta berkebutuhan khusus.
Langkah ini memastikan proses seleksi tidak hanya berjalan tertib dan akuntabel, tetapi juga memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh peserta untuk mengakses pendidikan tinggi.(Rls)








