BARITO SELATAN, Jelajah.co — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kabupaten Barito Selatan (Barsel), Kalimantan Tengah, selama hampir tiga bulan terakhir kian mengkhawatirkan. Lonjakan titik panas hingga 4.965 pada September disertai kabut asap yang berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
Kondisi tersebut terungkap dalam konferensi pers yang digelar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Selatan di Aula Kantor BPBD Barsel, Jumat (16/10/2026).
Konferensi pers dipimpin Kepala Pelaksana BPBD Barsel, Agus In’Yulius, ST., MT., didampingi Kepala Dinas Kesehatan, dr. Dadang Baskoro Nugroho, Sp.PD., FINASIM, serta dihadiri sejumlah wartawan dari berbagai media.
Agus mengatakan, kondisi karhutla dan kabut asap di wilayah Barsel telah memasuki tahap kritis. Pemerintah daerah bahkan telah menetapkan status siaga darurat dan tanggap darurat hingga tiga kali berganti periode.
“Kondisi kita saat ini sudah sangat memprihatinkan. Kami sudah bergerak bersama TNI, Polri, dan seluruh elemen masyarakat untuk pemadaman di lapangan, namun tantangan masih sangat besar,” ujar Agus.
Ia memaparkan, jumlah titik panas mengalami peningkatan signifikan dalam dua bulan terakhir. Pada Agustus tercatat 2.398 titik, kemudian melonjak menjadi 4.965 titik pada September.
Lonjakan tersebut memperlihatkan besarnya tantangan penanganan karhutla di Barsel. Selain mengancam lingkungan dan ekosistem hutan, kebakaran juga memicu kabut asap yang meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi masyarakat.
Agus menegaskan, penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan BPBD dan petugas pemadam. Keterlibatan masyarakat dinilai sangat penting, terutama dalam mencegah kebakaran yang dipicu aktivitas pembakaran lahan.
“Kami mengimbau sekuat tenaga agar masyarakat berhenti membakar lahan atau hutan. Tindakan sederhana ini sangat berarti untuk mengurangi luas kebakaran dan dampak kabut asap yang makin meluas,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Barsel, dr. Dadang Baskoro Nugroho, mengungkapkan adanya kasus kematian yang diduga berkaitan dengan dampak kabut asap dan gangguan pernapasan.
Ia menyebut, salah satu kasus melibatkan bayi berusia enam bulan. Selain itu, seorang tenaga medis berstatus petugas P3K di lingkungan Sekretariat Daerah juga dilaporkan meninggal dunia akibat gangguan pernapasan parah.
“Hal ini menjadi peringatan keras bagi kita semua betapa berbahayanya polusi udara saat ini,” ungkap Dadang.
Terkait kesiapan pelayanan kesehatan, Dadang menjelaskan bahwa Barsel memiliki 12 unit puskesmas dan satu rumah sakit rujukan. Puskesmas difokuskan pada upaya pencegahan, penyuluhan, dan promosi kesehatan, sedangkan rumah sakit memberikan pengobatan serta penanganan bagi masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan.
Ia mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama kabut asap masih mengancam. Warga diminta menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan serta segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami gangguan pernapasan.
Di tengah penanganan kebakaran yang belum mudah dikendalikan, upaya pemadaman dan pencegahan dinilai harus berjalan beriringan dengan perlindungan kesehatan masyarakat. Tanpa keterlibatan semua pihak, karhutla berisiko terus memperburuk kualitas udara dan meningkatkan ancaman bagi warga Barito Selatan. (Red)








