• Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy
Senin, 2 November 2026
Kirimi Artikel Yukk  
www.jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
No Result
View All Result
Jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
Home Sudut Pandang

Ketika “Gadis Cantik” Lampung Bersolek dengan Investasi Triliunan

Redaksi by Redaksi
25 Januari 2026
in Sudut Pandang
A A
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Amri Alfarisi
(Pengurus Karang Taruna Kabupaten Lampung Selatan)
​
Bakauheni di awal 2026 bukan lagi dermaga yang hanya menawarkan bau solar dan parau klakson kapal. Di bawah bayang-bayang Menara Siger, sebuah “Gadis Cantik” bernama Bakauheni Harbour City (BHC) kini bersolek dengan gincu investasi triliunan rupiah. Namun, sebagai penghuni rumah yang jendelanya menghadap langsung ke Selat Sunda, kita tak boleh hanya terpana pada kemilau bedak Krakatau Park. Di balik beton yang kian menjulang, ada satu tanya yang harus terus kita gaungkan: seberapa jernih aliran transparansi di tengah estafet nakhoda yang baru saja berganti?

​Membahas masa depan BHC tanpa mengakui fondasi yang diletakkan oleh Ira Puspadewi adalah sebuah kekeliruan sejarah. Visi besar investasi senilai Rp4,7 triliun (proyeksi hingga 2061) adalah angka yang dipublikasikan secara konsisten sejak era kepemimpinan beliau. Kita mencatat komitmen itu dalam Media Gathering di Jakarta pada 27 September 2023, hingga penegasan kembali di Press Tour Lampung pada 13 Juni 2024.

​Bahkan, modal awal Fase 1 sebesar Rp1 triliun yang dipaparkan Menteri BUMN Erick Thohir di Menara Siger pada 16 Oktober 2021, adalah bukti konkret dari perencanaan matang di masa itu. Fakta bahwa negara akhirnya memberikan rehabilitasi dan memulihkan nama baik Ibu Ira per 28 November 2025 menjadi penegar bagi publik: bahwa pondasi BHC dibangun di atas integritas yang kini telah divalidasi oleh keadilan tertinggi.

BACA JUGA

RSPTN Harus Menjadi Pusat Kesehatan, Riset, dan Pendapatan Unila

2 November 2026

Pilrek Unila 2027–2031: Jangan Loloskan Dokumen Tanpa Verifikasi

29 September 2026
​Ujian Transparansi bagi Sang Pelamar Baru

​Kini, tongkat estafet berada di tangan Heru Widodo sebagai Direktur Utama ASDP yang baru sejak akhir 2024. Dengan pulihnya marwah kepemimpinan awal, maka beban moral untuk menjaga kebersihan proyek ini berpindah sepenuhnya ke pundak Heru. Tantangannya besar: Apakah ia mampu menjaga standar transparansi yang telah diletakkan, atau justru terjebak dalam pola-pola lama yang tertutup?

​Kita mulai melihat pengerjaan Fase 1B (2026-2030) yang mencakup pembangunan hotel mewah dan distrik komersial. Mengingat BHC dikelola melalui Joint Venture Company (JVCo), celah untuk melakukan penunjukan mitra secara “diam-diam” tanpa lelang terbuka adalah risiko nyata. Jika proses penunjukan rekanan tetap didominasi oleh lingkaran terbatas, terlebih dengan penawaran harga yang hanya turun tipis (0,5% – 1%) dari pagu maka integritas pembangunan ini layak menjadi catatan kritis kita bersama.
​
Amanah Umat di Tengah “Solekan” Megah

​Salah satu titik kritis yang paling menyentuh rasa keadilan publik adalah Masjid Agung Al-Fatih. Masjid megah ini dibangun dengan dana Rp38 miliar, di mana Rp34 miliar di antaranya berasal dari dana nasabah BSI (Wakaf & Infaq). Ini bukan sekadar uang korporasi; ini adalah amanah umat.

​Dirut Heru Widodo memikul tanggung jawab moral yang besar untuk menjamin bahwa setiap rupiah dari dana sosial ini tidak menguap dalam inefisiensi pengerjaan oleh sub-kontraktor “titipan”. Rakyat Lampung kini hanya bisa menanti, apakah nakhoda baru ASDP berani membuka data vendor secara transparan dan melibatkan pengusaha lokal secara adil, atau justru membiarkan “Gadis Cantik” ini menjadi ladang prasmanan baru di tengah pondasi kokoh yang sudah susah payah dipulihkan kehormatannya oleh negara?

(Artikel ini Tayang di Jelajah.co setelah proses editing tanpa merubah makna dan tujuan dari penulisan)

Previous Post

Pompa Rusak Dua Tahun, Pemda Abai: Banjir Rendam Gedung Partai dan 50 KK di Bekasi

Next Post

E-Paper Jelajah, Edisi 26 Januari 2026

Redaksi

Redaksi

Redaksi www.jelajah.co

BERITA POPULER

ASN Barsel Diminta Segera Pindah KTP, BKPSDM Ingatkan Batas Akhir Oktober

4 Oktober 2026

Tapis dan Piil Pesenggiri: Menjahit Masa Lalu untuk Masa Depan Lampung

11 Agustus 2025

UIN RIL Nobatkan Duta Raden Intan 2026

2 Mei 2026

Berkedok Wahana Anak, Gelper di Batam Diduga Jadi Arena Judi

13 Maret 2026

Mengenal Fathan Subchi, Dari Anggota DPR RI Hingga BPK RI

24 Februari 2025

Dua Staf Bawaslu Mesuji Diamankan Polisi di Tubaba, PAJAN Desak Bawaslu Terbuka

2 Oktober 2026
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.