JAKARTA, Jelajah.co – Partai Ummat resmi memperkenalkan jajaran Pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) yang baru dalam agenda Deklarasi dan Press Conference Pengurus DPP Partai Ummat, Jakarta, Sabtu (26/9/2026).
Dalam kepengurusan baru tersebut, Ir. H. Ansufri ID Sambo dipercaya sebagai Ketua Umum, Haeikal, S.H. sebagai Ketua Harian, dan Muhammad Sadiq sebagai Sekretaris Jenderal.
Dalam pidato politiknya, Ansufri menegaskan bahwa pergantian kepengurusan bukan berarti memutus perjalanan Partai Ummat yang telah dibangun sebelumnya. Menurutnya, kepengurusan baru merupakan momentum untuk melanjutkan perjuangan sekaligus melakukan penyegaran organisasi.
“Alhamdulillah, kami bersyukur atas amanah baru yang diberikan kepada kami. Kepengurusan baru ini bukan memutus perjalanan sebelumnya. Kami menghargai seluruh pengorbanan, kerja dan kontribusi kepengurusan sebelumnya, terutama Ketua Umum yang lama Bapak Ridho Rahmadi dan Sekjen yang lama Bapak Taufik Hidayat,” ujar Ansufri.
Ia mengatakan, kontribusi para pengurus sebelumnya harus menjadi bagian dari perjalanan organisasi ke depan. Hal-hal yang masih kurang, kata dia, harus diperbaiki, sementara hal-hal yang belum ada perlu dibangun bersama.
“Yang kurang kita perbaiki, yang belum ada kita bangun bersama. Jabatan adalah amanah, jabatan adalah tanggung jawab, bukan kehormatan pribadi,” tegasnya.
Dorong Budaya Kerja Baru
Ansufri menilai kepengurusan baru tidak cukup hanya ditandai dengan perubahan susunan nama dalam struktur organisasi. Menurutnya, perubahan juga harus menyentuh pola pikir, cara bekerja dan cara berjuang seluruh kader.
Ia mendorong perubahan dari budaya mencari jabatan menjadi budaya pengabdian, dari budaya menunggu menjadi budaya bekerja, serta dari ketergantungan terhadap figur menuju pembangunan kekuatan organisasi berbasis nilai dan sistem.
Selain itu, ia mengajak kader mengubah orientasi dari kepentingan kelompok menjadi kepentingan organisasi dan dari budaya saling menyalahkan menuju budaya saling memperbaiki.
“Dari saling menyalahkan menuju budaya saling memperbaiki. Kepengurusan yang baru ini harus berarti kerja sama yang lebih baik, bukan sekadar susunan pengurus yang berbeda atau baru,” katanya.
Kembali kepada Nilai Dasar Perjuangan
Ansufri juga menekankan pentingnya seluruh kader kembali kepada nilai dasar perjuangan Partai Ummat.
Ia menyebut Partai Ummat sebagai partai perjuangan, bukan tujuan akhir dari perjuangan. Jabatan dan kekuasaan, menurutnya, harus ditempatkan sebagai sarana pengabdian.
“Kita tetap memperjuangkan nilai yang telah dicantumkan dalam AD/ART Partai Ummat, yaitu nilai Islam rahmatan lil alamin sebagai sumber nilai yang menghadirkan rahmat, keadilan, kemaslahatan dan kebaikan bagi seluruh masyarakat dan rakyat Indonesia,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan kembali semangat yang selama ini menjadi bagian dari identitas Partai Ummat, yakni “Lawan Kezaliman, Tegakkan Keadilan.”
Namun, Ansufri menekankan bahwa prinsip tersebut harus terlebih dahulu diterapkan di internal partai.
“Tidak boleh ada kezaliman di dalam partai. Tidak boleh ada ketidakadilan antara pengurus pusat dengan wilayah, DPD, DPC maupun PAC,” tegasnya.
Menurut dia, upaya menegakkan keadilan di tengah masyarakat harus dimulai dari lingkungan internal organisasi itu sendiri.
Lima Modal Batin Kader
Dalam kesempatan tersebut, Ansufri juga menyampaikan pentingnya membangun kekuatan internal kader melalui lima modal batin atau power para pejuang Partai Ummat.
Lima modal tersebut yakni ikhlas dalam berjuang, menjaga ibadah, sabar dalam perjuangan, taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta kepada pemimpin yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta yakin dalam perjuangan.
Menurut Ansufri, kelima hal tersebut menjadi fondasi spiritual bagi kader dalam menjalankan aktivitas politik dan pengabdian.
“Kalau kita berdoa agar negeri ini dipimpin oleh pemimpin yang adil, semua itu tidak akan tercapai kalau kita yang berdoa tidak ikhlas dalam berjuang, tidak terjaga ibadahnya, tidak sabar dalam pengorbanan, tidak taat dan tidak yakin dalam perjuangan,” tuturnya.
Fokus Konsolidasi Menuju Pemilu 2029
Memasuki persiapan menuju Pemilu 2029, Ansufri menekankan pentingnya penguatan struktur organisasi dan kaderisasi dari tingkat pusat hingga daerah.
DPP, DPW, DPD, DPC hingga PAC, kata dia, harus menjadi satu kesatuan yang bekerja secara terarah untuk mempersiapkan Partai Ummat menghadapi proses verifikasi dan tahapan Pemilu 2029.
“DPP alhamdulillah sudah jadi. Ke depan kita akan melengkapi yang masih kurang dari kepengurusan DPW, DPD dan DPC agar kita bisa lulus verifikasi dan insyaallah menjadi salah satu peserta Pemilu 2029,” ujarnya.
Ia juga menilai hubungan antara pengurus pusat dan daerah perlu dibangun secara lebih terbuka. DPP diharapkan aktif mendengar aspirasi daerah, sementara struktur di daerah harus menyampaikan berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.
Setiap pengurus, lanjut Ansufri, juga harus memiliki tugas, tanggung jawab dan target yang jelas.
Bangun Tiga Budaya Organisasi
Selain konsolidasi struktur, Ansufri mengajak seluruh kader membangun budaya organisasi baru melalui tiga hal utama, yakni budaya musyawarah, budaya bekerja dan budaya belajar.
“Setiap ada masalah mari kita musyawarahkan. Setelah bermusyawarah dan kita tetapkan hasilnya, kita bekerja. Kemudian budaya belajar. Mari belajar dan jadikan Partai Ummat sebagai tempat kita belajar berpolitik dan belajar kepemimpinan,” katanya.
Ia juga mengungkapkan telah menyusun sejumlah buku yang berkaitan dengan perjalanan dan gagasan perjuangan politiknya di Partai Ummat.
Buku tersebut, kata Ansufri, merupakan refleksi pribadi sekaligus hasil diskusi dan pembelajaran dari para guru politik dan spiritualnya.
Menurutnya, seorang politisi maupun pejuang organisasi perlu memiliki mentor atau guru sebagai tempat belajar dan mendapatkan arahan dalam perjalanan perjuangan.
“Dalam politik kita harus punya mentor. Jangan bergerak politik seolah-olah kita sudah hebat. Rasulullah saja punya mentor. Para sahabat juga memiliki guru dan mentor dalam perjuangan,” ujarnya.
Dengan kepengurusan baru tersebut, Partai Ummat menargetkan konsolidasi organisasi secara menyeluruh, penguatan kaderisasi serta pembangunan budaya kerja yang lebih solid sebagai bagian dari persiapan menghadapi Pemilu 2029.
Pergantian kepengurusan diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kembali semangat perjuangan, pengabdian dan nilai-nilai yang menjadi dasar Partai Ummat.








