• Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy
Rabu, 4 Februari 2026
Kirimi Artikel Yukk  
www.jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
No Result
View All Result
Jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
Home Sudut Pandang

TANGIS TANAH YANG TERBENAM: RAKYAT BANDAR LAMPUNG BANGKIT DEMI LINGKUNGAN

Redaksi by Redaksi
2 Mei 2025
in Sudut Pandang
A A
A. Zahriansyah A.MA

A. Zahriansyah A.MA

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: A. Zahriansyah

Bandar Lampung, Jelajah.co — Terik matahari tak sanggup mengikis semangat ratusan warga yang memadati ruas jalan protokol. Mereka berjalan pelan, tetapi suara mereka mengguncang kota. Dari atas mobil komando, lantang seorang pria berseru lewat pengeras suara, menyayat keheningan:

“Kami di sini bukan sekadar korban. Kami adalah saksi dari kota yang kian tenggelam karena keserakahan!” (02/05/25).

BACA JUGA

Cut habibi (Sekretaris DPD AWPI Provinsi Lampung)

Makan Gratis dan Tanggung Jawab yang Selalu Menguap

3 Februari 2026
Cut habibi (Sekretaris DPD AWPI Provinsi Lampung)

Ketika Ela “Mengelak”

1 Februari 2026

Itulah suara Yudis, orator utama dari Aliansi Masyarakat Korban Banjir Bandar Lampung. Dengan tangan menggenggam megafon dan mata tajam menatap gedung Pemerintah Kota, ia berbicara bukan hanya atas nama dirinya—melainkan ribuan keluarga yang rumahnya terendam, tanahnya terkikis, dan harapannya nyaris punah.

“Kami menuntut bukan untuk diri kami sendiri, tapi untuk anak-anak kami yang mungkin tak akan kenal lagi arti musim kemarau—karena kota ini terus basah oleh banjir!” (02/05/25)

Dengan tema “Demi Masa Depan Anak Cucu Kita!”, aksi damai ini menjadi perwujudan jeritan panjang dari luka lingkungan yang tak kunjung sembuh. Warga tak sekadar meminta—mereka menagih tanggung jawab.

Ada tiga tuntutan utama yang mereka suarakan:

1. Hentikan penambangan liar dan penggundulan bukit yang mempercepat bencana.

2. Tertibkan para pengembang rakus yang mengubah zona hijau menjadi ladang bisnis.

3. Libatkan rakyat dalam pengambilan keputusan, karena mereka yang paling tahu rasa kehilangan.

Berbagai simbol perlawanan turut dibawa. Sepatu berlumpur, foto rumah yang hanyut, hingga botol berisi air banjir keruh. Semua menjadi penanda luka yang belum mengering. Sukadanaham disebut sebagai contoh nyata: dulunya hijau dan meneduhkan, kini tercekik beton.

“Kami bukan ahli kebijakan, tapi kami tahu kapan bumi butuh istirahat. Bandar Lampung sudah terlalu lama dieksploitasi,” seru Yudis, disambut sorak massa.
“Kalau hari ini kita diam, besok anak-anak kita berenang bukan di kolam, tapi di ruang tamu rumah mereka sendiri!” (02/05/25).

Massa tetap memberi apresiasi atas respons cepat Wali Kota Eva Dwiana saat bencana datang. Namun mereka ingin lebih dari sekadar kehadiran saat kamera menyala. Yang dibutuhkan adalah pemimpin yang hadir sebelum bencana, bukan hanya sesudahnya.

 

Aksi ditutup dengan pembacaan dan penyerahan petisi di depan Kantor Wali Kota. Di sana, ratusan suara bersatu dalam janji: ini bukan akhir. Ini awal dari perjuangan panjang menyelamatkan kota.

Karena bagi mereka, menyelamatkan lingkungan bukanlah pilihan. Itu kewajiban. (*)

Previous Post

Pemkot Balam Rawat Bayi Laki-Laki Ditemukan Tergeletak di Bumi Kedamaian

Next Post

Pasca Banjir Bandarlampung: Dari Aksi Massa hingga Kesadaran Jaga Lingkungan

Redaksi

Redaksi

Redaksi www.jelajah.co

BERITA POPULER

Parkiran Apartemen Tokyo PIK 2 Terendam Banjir, Klaim ‘Anti Banjir’ Jebol Bikin Saham PANI Anjlok Hampir 6 Persen

13 Januari 2026

Serukan Penolakan BUP Luar, Warga Adat Kalahien Gelar Aksi di Jembatan Barito: “Kami Siap Melawan”

19 Januari 2026

Dinda Ghania Selebritas Cantik Putri Senator Senior Punya Segudang Prestasi

30 November 2025

‎Lebih dari 980 Eks Karyawan KB Bank Protes Hak PHK yang Belum Tuntas ‎ ‎

24 Desember 2025

Hampir Setahun Memimpin, Aktivis Nilai Kinerja Bupati Lampung Utara Jauh dari Janji Kampanye

12 Januari 2026

Bersinergi dengan Honda, Karang Taruna Way Urang Gelar Servis Motor Gratis

2 Februari 2026
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.