• Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy
Senin, 17 Agustus 2026
Kirimi Artikel Yukk  
www.jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
No Result
View All Result
Jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
Home Nusantara Lampung

Akar Lampung Ungkap 125 Temuan Indikasi Korupsi Sepanjang 2025

Redaksi by Redaksi
9 Desember 2025
in Lampung
A A
Share on FacebookShare on Twitter

Bandar Lampung, Jelajah.co – Setiap 9 Desember diperingati sebagai Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia), sebuah momentum yang lahir dari kesadaran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang bahaya korupsi yang merusak tatanan sosial, ekonomi, hingga kesejahteraan publik. Korupsi, yang merupakan penyalahgunaan kekuasaan untuk keuntungan pribadi maupun kelompok, terus menjadi musuh bersama karena dampaknya yang luas, mulai dari penggelapan anggaran hingga memperlambat laju pembangunan dan meningkatkan kemiskinan.

Dalam jumpa pers di sekretariat DPP Akar Lampung, Selasa (09/12/2025), Ketua Akar Lampung Indra Musta’in menegaskan pentingnya peran masyarakat sipil dalam mengawasi jalannya sistem pemerintahan. Menurutnya, pengawasan publik telah memiliki landasan hukum yang kuat, termasuk dalam UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001.

DPP Akar Lampung, yang berdiri sejak 2010, menjadi salah satu lembaga penggiat antikorupsi yang aktif melakukan penyuluhan, pelatihan hingga mengawal program-program pemerintah yang menggunakan anggaran daerah maupun pusat. Indra menjelaskan, berdasarkan Survei Penilaian Integritas (SPI) KPK, Provinsi Lampung menunjukkan capaian positif dengan nilai MCP mencapai skor 80 atau kategori tinggi. Capaian itu menempatkan Pemerintah Provinsi Lampung sebagai salah satu daerah dengan kinerja pencegahan korupsi yang baik secara nasional.

BACA JUGA

Oplus_16908288

Dua Bulan Berjalan, Kuasa Hukum Korban Dugaan Kekerasan Anak Minta Kapolresta Prioritaskan Perkara

14 Agustus 2026

Pasca Pembakaran Fasilitas PT BSA, Wahrul Fauzi Desak ATR/BPN Evaluasi HGU

13 Agustus 2026

Namun, Indra mengingatkan bahwa capaian positif di tingkat provinsi belum diikuti sepenuhnya oleh pemerintah kabupaten/kota. Berdasarkan data survei internal Akar dan referensi SPI KPK, masih banyak daerah yang memperoleh nilai rendah. “Ini menunjukkan perlunya komitmen yang lebih kuat dari daerah dalam digitalisasi layanan dan transparansi. Tantangan terbesar tetap berada pada pengadaan barang dan jasa serta praktik gratifikasi yang angkanya masih tinggi,” tegasnya.

Sekretaris DPP Akar Lampung, Sapriansyah, menambahkan bahwa momentum Hari Antikorupsi harus menjadi semangat bersama lintas sektor dan generasi. “Bangsa ini bisa bebas dari korupsi jika setiap orang mengambil peran, sekecil apa pun,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Litbang DPP Akar Lampung, Andi Munawir, mengungkapkan bahwa sepanjang 2025 pihaknya mencatat sedikitnya 125 temuan indikasi korupsi dari berbagai program pemerintah. Dari jumlah itu, 50 persen berupa penyalahgunaan kebijakan yang tidak sesuai peraturan, 30 persen terkait indikasi gratifikasi, dan 20 persen sisanya menyangkut penggunaan anggaran yang tidak sesuai ketentuan.

“Sebagian hasil penelitian sudah kami teruskan ke lembaga penegak hukum. Sekitar 75 persen telah kami sampaikan ke KPK dan Kejaksaan RI, sementara sisanya ke aparat penegak hukum di daerah,” pungkasnya. (Red).

Previous Post

Dugaan Praktik Jual-Beli Trotoar Jalan PUP, Lurah Jangan Tutup Mata

Next Post

UIN RIL Terima Penghargaan dari Kemenag RI sebagai PPID PTKN Berkinerja Terbaik

Redaksi

Redaksi

Redaksi www.jelajah.co

BERITA POPULER

Warga Muara Malungai Kibarkan Bendera Merah Putih Setengah Tiang, Sampaikan Protes Kondisi Jalan Rusak; PUPR Barsel Turunkan Alat Berat

8 Agustus 2026

Pemkab Barsel Pastikan Gaji PPPK Tetap Aman Ditengah Efisiensi

11 Agustus 2026

213 Pejabat Pemkab Barsel Dilantik, 111 Promosi dan 55 Mutasi

12 Agustus 2026

Haru! Nenek 91 Tahun Hadiri Upacara 17 Agustus 2026, Didampingi Bupati dan Wakil Bupati Barsel

17 Agustus 2026

Ketua LPLHN Kalimantan Tengah Nanang Suhaimi Meninggal Dunia

18 Juli 2026

7 Bulan Hak Belum Dibayar, Eks Karyawan Tahan Unit Hauling Batubara di Barito Selatan

20 Juli 2026
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.