• Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy
Jumat, 30 Oktober 2026
Kirimi Artikel Yukk  
www.jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
No Result
View All Result
Jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
Home Nusantara Lampung

Mediasi Warga Hajimena dengan CV Alam Prima Terpadu Berlangsung Alot: DLH Minta Pabrik Tak Lagi Ulur Perbaikan

Redaksi by Redaksi
10 September 2026
in Lampung
A A
Oplus_16908288

Oplus_16908288

Share on FacebookShare on Twitter

LAMPUNG SELATAN, Jelajah.co – Polemik aktivitas pabrik karpet telur CV Alam Prima Terpadu dengan warga Perumahan Hajimena Garden kembali memasuki babak baru. Pemerintah Desa Hajimena memfasilitasi mediasi antara warga dan pihak perusahaan di Kantor Desa Hajimena, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, Kamis (10/9/2026).

Mediasi yang diinisiasi Kepala Desa Hajimena, Suhaimi, tersebut dihadiri perwakilan Kecamatan Natar, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lampung Selatan, DPMPTSP Lampung Selatan, Satpol PP, BPD Desa Hajimena, Babinsa, perangkat dusun dan RT, pihak CV Alam Prima Terpadu, serta perwakilan warga.

Empat warga yang hadir mewakili masyarakat yakni Rohman, Rosyid, Angga, dan Cut Habibi.

BACA JUGA

AWPI Metro Dukung FUADIC Fest 2026, 238 Peserta Unjuk Potensi di Sembilan Cabang Lomba

29 Oktober 2026
Oplus_19005440

ALAM BAKA Tagih Penjelasan Rp82,5 Miliar Anggaran, Wali Kota Bandar Lampung Bungkam

28 Oktober 2026

Namun mediasi berlangsung cukup panjang. Pemilik perusahaan maupun pihak yang memiliki kewenangan penuh mengambil kebijakan tidak hadir. CV Alam Prima Terpadu hanya diwakili kepala pabrik, sehingga sejumlah pembahasan dan keputusan harus lebih dahulu dikonsultasikan melalui telepon kepada atasannya.

Dalam forum tersebut, Cut Habibi menyampaikan berbagai keluhan yang selama ini dirasakan warga akibat aktivitas produksi pabrik, mulai dari bau, debu, asap hingga getaran.

Habibi juga mempertanyakan proses terbitnya izin lingkungan perusahaan.

Menurut dia, tidak ada satu pun tanda tangan warga Perumahan Hajimena Garden yang dilibatkan dalam proses tersebut. Persoalan itu diminta untuk mendapat penjelasan karena warga merupakan kelompok yang tinggal berdekatan dan merasakan langsung dampak aktivitas pabrik.

Ia juga mengingatkan pihak perusahaan agar tidak kembali sekadar menyampaikan kesanggupan tanpa diikuti pelaksanaan nyata di lapangan.

Menurut Habibi, pola tersebut sudah berulang. Perusahaan sebelumnya menyampaikan akan memasang blower dan peredam sebagai langkah mengurangi dampak produksi, namun hingga DLH Kabupaten Lampung Selatan turun melakukan pemeriksaan, rencana pemasangan blower dan peredam itu masih kembali menjadi janji yang sama.

Karena itu, warga meminta setiap komitmen yang disampaikan dalam mediasi kali ini memiliki batas waktu yang jelas dan benar-benar direalisasikan.

Perwakilan DLH Kabupaten Lampung Selatan, Rudi, turut memberikan penekanan kepada pihak perusahaan agar tidak lagi mengulur waktu dalam melakukan perbaikan.

Ia meminta CV Alam Prima Terpadu segera menjalankan langkah teknis sesuai tenggat waktu yang telah ditentukan. DLH juga menyarankan pihak pabrik melakukan studi banding ke perusahaan sejenis yang telah mampu menjalankan kegiatan produksi tanpa menimbulkan gangguan bau terhadap lingkungan sekitar.

Mediasi tersebut kemudian menghasilkan berita acara tertulis yang ditandatangani perwakilan warga dan pihak CV Alam Prima Terpadu.

Dalam berita acara, jam operasional CV Alam Prima Terpadu disepakati mulai pukul 08.00 WIB hingga maksimal pukul 17.00 WIB.

Perusahaan juga diwajibkan melakukan sejumlah perbaikan teknis berupa pemasangan waring pada sumber debu, pemasangan penutup kolam bubur, serta pemasangan peredam pada mesin press.

Seluruh perbaikan tersebut diberikan tenggat waktu satu minggu sejak berita acara ditandatangani. Langkah itu disebut untuk menanggulangi polusi debu, asap, getaran dan bau yang timbul akibat aktivitas produksi pabrik.

Selain perbaikan teknis, CV Alam Prima Terpadu diwajibkan melakukan pengujian laboratorium guna mengetahui ambang batas aman polusi yang timbul akibat kegiatan pabrik. Proses pengujian tersebut dijadwalkan mulai dilakukan minimal satu minggu sejak berita acara ditandatangani.

Dalam pelaksanaan perbaikan, perusahaan juga diwajibkan melibatkan perwakilan masyarakat dalam prosesnya.

Kesepakatan terakhir bahkan memuat konsekuensi bagi perusahaan. Apabila CV Alam Prima Terpadu tidak mampu memenuhi kesepakatan pada poin pertama hingga keempat, pihak perusahaan menyatakan siap menghentikan operasional sementara sampai seluruh poin kesepakatan dipenuhi.

Berita acara tersebut ditandatangani Cut Habibi sebagai perwakilan warga dan Ahmat Nursodik mewakili CV Alam Prima Terpadu, serta diketahui unsur pemerintah dan instansi yang hadir dalam mediasi.

Dengan ditandatanganinya kesepakatan tersebut, warga kini menunggu realisasi nyata dari CV Alam Prima Terpadu. Tenggat satu minggu menjadi ujian pertama apakah persoalan bau, debu, asap dan getaran yang selama ini dikeluhkan masyarakat benar-benar ditangani atau kembali berhenti pada janji.

Bagi warga Hajimena Garden, persoalannya bukan lagi sebatas kesanggupan di meja mediasi, melainkan pelaksanaan konkret di lapangan. (Red)

Previous Post

Antrean BBM Mengular di Palangka Raya, Wapres Gibran Minta Stok dan Distribusi Dicek

Next Post

Jalan Bumi Jawa–Tanjung Kesuma Retak, Proyek Rp61,7 Miliar Dipertanyakan

Redaksi

Redaksi

Redaksi www.jelajah.co

BERITA POPULER

ASN Barsel Diminta Segera Pindah KTP, BKPSDM Ingatkan Batas Akhir Oktober

4 Oktober 2026

PMI Asal Barito Selatan Dipulangkan dari Malaysia, BP3MI Ingatkan Warga Hindari Agen Ilegal

2 Oktober 2026

Dua Staf Bawaslu Mesuji Diamankan Polisi di Tubaba, PAJAN Desak Bawaslu Terbuka

2 Oktober 2026

Pencarian Berakhir Duka, Rehan 13 Tahun Ditemukan Meninggal di Gosong Iring Witu Buntok

1 Oktober 2026

Tapis dan Piil Pesenggiri: Menjahit Masa Lalu untuk Masa Depan Lampung

11 Agustus 2025

Berkedok Wahana Anak, Gelper di Batam Diduga Jadi Arena Judi

13 Maret 2026
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.