BARITO SELATAN, Jelajah.co — Balai Adat “Isa Tunun Ganap Langgar” di Desa Tamparak, Kecamatan Dusun Utara, Kabupaten Barito Selatan, resmi diresmikan, Jumat (28/8/2026).
Balai adat tersebut dibangun sebagai ruang bersama untuk pelaksanaan kegiatan adat, budaya, musyawarah masyarakat serta pelestarian kearifan lokal Dayak Maanyan.
Peresmian dilakukan Camat Dusun Utara Hadrianus didampingi unsur Polsek Dusun Utara, Koramil Dusun Utara, Pendamping Desa Dusun Utara Boy Anom dan Kepala Desa Tamparak Repelita.
Kegiatan turut dihadiri Badan Permusyawaratan Desa (BPD), penghulu adat, mantir dan pemangku adat, tokoh masyarakat, tokoh agama serta warga Desa Tamparak.
Hadrianus mengapresiasi keberadaan Balai Adat “Isa Tunun Ganap Langgar” dan berharap fasilitas tersebut dapat menjadi pusat kegiatan adat dan budaya masyarakat.
“Balai adat ini bukan hanya sebuah bangunan, tetapi rumah pelestarian adat dan budaya. Saya berharap dari Desa Tamparak lahir sanggar-sanggar baru yang mampu menjaga dan mengembangkan budaya Dayak Maanyan,” ujar Hadrianus.
Ia mengatakan keberlanjutan fungsi balai adat membutuhkan keterlibatan masyarakat agar bangunan tersebut tidak hanya digunakan pada kegiatan tertentu, tetapi terus dihidupkan melalui berbagai aktivitas adat, budaya dan kemasyarakatan.
Menurutnya, balai adat juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang musyawarah, penyelesaian sengketa adat serta memperkuat keharmonisan dan keamanan di lingkungan masyarakat.
Kepala Desa Tamparak Repelita menyampaikan apresiasi kepada masyarakat dan seluruh pihak yang telah mendukung pembangunan hingga peresmian balai adat tersebut.
Ia berharap Balai Adat “Isa Tunun Ganap Langgar” dapat dimanfaatkan secara maksimal sebagai tempat kegiatan adat, budaya, musyawarah serta kegiatan sosial masyarakat lainnya.
Penghulu Adat Desa Tamparak, Sunandi atau Dele, juga menyampaikan rasa syukur atas peresmian tersebut.
Ia berharap keberadaan balai adat dapat membantu menjaga tradisi yang diwariskan leluhur sekaligus menjadi sarana bagi generasi muda untuk mengenal budaya Dayak Maanyan.
Usai peresmian, kegiatan dilanjutkan dengan rangkaian ritual adat Belian yang terdiri dari empat pelaksanaan.
Pada malam harinya, rangkaian kegiatan diteruskan dengan prosesi Nuku yang dijadwalkan berlangsung hingga 5 September 2026.
Ketua panitia Rasunito menyampaikan terima kasih kepada pemerintah kecamatan, pemerintah desa, BPD, lembaga adat, tokoh masyarakat, tokoh agama serta seluruh masyarakat yang mendukung kegiatan tersebut.
Keberadaan Balai Adat “Isa Tunun Ganap Langgar” diharapkan menjadi ruang bersama untuk menjaga tradisi, memperkuat kebersamaan serta meneruskan nilai budaya Dayak Maanyan kepada generasi berikutnya. (Abeh)








