• Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy
Selasa, 6 Oktober 2026
Kirimi Artikel Yukk  
www.jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
No Result
View All Result
Jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
Home Nusantara Lampung

Banjir Bandar Lampung: Potret Buram Pemimpin yang Sibuk Cuci Tangan

Redaksi by Redaksi
18 Januari 2025
in Lampung, Pemerintahan
A A
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ketua Bidang Advokasi, HAM, dan Lingkungan Hidup PMII Bandar Lampung, Dicko Kurniawan

Bandarlampung, Jelajah.co – Banjir bandang yang melanda Bandar Lampung bukan hanya bencana alam, tetapi juga potret kegagalan kepemimpinan di tingkat daerah. Di tengah penderitaan rakyat, para pejabat justru sibuk melempar tanggung jawab, seakan berlomba mencari kambing hitam.

Sebagai ibu kota provinsi, Bandar Lampung menjadi saksi ketidakmampuan pemerintah daerah dalam merespons krisis ini. Penjabat (Pj) Gubernur Lampung, Samsudin, terlihat absen dari percakapan publik. DPRD Provinsi Lampung pun ikut bungkam. Sementara itu, Walikota Eva Dwiana, meskipun memikul tanggung jawab besar, terlihat kewalahan menyelesaikan persoalan ini sendirian.

BACA JUGA

Dewi Pertiwi Lampung Perkuat Struktur hingga Daerah, Gandeng PSI sebagai Mitra Strategis

5 Oktober 2026

Afrizal Rangkul Pengelola Rumah Biliar, POBSI Bandar Lampung Susun Kepengurusan 2026–2030

5 Oktober 2026

Bencana ini mencerminkan kegagalan kolektif yang lahir dari budaya politik saling menyalahkan. Penjabat gubernur dan DPRD seakan nyaman membiarkan persoalan banjir hanya dianggap urusan kota. Padahal, buruknya tata kelola lingkungan di Lampung adalah akumulasi dari kebijakan yang tidak berpihak pada pelestarian lingkungan.

Ketika masyarakat membutuhkan solusi nyata, yang muncul hanyalah sikap abai dan retorika kosong. Tidak ada langkah konkret untuk memperbaiki infrastruktur, memperkuat mitigasi bencana, atau bahkan sekadar menenangkan warga dengan kebijakan strategis. Gubernur dan DPRD, yang seharusnya memimpin koordinasi, lebih memilih menjadi penonton dalam drama ini.

Di sisi lain, tanggung jawab Walikota Eva Dwiana juga tidak bisa diabaikan. Sebagai pemimpin kota, ia harus bertindak tegas terhadap permasalahan tata ruang, pengelolaan sampah, dan drainase. Program-program yang hanya sekadar janji harus segera diwujudkan. Jika tidak, banjir akan menjadi “tradisi” tahunan bagi warga Bandar Lampung.

Namun, pola yang berulang tetap sama: rakyat menderita, pejabat cuci tangan. Banjir ini harus menjadi momen evaluasi besar-besaran, bukan hanya peristiwa yang berlalu dengan janji tanpa bukti. Bandar Lampung membutuhkan pemimpin yang berani mengambil tanggung jawab, bukan yang sibuk mencari aman.

Warga Lampung sudah cukup lama menanggung beban akibat ketidakbecusan para pejabatnya. Jika tidak ada perubahan dalam cara pemerintah daerah menangani masalah ini, banjir bukan lagi sekadar bencana alam, melainkan simbol kegagalan kolektif kepemimpinan di Lampung. (Red)

Previous Post

Gepak Lampung Pertanyakan Keberadaan Pj Gubernur Dua Hari Pasca Bencana Banjir

Next Post

PMII PKC Lampung: Banjir Gagal Diatasi Akibat Buruknya Tata Kelola Lingkungan Dan Kelalaian Pemerintah

Redaksi

Redaksi

Redaksi www.jelajah.co

BERITA POPULER

Barsel Expo 19–25 September Didukung Pihak Ketiga, Slank Dijadwalkan Tampil

14 September 2026

Wabup Khristianto Yudha Tegaskan Penegakan Disiplin ASN di Pemkab Barsel

7 September 2026

PMI Asal Barito Selatan Dipulangkan dari Malaysia, BP3MI Ingatkan Warga Hindari Agen Ilegal

2 Oktober 2026

ASN Barsel Diminta Segera Pindah KTP, BKPSDM Ingatkan Batas Akhir Oktober

4 Oktober 2026

Membanggakan! Siswi SMAN 1 Buntok Tembus Final Nasional AVIMSA, Wakili Kalteng ke Banjarmasin

24 September 2026

Dua Staf Bawaslu Mesuji Diamankan Polisi di Tubaba, PAJAN Desak Bawaslu Terbuka

2 Oktober 2026
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.