JAKARTA, Jelajah.co — Presiden Perkumpulan Orang Same Bajau Indonesia (POSBI), Erni Bajau, S.Pd., M.Hum., tampil sebagai narasumber dalam seminar internasional The World of Water: Sea Nomads, Documentary Heritage and Memory of the World di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Seminar tersebut merupakan bagian dari rangkaian 11th UNESCO Memory of the World Regional Committee for Asia and the Pacific (MOWCAP) General Meeting yang diikuti akademisi, peneliti, praktisi kearsipan dan delegasi dari 23 negara kawasan Asia-Pasifik.
Dalam forum tersebut, Erni menjadi pembicara pada Panel III bertajuk Memory of the Sea Nomads Communities. Ia membawakan materi berjudul A Tale from the Sea: Bajau People and Their Collective Memory atau Kisah dari Laut: Masyarakat Bajau dan Ingatan Kolektifnya.
Dalam paparannya, Erni menegaskan bahwa masyarakat Same-Bajau bukan sekadar komunitas yang memiliki kedekatan dengan laut, tetapi juga mempunyai sejarah, identitas, bahasa, tradisi, pengetahuan dan ingatan kolektif yang diwariskan lintas generasi.
“Bagi masyarakat Bajau, laut tidak hanya menjadi sumber penghidupan. Laut juga merupakan ruang kehidupan, ruang perjalanan, ruang interaksi sosial, sekaligus tempat tersimpannya berbagai pengalaman dan ingatan leluhur,” ungkap Erni.
Ia menjelaskan, pengetahuan masyarakat Bajau mengenai angin, arus, gelombang, pasang surut, musim, perahu hingga lingkungan laut merupakan kekayaan pengetahuan tradisional yang terbentuk melalui pengalaman panjang kehidupan maritim.
Namun, warisan tersebut tidak seluruhnya tersimpan dalam dokumen tertulis. Sebagian besar justru hidup melalui tradisi lisan, bahasa Same, cerita keluarga, praktik budaya serta pengetahuan para tetua.
Karena itu, Erni menilai pendokumentasian menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya masyarakat Bajau agar tidak terputus dari generasi berikutnya.
“Pelestarian warisan budaya Bajau tidak cukup hanya dilakukan melalui penelitian akademis. Masyarakat sebagai pemilik dan pewaris kebudayaan perlu dilibatkan secara langsung dalam proses identifikasi, pendokumentasian, penyimpanan, dan pewarisan pengetahuan,” tegasnya.
Menurut Erni, bahasa Same, cerita leluhur, tradisi lisan, pengetahuan kelautan, sejarah perjalanan antarpulau hingga dokumentasi kehidupan masyarakat merupakan kekayaan budaya yang harus dijaga bersama.
Partisipasi Presiden POSBI dalam forum internasional tersebut menjadi kesempatan memperkenalkan perspektif masyarakat Same-Bajau Indonesia dalam pembahasan pelestarian warisan dokumenter dan memori masyarakat maritim dunia.
Bagi POSBI, pengakuan terhadap masyarakat Bajau tidak hanya berkaitan dengan sejarah kehidupan di laut, tetapi juga penghargaan terhadap identitas, pengetahuan dan kontribusi mereka dalam membentuk peradaban maritim.
Melalui forum UNESCO MOWCAP 2026, Erni berharap suara masyarakat Bajau Indonesia semakin mendapat ruang dalam dialog internasional, sekaligus memperkuat upaya pelestarian warisan budaya untuk generasi mendatang. (Mh)








