BOGOR, Jelajah.co – Festival Film Jelek Vol. 2 bertajuk “Bertamasya” digelar di kawasan Cafe Dieu Geura, Kota Bogor, Sabtu (11/7/2026). Kegiatan ini menjadi ruang alternatif bagi sineas independen untuk menampilkan karya, bertukar gagasan, sekaligus memperkuat ekosistem perfilman yang inklusif dan terbuka.
Mengusung konsep yang unik, festival tersebut mengajak masyarakat memandang dunia perfilman dari perspektif berbeda. Istilah “Film Jelek” bukan dimaksudkan sebagai penilaian terhadap kualitas karya, melainkan satire yang menegaskan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berkarya, dan berkembang tanpa harus takut gagal.
Festival Director sekaligus penyelenggara, Juan Hendri, mengatakan penyelenggaraan tahun ini merupakan edisi kedua sekaligus bagian dari persiapan menuju Festival Film Jelek Vol. 3. Konsep “Bertamasya” dirancang sebagai gerakan budaya yang akan berkeliling ke berbagai daerah untuk membuka ruang kreatif bagi komunitas perfilman.
“Festival kali ini merupakan perjalanan kami menuju Festival Film Jelek Vol. 3. Kami ingin membawa konsep ‘Bertamasya’ ke berbagai kota di Indonesia agar semakin banyak ruang perjumpaan, kolaborasi, dan keberanian bagi siapa saja yang ingin berkarya,” ujar Juan.
Menurutnya, festival ini lahir dari keprihatinan terhadap kondisi perfilman nasional yang dinilai semakin berorientasi pada standar komersial. Karena itu, pihaknya ingin menghadirkan wadah bagi para kreator untuk tetap berkarya tanpa terbebani stigma maupun tuntutan industri.
Juan juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung penyelenggaraan festival, mulai dari Komunitas Bahasinema, Anamorfilm, Radio Ardan, Nobiplay, media partner, relawan, hingga berbagai komunitas seni yang ikut menjaga semangat perfilman independen.
Sebagai tamu kehormatan, Dewan Pembina Rumah Hebat Nusantara, Cakranegara, menilai festival tersebut menjadi ruang penting bagi lahirnya sineas-sineas muda Indonesia.
“Jangan pernah takut disebut belum sempurna. Semua karya besar lahir dari proses panjang. Festival ini mengajarkan bahwa keberanian untuk berkarya jauh lebih penting daripada rasa takut terhadap kritik,” katanya.
Hal senada disampaikan sutradara film Lord Rangga VS Titan, Sigit Pradityo. Ia menegaskan Festival Film Jelek dibangun atas semangat kolaborasi lintas komunitas dan menjadi ruang belajar terbuka bagi siapa pun yang mencintai dunia perfilman.
“Festival ini bukan tentang siapa yang paling hebat, tetapi siapa yang berani memulai. Kami ingin membangun ekosistem perfilman independen yang sehat, inklusif, dan menjunjung tinggi nilai-nilai budaya Indonesia,” ujarnya.
Selain menjadi ajang pemutaran karya, Festival Film Jelek Vol. 2 juga menjadi wadah diskusi, jejaring antarkomunitas, serta penguatan literasi visual bagi masyarakat. Kehadiran berbagai komunitas kreatif menunjukkan bahwa perkembangan perfilman independen tidak hanya bertumpu pada industri, tetapi juga lahir dari semangat kolaborasi dan gotong royong.
Penyelenggaraan festival ini sejalan dengan semangat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman, yang mendorong tumbuhnya kreativitas, kebebasan berekspresi, serta penguatan budaya nasional melalui karya-karya perfilman.
Melalui Festival Film Jelek Vol. 2 “Bertamasya”, penyelenggara berharap semakin banyak ruang bagi sineas muda untuk berkarya, belajar, dan membangun perfilman Indonesia yang kreatif, berdaya saing, serta tetap berakar pada nilai-nilai budaya bangsa. (Red)








