Mesuji, Jelajah.co – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Mesuji akhirnya merespons dugaan pengurangan volume pekerjaan pada proyek-proyek revitalisasi sekolah dasar dan menengah. Namun, di balik klaim perbaikan volume tersebut, terungkap fakta lain yang tak kalah mengkhawatirkan: tujuh dari sebelas proyek revitalisasi hanya menghasilkan satu penawaran meski peserta tender lebih dari satu.
Hal ini menimbulkan dugaan kuat adanya pola pengondisian tender yang sistematis.
Gerry Novri Hartoni, Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Disdik Mesuji, menjelaskan bahwa kekurangan volume yang ditemukan saat pelaksanaan proyek telah diperbaiki di lapangan. Ia mengklaim, seluruh proses pengadaan berjalan sesuai ketentuan.
“Semua volume yang sebelumnya diduga kurang itu sudah kami perbaiki. Kami bisa buktikan melalui dokumen kontrak dan laporan pengawasan,” ujarnya saat hadir di Kantor Media Jelajah.co, Jumat (31/05/2025).
Menanggapi dugaan pengondisian pemenang tender, Gerry enggan berkomentar.
“Kalau hanya satu yang memasukkan penawaran, ya itu yang difollow-up dan dimenangkan. Semua sesuai regulasi,” imbuhnya.
Tujuh Proyek, Satu Penawaran: Kebetulan atau Pola Sistemik?
Data yang dihimpun menunjukkan adanya pola yang mencurigakan. Dari sebelas proyek revitalisasi sekolah yang dilelang menggunakan sistem Pascakualifikasi Satu File Metode Gugur, tujuh proyek hanya memiliki satu penawaran masuk meski jumlah peserta tender lebih dari satu.
Berikut rinciannya:
-
Revitalisasi SMPN 9 Mesuji: 8 peserta, 1 penawaran
-
Revitalisasi SDN 2 Mesuji: 5 peserta, 1 penawaran
-
Revitalisasi SMPN 8 Mesuji: 3 peserta, 1 penawaran
-
Revitalisasi SMPN 5 Mesuji: 4 peserta, 1 penawaran
-
Revitalisasi SDN 1 Panca Jaya: 4 peserta, 1 penawaran
-
Revitalisasi SMPN 10 Mesuji: 3 peserta, 1 penawaran
-
Revitalisasi SDN 5 Mesuji: 4 peserta, 1 penawaran
Pola ini berbeda dengan proyek-proyek lain yang memiliki lebih dari satu penawaran, seperti:
-
SDN 13 Way Serdang (2 penawaran dari 5 peserta)
-
SMPN 16 Mesuji (2 penawaran dari 5 peserta)
-
SDN 16 Tanjung Raya (2 penawaran dari 10 peserta)
-
SDN 3 Mesuji Timur (4 penawaran dari 21 peserta)
Aktivis pemantau anggaran menyebut fenomena ini sebagai anomali serius. “Ini bukan lagi soal kurangnya minat penyedia. Tujuh proyek dengan peserta lebih dari tiga tapi cuma satu penawaran masuk? Itu bukan kebetulan. Ada pola yang harus dibongkar,” kata seorang aktivis yang enggan disebutkan namanya.
Meski Disdik Mesuji mengklaim perbaikan volume pekerjaan telah dilakukan, publik tetap menuntut akuntabilitas lebih dalam. Desakan agar dokumen pengawasan, laporan mutu pekerjaan, serta berita acara serah terima dibuka ke publik semakin kuat.
“Kalau tidak ada yang disembunyikan, maka seharusnya tidak sulit menunjukkan bukti. Kami juga mendesak audit menyeluruh terhadap semua proyek ini,” tegas aktivis tersebut.
Sejumlah pihak juga mendorong agar UKPBJ Kabupaten Mesuji memberikan penjelasan terbuka mengenai proses evaluasi tender dan alasan teknis di balik hanya satu penawaran yang lolos dalam tujuh proyek sekaligus.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak UKPBJ Mesuji terkait temuan ini. (Red)







