• Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy
Kamis, 23 April 2026
Kirimi Artikel Yukk  
www.jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
No Result
View All Result
Jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
Home Nusantara Lampung

Dramaturgi Singkong: Dari Pahlawan Krisis Hingga Korban Kapitalis

Redaksi by Redaksi
16 Januari 2025
in Lampung, Nusantara, Pemerintahan
A A
Share on FacebookShare on Twitter

Lampung, Jelajah.co  – Dalam dunia agraria, singkong bak anak tiri yang dipaksa bekerja keras tanpa jaminan upah layak. Jika kita menengok sejarah, singkong pernah menjadi penyelamat bangsa dalam krisis pangan 1914–1918. Namun, kini ia seperti tokoh tragis dalam drama agraria, dipuja saat dibutuhkan, tapi diabaikan ketika melimpah.

“Singkong adalah komoditas pangan utama, tapi nasib petani justru seperti pengemis di tanah sendiri,” kata Ketua DPC PPUKI, Haris Rusdi, SH, mengutip Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang menjanjikan kesejahteraan petani.

Ironi itu semakin menyayat hati ketika keputusan Gubernur Lampung pada 23/12/24 menetapkan harga terendah singkong Rp1.400 per kilogram dengan potongan maksimal 15%. Namun, pabrik justru menambahkan syarat kadar pati, seolah-olah singkong hasil panen petani harus menyerupai emas 24 karat.

BACA JUGA

TMMD 2026 Sasar Infrastruktur dan Sosial, Tri Adhianto Dorong Pembangunan Berkelanjutan Tepat Sasaran

23 April 2026

Optimalkan Layanan Keberangkatan Haji 2026, Imigrasi Bekasi Siap Layani 12.178 Jemaah di Asrama Haji Bekasi

22 April 2026

Hari ini, puluhan petani yang tergabung dalam Dewan Pimpinan Cabang Perkumpulan Petani Ubi Kayu Indonesia (DPC PPUKI) Kabupaten Lampung Utara menyuarakan keadilan dengan mendatangi gedung DPRD. Mereka membawa harapan sekaligus protes, meminta pemerintah daerah turun tangan terhadap pabrik-pabrik yang, menurut mereka, menerapkan aturan seperti tuan tanah di zaman feodal.

Ketua DPC PPUKI, Haris Rusdi, SH, menyebut perlakuan pabrik terhadap petani tak ubahnya seperti menambah beban pada bahu yang sudah lelah. Aturan yang dianggap tidak masuk akal, seperti syarat kadar pati 24%, menjadi momok yang membuat hasil panen petani terancam tak dihargai.

“Kami hanya ingin keadilan. Jangan biarkan pabrik memutarbalikkan kebijakan pemerintah,” ujarnya dengan nada tegas, mengingatkan bahwa demokrasi juga berlaku di ladang singkong.

Seruan dari Ladang: Jangan Biarkan Ketidakadilan Berakar

Dalam protes ini, para petani seperti pohon singkong yang akarnya meronta ingin keluar dari cengkeraman tanah keras ketidakadilan. “Jika kadar pati kurang, mestinya refaksi 0%, bukan dipotong seenaknya. Kami ingin pemerintah bertindak sebelum petani kehilangan semangat,” ujar Haris.

Sejatinya, perjuangan petani ini bukan hanya soal angka pada harga singkong, melainkan soal martabat yang tertanam bersama setiap akar singkong di ladang mereka. Di tengah gempuran globalisasi dan kapitalisme, suara petani menjadi pengingat bahwa keadilan sosial harus tumbuh di semua lini, termasuk di ladang singkong.

Epilog: Singkong dan Janji yang Mengakar

Aksi ini tidak sekadar tuntutan, tapi juga doa agar janji kesejahteraan petani tak hanya menjadi retorika di atas panggung politik. Harapan mereka sederhana: hidup yang layak dari hasil keringat sendiri. Dan mungkin, suatu hari nanti, singkong tak lagi menjadi simbol anak tiri agraria, melainkan pahlawan sejati di negeri sendiri. (Aby/)*

Previous Post

ELPK Desak Penuntasan Kasus Dugaan Korupsi Dana Hibah LPTQ 2022 di Pringsewu

Next Post

Gembok dan Rubik Laporkan Proyek Dinas KPTPHP Lampung Timur ke Kejati Lampung

Redaksi

Redaksi

Redaksi www.jelajah.co

BERITA POPULER

Negara Restui Petani Way Kanan Jadi Tumbal

4 April 2026

Dinda Ghania Selebritas Cantik Putri Senator Senior Punya Segudang Prestasi

30 November 2025

Mengenal Fathan Subchi, Dari Anggota DPR RI Hingga BPK RI

24 Februari 2025

Rakercab PERADI SAI Bekasi Raya Tekankan Profesionalisme dan Integritas Advokat

18 April 2026

‎Lebih dari 980 Eks Karyawan KB Bank Protes Hak PHK yang Belum Tuntas ‎ ‎

24 Desember 2025

SOKSI Kota Bekasi Deklarasi Dukungan Mutlak untuk Ranny Fahd Arafiq di Musda Golkar

11 April 2026
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.