Tulang Bawang Barat, Jelajah.co– Pasar, bagi rakyat kecil, bukan sekadar tempat jual beli. Ia adalah denyut nadi ekonomi, tempat harapan digantungkan saban hari. Tapi di Pasar Pulung Kencana, denyut itu mendadak terguncang. Bukan oleh harga cabai yang naik, melainkan oleh ulah orang dalam yang diduga merampas uang rakyat secara diam-diam.
Adalah Ayu Risha Amarta (AR), staf keuangan pasar, yang kini ditahan oleh Kejaksaan Negeri Tulang Bawang Barat. Perempuan ini ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengelolaan keuangan pasar tahun anggaran 2022.
Ironisnya, peran AR bukan sekadar staf biasa. Ia punya akses pada alur keluar-masuknya dana, dan dari sanalah skandal ini diduga bermula. Sejumlah bukti yang dikantongi kejaksaan mengindikasikan adanya penyelewengan keuangan yang nilainya tak main-main—lebih dari satu miliar rupiah.
Penahanan dilakukan pada Kamis, 10 April 2025, berdasarkan dua surat resmi dari Kejari Tubaba. Ia akan mendekam di Rutan Kelas IIB Menggala selama 20 hari ke depan, menyusul proses penyidikan yang kini tengah berjalan.
Kepala Kejari Tubaba, Mochamad Iqbal, SH., MH., menegaskan bahwa kasus ini adalah bentuk keseriusan pihaknya dalam membasmi korupsi dari akar paling dalam.
“Kami tidak main-main. Ada bukti kuat bahwa uang negara tidak digunakan sebagaimana mestinya,” tegas Iqbal.
Skema korupsinya masih dalam pendalaman, namun sorotan publik sudah mengarah pada sistem pengawasan yang diduga lemah. Pasar yang seharusnya jadi pusat perputaran ekonomi rakyat, malah dijadikan “ATM pribadi” oleh oknum yang diberi kepercayaan.
Masyarakat menyebut ini sebagai pengkhianatan. Di tengah kesulitan ekonomi, di saat pedagang pasar harus menakar untung dengan cermat, justru ada yang tega menggunting di lipatan, memanfaatkan jabatan untuk keuntungan sendiri.
Kini, semua mata tertuju pada Kejari Tubaba. Proses hukum tengah berjalan, tapi masyarakat berharap lebih dari sekadar penahanan. Mereka ingin ada pengembalian kerugian, perbaikan sistem, dan yang terpenting: efek jera.
Sebab kalau pasar saja bisa dibobol dari dalam, siapa lagi yang bisa dipercaya menjaga uang rakyat? (Red)








