• Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy
Minggu, 6 September 2026
Kirimi Artikel Yukk  
www.jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
No Result
View All Result
Jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
Home Sudut Pandang

TANGIS TANAH YANG TERBENAM: RAKYAT BANDAR LAMPUNG BANGKIT DEMI LINGKUNGAN

Redaksi by Redaksi
2 Mei 2025
in Sudut Pandang
A A
A. Zahriansyah A.MA

A. Zahriansyah A.MA

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: A. Zahriansyah

Bandar Lampung, Jelajah.co — Terik matahari tak sanggup mengikis semangat ratusan warga yang memadati ruas jalan protokol. Mereka berjalan pelan, tetapi suara mereka mengguncang kota. Dari atas mobil komando, lantang seorang pria berseru lewat pengeras suara, menyayat keheningan:

“Kami di sini bukan sekadar korban. Kami adalah saksi dari kota yang kian tenggelam karena keserakahan!” (02/05/25).

BACA JUGA

Register 44: Panen Tebu, Labirin Kepentingan dan Negara yang Seakan Tersesat

3 September 2026

Bila Pemimpinnya di Langit, Rakyatnya di Bumi, dan Programnya di Awang-Awang

2 September 2026

Itulah suara Yudis, orator utama dari Aliansi Masyarakat Korban Banjir Bandar Lampung. Dengan tangan menggenggam megafon dan mata tajam menatap gedung Pemerintah Kota, ia berbicara bukan hanya atas nama dirinya—melainkan ribuan keluarga yang rumahnya terendam, tanahnya terkikis, dan harapannya nyaris punah.

“Kami menuntut bukan untuk diri kami sendiri, tapi untuk anak-anak kami yang mungkin tak akan kenal lagi arti musim kemarau—karena kota ini terus basah oleh banjir!” (02/05/25)

Dengan tema “Demi Masa Depan Anak Cucu Kita!”, aksi damai ini menjadi perwujudan jeritan panjang dari luka lingkungan yang tak kunjung sembuh. Warga tak sekadar meminta—mereka menagih tanggung jawab.

Ada tiga tuntutan utama yang mereka suarakan:

1. Hentikan penambangan liar dan penggundulan bukit yang mempercepat bencana.

2. Tertibkan para pengembang rakus yang mengubah zona hijau menjadi ladang bisnis.

3. Libatkan rakyat dalam pengambilan keputusan, karena mereka yang paling tahu rasa kehilangan.

Berbagai simbol perlawanan turut dibawa. Sepatu berlumpur, foto rumah yang hanyut, hingga botol berisi air banjir keruh. Semua menjadi penanda luka yang belum mengering. Sukadanaham disebut sebagai contoh nyata: dulunya hijau dan meneduhkan, kini tercekik beton.

“Kami bukan ahli kebijakan, tapi kami tahu kapan bumi butuh istirahat. Bandar Lampung sudah terlalu lama dieksploitasi,” seru Yudis, disambut sorak massa.
“Kalau hari ini kita diam, besok anak-anak kita berenang bukan di kolam, tapi di ruang tamu rumah mereka sendiri!” (02/05/25).

Massa tetap memberi apresiasi atas respons cepat Wali Kota Eva Dwiana saat bencana datang. Namun mereka ingin lebih dari sekadar kehadiran saat kamera menyala. Yang dibutuhkan adalah pemimpin yang hadir sebelum bencana, bukan hanya sesudahnya.

 

Aksi ditutup dengan pembacaan dan penyerahan petisi di depan Kantor Wali Kota. Di sana, ratusan suara bersatu dalam janji: ini bukan akhir. Ini awal dari perjuangan panjang menyelamatkan kota.

Karena bagi mereka, menyelamatkan lingkungan bukanlah pilihan. Itu kewajiban. (*)

Previous Post

Pemkot Balam Rawat Bayi Laki-Laki Ditemukan Tergeletak di Bumi Kedamaian

Next Post

Pasca Banjir Bandarlampung: Dari Aksi Massa hingga Kesadaran Jaga Lingkungan

Redaksi

Redaksi

Redaksi www.jelajah.co

BERITA POPULER

Warga Muara Malungai Kibarkan Bendera Merah Putih Setengah Tiang, Sampaikan Protes Kondisi Jalan Rusak; PUPR Barsel Turunkan Alat Berat

8 Agustus 2026

Pemkab Barsel Pastikan Gaji PPPK Tetap Aman Ditengah Efisiensi

11 Agustus 2026

213 Pejabat Pemkab Barsel Dilantik, 111 Promosi dan 55 Mutasi

12 Agustus 2026

Haru! Nenek 91 Tahun Hadiri Upacara 17 Agustus 2026, Didampingi Bupati dan Wakil Bupati Barsel

17 Agustus 2026

Polemik Tambang Emas Way Kanan, Andi Surya Siap Fasilitasi Tambang Rakyat Dilegalkan: WPR Jadi Kunci

18 Agustus 2026

Wabup Barsel Resmikan Resort GKE Kamatang Pamelum Buntok

29 Agustus 2026
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.